Skip to content

Didiet Maulana Rancang Seragam BCA dengan Sentuhan Tenun Ikat

11/07/2018

Hidupgaya – Indonesia kaya dengan wastra Nusantara. Selain batik, tenun menjadi salah satu wastra yang mulai dikembangkan secara massal.

Tenun ikat sebagai salah satu kekayaan industri kreatif Indonesia kini mulai dikembangkan secara massal dan tersebar di berbagai daerah seperti Jepara, Bali, Lombok, Sumbawa, Sumba, Flores, Timor, Toraja, hingga Sintang.

Didiet Maulana, Founder IKAT Indonesia (dok. hidupgaya)

Jika tenun dulu hanya dipakai di kalangan terbatas, namun tampaknya kini mulai merambah korporasi. Seperti halnya batik, tenun kini dikemas dalam busana kekinian. Salah satu bank terbesat di Indonesia, terpanggil untuk memperkuat identitas nasional dengan menjadikan tenun ikat sebagai bagian motif seragam karyawan bank swasta tersebut.

Berkolaborasi dengan pendiri IKAT Indonesia Didiet Maulana, PT Bank Central Asia Tbk. (BCA) menjadikan tenun ikat sebagai seragam untuk 27 ribu karyawan BCA. “Tenun ikat merupakan salah satu khas wastra Nusantara yang tak hanya menjadi sarana promosi. Kita harapkan tenun ikat bisa diakui menjadi karya putra Indonesia,” kata Presiden Direktur BCA Jahja Setiaatmadja dalam acara “Tenun Ikat, Indonesiaan Legacy into the Spotlight” di Kafe BCA, Senin (9/7).

Jahja berharap anak-anak muda akan menjadi salah satu influencer untuk promosi produk Indonesia, khususnya tenun.

Melalui inisiatif memproduki seragam BCA bermotif tenun ikat, Jahja menambahkan, pihaknya mendorong terciptanya kebutuhan massal terhadap tenun ikat sebagaimana halnya batik. Sehingga, masyarakat penenun memiliki kesempatan mengembangkan hasil karya tenun tersebut. “Ini diharapkan dapat mengguah pelaku ekonomi dalam negeri untuk memanfaatkan nilai dan warisan kekayaan budaya nasional,” imbuhnya.

Dalam kesempatan yang sama, Didiet menambahkan, proses menjadikan tenun ikat sebagai seragam BCA butuh waktu panjang, sekira 2 tahun. Motif tenun yang dipilih mewakili karakter BCA yakni gambar cengkeh berwarna paduan biru dan kuning yang saling mengikat, menyatukan keberagaman.

“Butuh sekitar 45 ribu meter kain untuk membuatkan seragam 27 ribu karyawan BCA yang melibatkan 2.500 orang penenun di Troso, Jepara, Jawa Tengah,” ujar Didiet yang juga belum lama didaulat oleh sebuah merek coffee shop internasional mendesain mug dan tumbler dengan sentuhan tenun ikat.

Seragam baru dengan sentuhan tenun ikat ini akan dikenakan karyawan BCA yang tersebar di 1.200 kantor cabang BCA seluruh Indonesia..

Meski membuat busana untuk sebuah korporasi, Didiet mengaku tetap bisa mengekpresikan kreativitas sesuai dengan idealismenya. Salah satu tantangan terbesarnya ialah membuat dalam jumlahnya yang tidak sedikit. “Tantangannya itu satu, kuantitasnya lebih banyak ketika menjadi seragam atau bussines to business. Kita harus melihat mana perajin yang bisa menangani order tersebut,” ujarnya.

Dipilih perajin tenun Troso karena mereka dinilai telah siap menangani order dalam jumlah besar. “Di sana memang penenun menjadi sebuah profesi. Ada ribuan orang yang menjadi penenun,” bebernya.

Seragam baru BCA dengan sentuhan tenun ikat

Didiet telah menjalani serangkaian proses kreatif dan diskusi dengan para perajin hingga final desain selama sekitar 8 bulan. Dilanjutkan dengan proses produksi yang memakan waktu 6 bulan.”Dari mulai ide hingga final butuh waktu 2 tahun. Jadi memang perjalanannya panjang untuk menjadikan tenun sebagai seragam BCA,” tandasnya. (HG)

 

Iklan

From → Fashion Spread

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: