Lanjut ke konten

Diskon Jor-joran Bisa Jadi Ajang ‘Bunuh Diri Massal’ Industri Ritel

01/04/2019

Hidupgaya – Industri ritel memiliki kontribusi sangat penting kepada perekonomian Indonesia, yaitu sebagai pendukung utama konsumsi masyarakat (variabel C dalam formula GDP Indonesia).

Menurut Consumer Behaviour Expert, Board Expert Aprindo dan Hippindo, Yongky Susilo, sebanyak 56 persen pertumbuhan perekonomian Indonesia disumbang oleh konsumsi penduduk Indonesia. “Jadi total pasar ritel yang bertumbuh pesat, memberikan dampak positif pada stabilitas harga, nilai tambah, dan keuntungan bagi semua stakeholder, yaitu konsumen, pedagang, dan produsen,” ujar Yongki di sela-sela diskusi “Industri Ritel Indonesia di Era Disrupsi” menandai perayaan ulang tahun majalah MIX MarComm yang ke 15 tahun sekaligus peluncuran kembali komunitas pembaca #MIXMarcommunity di Jakarta, baru-baru ini.

Menyadari perannya yang sangat strategis, Yongky menekankan pentingnya membangun ekosistem ritel yang berkelanjutan, terutama untuk menghadapi perubahan lansekap industri akibat disrupsi teknologi digital. Untuk itu, industri ritel tanah Air perlu membangun daya saing dan daya pikat terhadap persaingan dengan ritel regional dan global sehingga pada 2050 nanti diharapkan Indonesia bisa menjadi negara dengan perekonomian kelima terbesar dan pemain ritel yang berkontribusi signifikan.

Menurut Yongky, model bisnis para peritel sangat menentukan daya adaptasi mereka untuk berevolusi menghadapi disrupsi. “Model bisnis ritel adalah menjual untuk mencari untung. Dan untuk mencari untung diperlukan kreativitas untuk menawarkan kemudahan dan pemenuhan bagi emosi dan loyalitas konsumen,” ujarnya. “Perang harga hanya akan membawa sengsara. Jika dilakukan terus menerus itu sama saja dengan bunuh diri.”

Hal itu dilontarkan Yongky terkait dengan fenomena perang harga jor-joran yang digelar oleh peritel belakangan ini untuk menarik pembeli. Apakah bisnis online menjadi ancaman peritel offline? “Tidak. Bisnis online bukanlah ancaman karena bagaimana pun orang Indonesia masih membutuhkan toko untuk memegang produk dan merasakan pengalaman langsung. Kuncinya adalah, toko offline harus melakukan inovasi dan berevolusi agar tidak tergilas zaman,” beber Yongky.

Dalam kesempatan sama, Teddy Arifianto, Head Corporate Communications & Public Affairs JD.ID, mengakui dalam 1 hingga 2 tahun terakhir telah terjadi pergeseran perilaku konsumen, di mana peritel online menjadi katalisatornya. “Di JD, kami menyebutnya sebagai ‘boundry-less’ ritel yang yang berarti konsumen menginginkan pengalaman yang seem-less, atau tidak membedakan antara online dan offline. Alasannya karena persinggungan antar platform ini pada hakikatnya adalah dilakukan untuk meningkatkan pengalaman si konsumen itu sendiri saat berbelanja,” beber Teddy.

Dia menekankan bahwa peran inovasi teknologi yang berorientasi pada konsumen (consumer-driven technology) menjadi salah satu kunci penting untuk menghadapi perkembangan industri ritel masa depan. “Peritel harus membangun kedekatan emosional dengan pelanggan agar mereka kembali. Jadi tidak hanya main perang harga atau sekadar memberikan diskon besar,” ujar Teddy.

Di perayaan ultahnya yang ke-55 tahun ini, Pemmimpin Redaksi MIX MarComm, Lis Hendriani, mendorong para pemangku kepentingan saling bergandengan tangan  atau berkolaborasi menghadapi perubahan zaman. (HG)

Iklan

From → Money Talk

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: