Lanjut ke konten

Kompetensi yang Harus Dimiliki Praktisi Komunikasi di Era Digital

10/03/2020

Hidupgaya – Para praktisi komunikasi perusahaan menghadapi tantangan sekaligus peluang di era digital. Tak bisa dimungkiri era digital telah menciptakan peta media di Tanah Air semakin clutter (bising)Dipicu oleh hadirnya beragam kanal di luar media mainstream yang kerap mempengaruhi strategi komunikasi para pemilik merek.

Dalam situasi seperti ini, peran jurnalis sebagai earned media menjadi sangat penting untuk menyebarkan pesan dan informasi kepada khalayak, sekaligus  memberi nilai tersendiri dalam kampanye merek dan juga korporat. Nah, guna mencapai tujuan tersebut, penting bagi pengelola merek memahami tuntutan dan kebutuhan dari para jurnalis  dalam menjalankan profesinya.

Menanggapi hal ini, Founder and CEO LSPR Jakarta, Prita Kemal Gani mengatakan terdapat 5 tantangan sekaligus peluang bagi praktisi perusahaan di era digital, yaitu: Konvergensi media tradisional dan digital; Bentuk komunikasi interaktif; Informasi sekarang mengalir dengan cepat dan gratis; Segala sesuatu didukung oleh teknologi; Kecepatan perubahan dan kecepatan respons.

Prita yang juga menjabat sebagai President ASEAN PR Network (APRN) menekankan bahwa aktivitas public relations yang proaktif sangat dibutuhkan untuk membangun sebuah merek. “Terlebih di era digital yang semakin heterogen dengan tampilnya new audience, new relations, new tool, serta new standard. Jelaslah ini menjadi tantangan bagi pengelola brand maupun praktisi komunikasi,” ujarnya di sela acara MIX Marketing Gathering sekaligus memperingati HUT ke-16 Majalah MIX Marcomm yang diadakan di Auditorium London School Public Relations (LSPR) Jakarta, akhir Februari 2020.

Pria menekankan ada 3 strategi PR di era digital, yaitu pentingnya menjalin hubungan yang baik (build important relationship); melakukan endorse melalui orang-orang yang kompeten dan memiliki kredibilitas yang baik (endorse frienship), serta berupaya menciptakan citra merek maupun kroporat yang juga baik (build good image).

Selain, para PR di era digital saat ini hingga 5 tahun ke depan harus memiliki sejumlah kompetensi, antara lain relationship skill; resources skill; management skill; leadership skill; multimedia development skill; research skill & analysis; written & verbal communications skill; multicultural & adaptable; entrepreneurial skill; serta finance & budgeting skill.  “Yang paling penting adalah bagaiman pemilik brand dapat merancang strategi PR dengan jitu melalui orang-orang di bagian PR yang memiliki skill dan kompetensi yang andal,” imbuhnya.

Di kesempatan sama, Pemimpin Redaksi Majalah MIX, Lis Hendriani menambahkan, jurnalis sebagai pelaku earned media seharusnya semakin meningkatkan kompetensinya dalam membuat berita yang berimbang untuk membedakannya dengan para selebgram, endorser, atau key opinion leader (KOL) yang selama ini banyak yang diperlakukan sebagai paid media oleh brand/korporat. “Pihak korporat seharusnya lebih menghargai berita yang ditulis para jurnalis yang lebih berimbang karena value-nya lebih besar,” ujar Lis.

Pada  acara sharing session bertema “Ketika Jurnalis Ngomongin Brand” tampil lima orang wartawan senior dari berbagai desk sebagai pembicara, yakni Dwi Wulandari, wartawan majalah MIX MarComm; Eny Wibowo, wartawan hidupgaya.co; Herning Banirestu, wartawan majalah bisnis SWA; Lilis Setyaningsih, wartawan Wartakota; dan M. Syakur Usman, wartawan Merdeka.com.

Para pembicara berbagi pengalaman terkait dalam kegiatan jurnalistik di lapangan, dari soal kesulitan menembus narasumber untuk wawancara, sikap narasumber yang “pelit” memberikan data, konten rilis yang minim informasi, persoalan sikap tertutup narasumber saat diterpa isu, dan persaingannya dengan para selebgram yang menjadi brand endorser.

Menurut para pembicara, pemilik brand atau korporat dan jurnalis sebenarnya saling membutuhkan. Bagi jurnalis, yang dibutuhkan adalah data atau statement dari pejabat yang kompeten terkait tema tulisan.  Oleh karena itu, memberi akses seluasnya bagi jurnalis untuk menggali informasi menjadi tuntutan dan kebutuhan yang tidak dapat ditawar-tawar lagi dalam menjalankan praktik jurnalistik. (HG)

 

From → What's Happening

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: