Butuh Kolaborasi Orang Tua dan Kampus dalam Membangun Karakter Anak

Hidupgaya – Anak adalah aset bangsa. Hal ini juga berlaku bagi mahasiswa yang tengah menempuh pendidikan di perguruan tinggi. Karakternya menjadi perhatian penting, karena akan sangat menentukan bagaimana kelak bangsa ini akan dibawa.

“Bila para pemudanya memiliki karakter sesuai yang dibutuhkan, maka bisa diharapkan bangsa Indonesia akan berjalan ke arah yang benar,” beber Prof Dr Ir Meta Mahendradatta, MSc, Guru Besar Jurusan Teknologi Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Hasanudin, Makassar, dalam Nina Nugroho Solution live Instagram melalui akun @ninanugrohostore.

Saat ini sudah mulai terasa adanya pergeseran etika di kalangan mahasiswa, yang bagi sementara kalangan cukup memprihatinkan. Banyak kaum muda yang duduk di bangku kuliah tidak memahami bagaimana harus menjalin komunikasi yang etis dengan dosennya. “Banyak yang berkomunikasi dengan dosen seperti dengan teman sendiri. Miskin etika, terutama dalam pembicaraan menggunakan percakapan teks di ponsel,” ujar Prof Meta.

Menurutnya, ada sejumlah karakter utama yang perlu dimiliki mahasiswa, yaitu beriman dan punya semangat tinggi untuk menggapai cita.  “Dengan iman yang kuat, pemuda tidak akan tersesat dan tidak memikirkan hal-hal yang negatif serta tidak melakukan kecurangan-kecurangan. Iman harus juga diimbangi dengan kejujuran dan tanggungjawab dalam satu paket,” bebernya.

Sedangkan  semangat dan motivasi untuk meraih cita-cita yang tinggi perlu dimiliki kaum muda. “Saat teknologi dan ilmu pengetahuan berkembang begitu pesat dibutuhkan karakter kreatif dan inovatif. Mahasiswa juga dituntut memiliki daya juang yang tinggi, tidak mudah menyerah, peduli terhadap lingkungan dan sesama,” ujar Prof Meta.

Tidak kalah penting adalah rendah hati dan tidak sombong. ‘’Karena kesombongan bisa menghancurkan diri sendiri,’’ tutur ibu 4 orang anak.

Nina Septiana, desainer di balik merek Nina Nugroho, sepakat dengan hal itu. “‘Setuju sekali Prof. Di Nina Nugroho Store, kalau kami mencari karyawan memang mencari orang-orang dengan karakter yang disebutkan Prof Meta tadi. Pun dalam mendidik anak, yang saya utamakan bagaimana anak-anak ini bisa berterimakasih, meminta maaf dan hormat pada orang tua. Itu dulu, sebelum masalah akademisnya,” ujarnya.

Prof Meta menyoroti pentingnya kolaborasi antara orang tua dan pihak kampus dalam membentuk karakter mahasiswa. Kebanyakan orang tua beranggapan, karena sudah berstatus sebagai mahasiswa, anak-anak ini bisa dilepas begitu saja. Padahal sesungguhnya semasa kuliah pun, mahasiswa mengalami banyak kendala yang membutuhkan bantuan orang tua.

‘’Dalam membentuk karakter anak, sebaiknya tidak terlalu banyak menasihati anak, melainkan memberikan contoh langsung. Mengajak anak untuk melihat kondisi sekitarnya, dengan begitu akan timbul empati. Begitu juga dengan menceritakan kisah-kisah sukses, tidak membandingkan, tetapi memberikan motivasi,’’ tutur Prof Meta.

Sementara dari pihak kampus, khususnya di Universitas Hasanudin adalah sejumlah program yang dijalankan dalam upaya membentuk karakter ini. Prof Meta sendiri adalah salah satu pembina pada Lembaga dakwah Fakultas Pertanian Unhas yang bernama Surau Firdaus. Lembaga ini melakukan kajian setiap Jumat, khusus untuk mahasiswi dan dosen wanita, yang dikoordinasi oleh mahasiswa.

“Kegiatan ini tentu menjadi salah satu upaya membentuk karakter mahasiswa yang beriman, belajar berkoordinasi, menyelenggarakan sebuah acara. Dibutuhkan tanggungjawab untuk itu,” tandas Prof Meta. (HG)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s