Lanjut ke konten

Duh, Obat untuk Gangguan Irama Jantung Belum Masuk Layanan BPJS Kesehatan

23/09/2018

Hidupgaya – Salah satu jenis penyakit jantung yang kerap tidak disadari adalah gangguan irama jantung atau yang kerap disebut fibrilasi atrium/atrial.  Kondisi ini tak bisa disepelekan karena komplikasinya berdampak serius, yaitu gagal jantung, stroke dan kematian mendadak.

FA merupakan kelainan irama jantung berupa detak jantung tidak teratur yang kerap dijumpai pada banyak populasi di dunia dan juga di Indonesia. Sayangnya, pengetahuan dan kepedulian tentang FA sampai saat ini masih rendah. Mengingat  FA dapat menyebabkan bekuan darah di jantung yang bila Iepas ke sirkulasi sistemik dapat menyebabkan stroke.

Riset menunjukkan, pasien FA memiliki risiko 5 kali lebih tinggi untuk mengalami stroke dibandingkan orang tanpa kondisi tersebut.

Kelumpuhan merupakan bentuk kecacatan yang sering dijumpai pada kasus stroke dengan gangguan irama jantung. Pada 37% pasien FA usia kurang dari 75 tahun, stroke iskemik merupakan gejala yang kerap ditemui.  Di Indonesia, sangat disayangkan banyak insiden kelumpuhan akibat FA terjadi pada usia produktif, yaitu di bawah usia 60 tahun.

Menurut dr. Faris Basalamah, Sp.JP(K), dokter spesialis jantung dan pembuluh darah RS Harapan Kita, gangguan irama jantung ditandai dengan detak jantung yang tidak teratur akibat ‘kekacauan’ kontraksi dari ruang serambi jantung sehingga memicu pengentalan darah dalam rongga jantung dan pada gilirannya dapat memicu stroke karena penyumbatan.

“Pasien yang datang ke rumah sakit biasanya sudah dalam keadaan lumpuh dan setelah diperiksa temyata disebabkan oleh fibrilasi atrium. Salah satunya kelumpuhan dalam berbicara atau sulit berbicara,” ujar Faris dalam temu media Run for Heart Beat di RS Jantung Harapan Kita, Jakarta, baru-baru ini.

Faris menambahkan, kelumpuhan yang diderita pasien FA memiliki ciri khusus, antara lain tingkat keparahan yang tinggi, bersifat lama dan sering berulang. “Rata-rata, sekitar 50 persen pasien yang terkena stroke ini akan mengalami stroke kembali dalam jangka waktu satu tahun,” bebernya.

Terapi Fibrilasi Atrium

Terkait terapi untuk pasien gangguan irama jantung, saat ini setidaknya terdapat 3 teknik yang dapat dilakukan yaitu teknik ablasi kateter, melakukan pemasangan alat LAA Closure, serta pemakaian obat antikoagulan oral baru (0KB).

Terapi ini berperan besar dalam menurunkan risiko serangan stroke karena FA yang berakibat kelumpuhan. Di Indonesia saat ini ada 29 ahli aritmia yang dapat menggunakan alat ablasi kateter.

Sayangnya, meski tenaga ahli yang mampu menggunakan sudah cukup banyak, sayangnya jumah alat yang tersedia sampai saat ini hanya lebih kurang 10 sehingga harus digunakan secara bergantian di seluruh Indonesia.

Masalah lainnya adalah, sampai saat ini terapi OKB belum masuk ke dalam Iayanan BPJS Kesehatan padahal terapi ini merupakan lompatan besar dalam terapi gangguan irama jantung. Selain efektif, OKB dapat mengatasi permasalahan risiko perdarahan, reaksi silang antarobat, dan sebagainya. (dokterdigital)

Iklan

From → Beauty & Health

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: