Lanjut ke konten

Jangan Abaikan Gangguan Saluran Cerna GERD, Ini Risikonya

31/08/2018

Hidupgaya – Gangguan saluran cerna kerap dianggap sebagai masalah remeh temeh. Alasannya, meskipun cukup mengganggu namun gangguan saluran cerna masih dianggap tidak bahaya seperti halnya penyakit ginjal, jantung atau kanker.

Menurut data Kementerian Kesehatan, penyakit yang berhubungan dengan gastrointestinal, salah satunya GERD (Gastroesophageal Reflux Disease), menduduki 10 besar penyakit terbanyak penderitanya di Indonesia.

Sayangnya, masih banyak orang yang belum bisa membedakan antara sakit maag (gastritis) dengan GERD. “Anggapan itu tidak benar karena GERD bisa dibilang lebih berbahaya dibanding sakit maag karena memicu asam lambung naik ke kerongkongan,” kata Prof. Dr. dr. Ari Fahrial Syam, Sp.PD-KGEH, salah satu pendiri Yayasan Gastroenterologi Indonesia yang diluncurkan di Jakarta, Jumat (31/8).

Ari menjelaskan, pada kondisi sakit maag biasa, asam lambung masih di sekitar lambung. “Pada kasus GERD asam lambung naik ke atas. Dan ini berbahaya karena bisa memicu penyempitan dan luka di struktur kerongkongan,” ujar Ari.

Saat terjadi refluks, asam lambung bisa naik hingga ke pita suara dan paru-paru yang memicu bahaya. Pasalnya asam lambung memiliki tingkat keasaman yang hanya bisa ditoleransi oleh lambung itu sendiri.

Ari menambahkan, apabila dibiarkan GERD dapat menyebabkan berbagai komplikasi. “Asam lambung yang naik dapat menyebabkan luka pada dinding dalam kerongkongan. Yang awalnya hanya berupa perlukaan, lama kelamaan luka semakin luas dan bisa menyebabkan penyempitan kerongkongan bawah,” bebernya.

Bahkan, GERD dapat menyebabkan perubahan struktur dari dinding dalam kerongkongan yang menyebabkan terjadinya penyakit Barrett’s yang merupakan lesi pra kanker. “Di luar saluran cerna, asam lambung yang tinggi dapat menyebar ke gigi, tenggorokan, pita suara, saluran pernafasan bawah bahkan sampai paru-paru,” Ari lebih lanjut menambahkan.

Seiring perubahan pola hidup, kasus penyakit GERD semakin meningkat. Gejala yang muncul dan biasa dikenali antara lain sesak berulang, nyeri dada seperti kelainan jantung, serta batuk-batuk.

Karena masih banyak masyarakat yang belum bisa membedakan gangguan pada saluran cerna, mialnya antara sakit maag dan GERD, maka dibentuklah Yayasan Gastroenterologi Indonesia.

Ari menjelaskan, YGI dibentuk dengan tujuan, antara lain mensosialisasikan informasi-informasi mutakhir seputar permasalahan kesehatan pencernaan kepada masyarakat melalui berbagai aktivitas di antaranya melalui website.

“YGI juga bertujuan mengedukasi masyarakat mengenai berbagai penyakit pencernaan mengingat penyakit pencernaan merupakan penyakit yang umum terjadi pada masyarakat. Yayasan ini juga akan membantu penelitian-penelitian di bidang gastroenterologi,” imbuh Ari.

Lembaga nirlaba ini didirikan oleh dokter-dokter spesialis konsultan gastroenterohepatologi (KGEH) yang juga merupakan pengurus besar Perkumpulan Gastroenterologi Indonesia (PGI) dan Perhimpunan Endoskopi Gastrointestinal Indonesia (PEGI).

Dengan berkumpulnya para dokter spesialis konsultan gastroenterologi ke dalam yayasan tersebut, diharapkan makin banyak anggota masyarakat yang mengetahui berbagai cara pencegahan dan deteksi dini penyakit yang berkaitan dengan masalah gastrointestinal. (HG)

Iklan

From → Beauty & Health

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: