Lanjut ke konten

Rumah Kelor Sabet Juara Utama ILPC 2018

23/09/2018

Hidupgaya – Dunia tidak selebar daun kelor. Ungkapan itu kerap kita dengar untuk menggambarkan bahwa peluang di luar sana masih terbuka lebar.

Meskipun daun kelor tidak lebar, namun tanaman ini mengusung manfaat yang luar biasa sehingga mendapat julukan istimewa, Pohon Ajaib.

Daun kelor, yang memiliki nama ilmiah Moringa oleifera memiliki potensi untuk mengatasi malnutrisi yang menjadi masalah gizi di Indonesia, terutama masalah kekurangan kalsium.

Berdasarkan uji laboratorium yang dilakukan SIG Bogor, daun kelor secara alami mengandung 18 dari 20 asam amino esensial yang dapat diserap tubuh dengan baik.

Riset menunjukkan, nutrisi daun kelor sangat tinggi terutama asam amino, sebagai bahan pembangun protein. Kandungan kalsium daun kelor juga lebih tinggi dari susu, yaitu mencapai 500 mg kalsium per 100 gram daun kelor.

Bukan itu saja, zat besi pada daun kelor lebih tinggi dari bayam, begitu juga dengan kandungan vitamin C yang mengungguli jeruk.

Menurut hasil penelitian, daun kelor mempunyai kandungan antioksidan  yang sangat tinggi, yaitu mencapai 157,600 micro moles. Angka ini lebih tinggi daripada kandungan antioksidan tumbuhan lain seperti bayam, blueberry, teh matcha dan teh hijau. Tidaklah mengherankan jika  kelor dijuluki Pohon Ajaib dan semua mata tertuju kepada tanaman ini.

Berkat kelor, Rumah Kelor, startup yang bergerak di industri produk kesehatan, terpilih sebagai juara pertama ajang Indofood Local Pitch Competition (ILPC) 2018.

ILPC 2018 digagas PT lndofood Sukses Makmur Tbk, BLOCK71 Jakarta dan Scaling-Up Nutrition Business Network (SBN).

Pendiri Rumah Kelor, Felix Bram, telah menggeluti bisnis kelor dan menjadikannya beragam produk yang siap konsumsi, antara lain teh kelor, kue, sabun, masker hingga suplemen kelor berbentuk kapsul.

Untuk mendapatkan daun kelor ini, Felix dan tim menanam sendiri daun kelor secara organik. “Kami mendapatkan sertifikat organik dari USDA dan memastikan bahwa kelor yang kami hasilkan memang benar-benar organik dan terjaga kualitasnya,” kata Felix usai menerima penghargaan ILPC 2018 di Jakarta, baru-baru ini.

Masih banyak masyarakat Indonesia yang mengalami malnutrisi. Pohon kelor juga tumbuh subur di daerah yang mengalami masalah gizi ini.  “Menanam kelor sangat mudah, bahkan dapat tumbuh dalam media pot sekalipun,” ujar Felix.

Pemenang kedua ILPC 2018 diraih oleh Yant Sorghum dari Lombok NTB, dan pemenang ketiga diraih oleh Garda Pangan dari Surabaya.

Ada yang menarik dari kisah Muhammad Bayu Hermawan, pendiri Yant Sorghum. Dia mengatakan, dulu sorghum dikenal sebagai makanan ‘ningrat’ yang dikonsumsi bangsawan, namun belakangan hanya menjadi pakan ternak dengan nilai ekonomi rendah.

“Sorghum ini pangan lokal masyarakat NTB. Nilai gizinya tinggi, namun kalah saing dengan kedelai. Nah, kami mengajari masyarakat untuk meningkatkan nilai sorghum dengan menjadikannya camilan sehat bernutrisi tinggi,” kata Bayu.

Melalui Yant Sorghum, masyarakat diajari untuk tidak menjual sorghum dalam bentuk mentah, melainkan dalam wujud setengah jadi. “Nilai jualnya naik. Citra sorghum juga meningkat tak lagi sekadar jadi makanan ternak. Dan dengan menjual dalam bentuk setengah jadi, masyarakat lebih bisa menikmati hasilnya karena sorghum tak lagi dihargai murah,” beber Bayu yang memiliki impian membawa sorghum menjadi pangan yang mendunia.

Sedangkan Garda Pangan sebagai juara ketiga ILPC 2018, memiliki gagasan mengumpulkan makanan dari resto, hotel hingga toko kue kepada pihak yang membutuhkan.

Eva Bachtiar, perintis Garda Pangan mengatakan, ide awalnya adalah mengumpulkan makanan berlebih dari resto dan hotel, kemudian didiribusikan ke masyarakat yang kurang sejahtera. “Kami menyebutnya bukan makanan sisa. Ketimbang jadi limbah, kami mengajak para pihak yang bergerak di industri hospitality untuk menyumbangkan makanan ke masyarakat yang membutuhkan. Kami yang kumpulkan dan menyalurkan,” ujar Eva.

Para pemenang berhak mendapatkan hadiah berupa uang tunai dan mentoring bisnis dari lndofood. Sementara Rumah Kelor sebagai juara utama berkesempatan mengikuti Nutrition Africa Investment 2018 di Nairobi pada Oktober mendatang.

Direktur PT lndofood Sukses Makmur Tbk Axton Salim mengaku senang sebagai ajang pertama, ILPC bisa memberi kesempatan bagi start up untuk membantu pemerintah melakukan pekerjaan rumah yang tidak bisa diselesaikan sendiri.

Pemenang ILPC 2018  terpilih bukan hanya karena memiliki model bisnis yang berkesinambungan, namun juga memiliki dampak positif untuk membantu masyarakat, dalam hal ini masalah gizi yang ada di Indonesia.

“Makanan bergizi bisa dibuat lebih menarik dan memiliki nilai tambah, serta bisa menjadi opsi ketersediaan pangan di masyarakat,” pungkas Axton. (dokterdigital)

Iklan

From → What's Happening

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: