Skip to content

Sara & Fei: Stadhuis Schandaal Tayang Serentak di Bioskop Hari Ini

26/07/2018

Hidupgaya – Film perdana besutan rumah produksi Xela Pictures bertajuk “Sara & Fei: Stadhuis Schandaal” tayang serentak di bioskop Tanah Air, hari ini.

Xela Pictures boleh dibilang berani mengangkat tema yang tidak biasa. Menggabungkan sejarah masa lalu dibalut dengan roman kekinian yang bisa diterima kaum milenial, sebagai target utama film yang bersetting di masa penjajahan Belanda ini.

Di film perdananya ini, Xela Pictures menggandeng sutradara senior, Adisurya Abdy untuk menghadirkan sebuah film berlatar belakang zaman kolonial yang dikemas kekinian. “Saya memang tidak ingin membuat film sejarah, tetapi membuat film yang menggambarkan sebuah situasi atau sebuah episode yang konon pernah terjadi di zaman kolonial, yakni tentang gedung yang penuh dengan skandal,” kata sutradara era tahun 1980 an yang ngetop dengan sejumlah karya, antara lain film Roman Picisan, Macan Kampus, Asmara, dan Ketika Cinta Telah Berlalu.

Adi menjamin film besutan teranyarnya setelah absen 14 tahun menjadi sutradara menawarkan sesuatu yang berbeda dengan format kekinian. “Tapi unsur-unsur historisnya tetap terpenuhi. Sehingga memberikan generasi baru untuk banyak mengetahui sejarah yang belum terungkap. Feeding knowledge dengan cara menyenangkan,” bebernya.

“Sara & Fei: Stadhuis Schandaal” merupakan sebuah film drama yang meminjam situasi era kompeni dengan memakai kacamata anak muda masa kini.

Konsep artistik pun disesuaikan dengan zaman itu. Sampai-sampai Adisurya membangun set berupa tangsi dan benteng Belanda di atas tanah seluas 1.500 m2 di kawasan Pejaten, Pasar Minggu, Jakarta Selatan yang digabung dengan teknologi efek visual yang lazim digunakan oleh industri perfilman modern saat ini.

“Kami sudah mencoba mencari bangunan-bangunan sisa peninggalan Belanda yang ada di Indonesia, tetapi tidak sesuai dengan kriteria dan mekanisme kerja yang akan kami lakukan. Untuk itu maka kami putuskan lebih baik membangun set sendiri agar kerja tim menjadi lebih bebas,” terangnya.

Penata musik film ini, dikerjakan oleh Areng Widodo, pemusik senior yang pernah beberapa kali bekerja sama dengan Adisurya menyajikan kembali lagu ciptaannya berjudul ‘Syair Kehidupan’ yang dulu dipopulerkan Achmad Albar, kemudian diaransemen ulang serta dinyanyikan oleh Hilda Ridwan Mas.

Film ‘Sara & Fei, Stadhuis Schandaal’ berkisah tentang mahasiswi, Fei. Saat melakukan riset di kota tua Batavia, untuk menyelesaikan tugas kuliahnya. Fei didatangi gadis blasteran Belanda – Jepang bernama Sara.

Suatu hari, setelah pulang dari Shanghai, Fei kembali mendatangi gedung Museum Jakarta, yang terkenal dengan nama Museum Fatahilah. Dulunya, gedung ini adalah balai kota bernama Stadhuis. Tiba-tiba Sara kembali muncul dan tanpa disadari membawa Fei masuk ke lorong waktu menuju abad 17, masa Gubernur Jenderal Jan Pieterzoon memerintah Batavia. Dari sini cerita semakin menarik. penuh misteri dan pesan.

Pesan yang hendak disampaikan Sara melalui Fei adalah untuk menyampaikan kebenaran mengenai tragedi percintaan yang dialami Sara ratusan tahun silam bersama kekasihnya, Pieter, yang tewas digantung karena dianggap memerkosa dia.

Potensi Penonton Besar

Alexander Sutjiadi, Pemilik Xela Pictures dan Produser Eksekutif  “Sara & Fei: Stadhuis Schandaal” memaparkan, keputusan Xela Pictures merilis karya perdana tak lain karena melihat geliat industri film yang semakin bergairah dengan jumlah penonton film yang menjadi pasar potensial.

Berdasarkan data, sepanjang 2017, sebanyak 116 film panjang ditayangkan ke bioskop-bioskop Tanah Air. Jumlah penonton juga meningkat dari 34,6 juta pada 2016 menjadi 37 juta penonton setahun berikutnya.

“Kami melihat potensi penonton film di Indonesia masih sangat besar. Dengan memproduksi film berlatar belakang sejarah, kami pun ingin mengangkat budaya Indonesia ke manca negara termasuk Tiongkok yang menjadi pasar kedua film ini,” beber Alex.

Demi meraih minat penonton di pasar Tiongkok, film ini mengambil lokasi syuting di dua negara yaitu Jakarta, Pangkalan Bun Kalimantan (Indonesia) serta Shanghai dan Ningbo (Tiongkok). Untuk memuluskan langkah, pihak Xela Pictures juga bermitra dengan perusahaan film dan distribusi film dari Tiongkok.

Nah, seperti apa keseruan film ini? Silakan tonton di bioskop terdekat. (HG)

Iklan

From → Movie Review

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: