Lanjut ke konten

Mangrove, Si Benteng Pertahanan terhadap Bencana

15/08/2019

Hidupgaya – Hutan mangrove (bakau) memiliki peran vital dalam menjaga alam. Tanaman ini merupakan benteng pertahanan terhadap risiko bencana maupun sebagai mata pencaharian alternatif melalui pengembangan industri pariwisata.

Bukan itu saja. Lahan mangrove juga memegang peranan dalam upaya mitigasi dan adaptasi perubahan iklim dengan kemampuan menyimpan karbon 3-5 kali lebih banyak dibandingkan hutan tropis. Hutan mangrove di Indonesia menyimpan 3,14 miliar ton karbon, yang setara dengan sepertiga karbon yang tersimpan di dunia.

Meski lebih dari 50 persen lahan hutan mangrove di Indonesia hancur, Indonesia masih menduduki posisi pertama sebagai negara dengan tutupan mangrove terbesar di dunia yaitu dengan total seluas 3,556 juta ha (KLHK, 2019) saat ini. “Sayangnya, sekitar 30 persen di antaranya tergolong dalam kategori kritis,” papar Executive Director Yayasan Konservasi Alam Nusantara Rizal Algamar di sela-sela acara Mangrove Volunteers Day 2019 yang digelar Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN), afiliasi dari The Nature Conservancy (TNC) di Taman Wisata Alam Mangrove, Muara Angke, Jakarta Barat, Kamis (15/8).

Rizal menambahkan, pohon mangrove yang akan ditanam total mencapai 1.000 buah dari lima jenis tanaman bakau. Setelah ditanam, pohon bakau akan dimonitor secara berkala dari predasi predator seperti ulat, kepiting, teritip, belalang, dan lain-lain. “Bukan hanya menanam, namun bagaimana menjaga agar pohon yang ditanam itu bisa bertahan hidup juga penting,” bebernya.

Untuk merestorasi mangrove yang sudah rusak, kata Rizal, tidak bisa sembarangan. Alasannya, hutan mangrove di wilayah tertentu memiliki ekosistem tertentu. Misal, di Kalimantan Timur, dibutuhkan jenis tanaman mangrove tertentu yang buahnya sangat disukai oleh monyet bekantan. “Bila di wilayah itu ditanam mangrove jenis lain, ini akan mengancam ekosistem yang ada di sana, seperti punahnya bekantan karena hewan ini sangat tergantung dengan hutan mangrove dengan jenis tertentu,” bebernya.

Mangrove Ecosystem Restoration Alliance (MERA)

Untuk menyelamatkan dan melestarikan hutan bakau, terutama di Jakarta, Semarang, Riau, dan Kalimantan Timur, YKAN | TNC menginisiasi sebuah platform yang disebut Mangrove Ecosystem Restoration Alliance atau Aliansi Restorasi Ekosistem Mangrove (MERA).

Aliansi kemitraan ini bertujuan untuk mengembangkan, mengenalkan, dan mengimplementasikan pengelolaan kawasan pesisir yang terpadu dan berkelanjutan. Di dalamnya mencakup aspek ekologi, sosial, dan ekonomi.

Saat ini MERA telah menjalin mitra dengan Asia Pulp & Paper (APP/Sinar Mas), Indofood Sukses Makmur, Chevron Pacific Indonesia, Djarum Foundation, dan Yayasan Tahija.

Menurut Muhammad Ilman dari YKAN/TNC, kolaborasi kemitraan amatlah penting dalam menjalankan misi konservasi dewasa ini, karena restorasi hutan mangrove butuh biaya tidak sedikit.

Ilman mencontohkan, untuk pantai dengan kondisi tanah tidak turun atau masih normal, butuh biaya Rp40 juta untuk merestorasi 1 hektar tanah. Namun untuk hutan mangrove di Teluk Jakarta, biayanya bisa meningkat 10 kali lipat karena kondisi tanahnya yang turun.

Balas Budi ke Alam

Ada yang menarik dalam penananam pohon bakau di Taman Wisata Mangrove, Pantai Indah Kapuk. Tampak Tyo Nugros, yang sekarang menggawangi band besutan antar WolfTANK bersama Aryo Wahab, Noey Jeje dan Kin Aulia, bersama rekan satu grup ikut menanam pohon bakau.

Mantan drummer grup band Dewa ini mengaku tergerak untuk ikut melestarikan alam. “Melestarikan alam bukan hanya tanggung jawab pemerintah, namun juga masyarakat. Musisi juga perlu ikut berkontribusi,  seperti melestarikan hutan mangrove,” ujar drummer dengan nama asli Setyo Nugroho.

Hal senada disampaikan Aryo Wahab. Vokalis WolfTANK ini menilai hutam mangrove memiliki peran vital bagi kehidupan makhluk di Bumi. “Alam begitu banyak memberi kebaikan untuk kita. Sudah saatnya kita membalas budi pada alam,” ujarnya.

Salah satu personel WolfTANK, Kin Aulia, mengaku pernah merusak tanaman bakau. “Hobi saya dulu mancing. Pohon-pohon mangrove itu suka saya patahin karena ganggu. Pancing suka nyangkut,” ujarnya dengan nada menyesal.

“Belakangan saya baru tahu, mangrobe memiliki banyak manfaat, mulai menahan ombak laut, khususnya jika ada tsunami, juga penghasil oksigen yang sangat besar,” urai Kin. Noey mengamini ucapan ketiga rekan musisinya. “Alam perlu kita jaga, dimulai dari diri kita sendiri,” timpalnya.

Selain band WolfTANK, aksi menanam mangrove diikuti oleh sekitar 300 orang, dari perwakilan para mitra MERA (PT Chevron Pacific Indonesia, APP Sinar Mas, PT Djarum, dan PT Indofood Sukses Makmur, Tbk) serta dari staf YKAN. (HG).

Iklan

From → Green Living

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: