Skip to content

Sara & Fei: Stadhuis Schandaal Bukan Film Percintaan Biasa

16/07/2018

Hidupgaya – Salah satu film terbaru besutan lokal yang bakal segera tayang di bioskop adalah “Sara & Fei: Stadhuis Schandaal” yang diramu oleh sutradara kawakan Adisurya Abdy.

Film produksi Xela Pictures ini menyorot mahasiswi cantik bernama Fei yang diperankan Amanda Rigby. Meskipun Amanda sudah berkiprah di layar kaca – yaitu bermain di sitkom ‘Kejar Tayang’ – namun Stadhuis Schandaal merupakan film perdananya dalam unjuk kemampuan akting di layar lebar.

“Akting bukan hal baru buat saya, tapi film ini memang debut saya di layar lebar. Saya banyak belajar dan mendapat pengarahan dari pelatih akting,” ujar Amanda dalam temu media di Jakarta, baru-baru ini. Amanda juga mengaku menimba ilmu dari sutradara dan para pemain senior yang ikut bermain dalam film tersebut.

Dalam film berlatar sejarah Belanda ini, Amanda berperan sebagai karakter utama, Fei, seorang mahasiswa Universitas Indonesia, mengerjakan tugas kampus bertema The Old Batavia bersama teman kuliahnya. Ia lalu bertemu dengan sosok wanita bernama Sarah yang datang dari masa lalu.

Suatu hari Fei menemani ayahnya ke Shanghai, Tiongkok, untuk menemui rekan bisnisnya bernama Daniel Wong. Dari pertemuan itu, Fei dan Daniel Wong jatuh cinta meski dari sisi usia Daniel jauh lebih tua dari Fei.

Meski berlatar belakang sejarah, namun nuansa percintaan amat kental di film ini. “Latar belakang sejarahnya ada, tapi kontennya paling 10-20%, sisanya romansa percintaan yang dibesut kekinian sesuai selera milenial,” kata sang sutradara, Adisurya di sela-sela temu media menandai peluncuran film “Sara & Fei: Stadhuis Schandaal” di Gedung Perfilman Usmar Ismail Jakarta, akhir pekan lalu.

Amanda berkisah, berperan sebagai Fei, dia belajar sungguh-sungguh mendalami peran. “Jatuh cinta, ya, harus merasakan banget jatuh cinta dan menangis ya harus mendalami. Sementara waktu di sinetron saya banyak improvisasinya,” kata aktris blasteran Jawa-Inggris ini.

Menyasar Pasar Tiongkok

Produser film ini, Alexander Sutjiadi dan Omar Jusma, yang merupakan pendiri dan pemilik Xela Pictures mengaku tertarik terjun ke bisnis film karena prospeknya baik. “Ini projek perdana. Ada yang bilang projek nekat,” ujar Alex.

Dalam bincang-bincang dengan Hidupaya.co di kantor Xela Pictures pekan lalu, Alex mengaku ke depannya akan berkolaborasi dengan industri film Tiongkok. “Potensi film Indonesia itu besar. Tinggal bagaimana memperkenalkan Indonesia ke sana, antara lain dengan film dan kuliner,” ujar Alex.

Alex meyakini dengan melakukan pertukaran kebudayaan, maka bisnis akan mengikuti. “Ke depannya, kami akan menjalin kolaborasi dengan mitra di Tiongkok untuk film dalam jangka panjang,” bebernya.

Hal yang disukai pelaku industri Tiongkok di Indonesia adalah pemandangannya, terutama laut. “Kita memiliki banyak laut yang indah yang bisa dieksplorasi untuk lokasi syuting. Hal ini tak dimiliki Tiongkok,” ujar Alex.

Omar menambahkan, nantinya Xela Pictures akan menjalin kolaborasi dengan pelaku industri film di Tiongkok dan membesut karya bersama. “Syuting bisa dilakukan di Indonesia dengan menggunakan setting pemandangan alam yang indah. Saat film ditayangkan di Tiongkok, pemirsa akan mengenali keindahan Indonesia melalui film,” bebernya.

Disinggung mengapa memilih Adisurya Abdy dalam debut film “Sara & Fei: Stadhuis Schandaal” setelah 14 tahun ia vakum sebagai sutradara, Omar dengan taktis mengatakan Adi memiliki jaringan bagus, juga sisi kreatif yang dibutuhkan sebagai sutradara.  ” Xela Pictutes suportif dalam bidang teknologi. Hardware kami cukup kuat. Jadi ibaratnya, kami saling melengkapi. Adi ini software ide cerita dan mengarahkan para pemain,” urainya.

Memilih tema masa lalu diramu ke masa kini, Omar mengatakan, tema film belakangan kembali ke era lampau. “Idenya memang menggabungkan masa lalu dan kekinian. Tokoh sejarah di situ memang ada, namun cerita dikembangkan oleh tim sehingga bertema kekinian. Karena kalau hanya melulu bicara film sejarah, generasi milenial mungkin tidak tertarik,” ujarnya. “Ini juga cara kami memberitahukan sejarah ke anak muda dengan cara yang menyengkan.”

Jadwal total syuting terhitung cepat, yaitu 3 minggu. “Pak Adi justru yang sarankan workflow kerja film. Gak perlu syuting sekampung.  Dengan teknologi yang tersedia, bikin film kini beda dengan saat menggunakan seluloid. Jadi biaya bisa dihemat hingga 35 persen,” ujar Omar.

Film yang melibatkan sejumlah pemain kawakan ini menghabiskan dana sekira Rp8 miliar. Syuting dilakukan di sejumlah tempat, yaitu Jakarta, Pangkalan Bun (Kalimantan), Shanghai dan Ningbo (Tiongkok). “Memang sengaja dikaitkan ke Tiongkok, agar masyarakat di sana paham saat film ini nantinya diputar di bioskop di negara itu,” Omar menjelaskan.

Target penonton film ini 17 tahun ke atas, dan siap tayang pada 26 Juli mendatang. Berapa banyak penonton ditargetkan menyaksikan film ini? “Belum fokus ke sana. Kita bisa break event point saja sudah bagus, karena ini project perdana,” ujar Omar seraya menambahkan film bertema sejarah Belanda akan ditayangkan di Tiongkok, setelah tayang di Indonesia. (HG)

Iklan

From → Movie Review

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: