Skip to content

Lestarikan Batik Pewarna Alam Antar Perempuan Ini Sabet Microentrepreneur of the Year

06/04/2018

Hidupgaya – Pengusaha mikro merupakan salah satu penggerak ekonomi nasional yang sudah terbukti tahan banting dan menjadi daya ungkit perekonomian masyarakat. Untuk itulah, mereka perlu didukung agar bisnisnya berkembang.

Data dari Badan Pusat Statistik menyatakan bahwa pelaku usaha mikro memberikan kontribusi bagi perkembangan ekonomi di Indonesia, dapat dilihat dari jumlahnya yang terus meningkat. Pada 2013, terdapat 2.887.015 usaha mikro yang tersebar di seluruh Indonesia, jumlah tersebut terus meningkat dimana pada tahun 2015 telah mencapai angka 3.385.851 unit usaha mikro atau naik sekitar 17,3 persen.

Nah, terkait dengan upaya itu, Citi Indonesia (Citibank) menggelar kompetisi Citi Microentrepreneurship Awards (CMA) untuk periode 2017-2018. Pemenangnya telah diumumkan di Jakarta, Kamis (5/4).

Penghargaan diserahkan kepada 8 wirausaha mikro serta satu penghargaan apresiasi bagi Lembaga Keuangan Mikro (LKM) terbaik.

CEO Citi Indonesia Batara Sianturi mengatakan Citibank percaya bahwa kemandirian wirausahawan selalu berawal dari hal-hal kecil terlebih dahulu, kemudian dengan kegigihan untuk maju, akan berkembang menjadi lebih besar.

“Kami yakin bahwa semakin banyak masyarakat yang berani dan siap berwirausaha yang dimulai dari skala mikro, maka semakin besar peluang pertumbuhan ekonomi Indonesia yang meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan masyarakat,” kata Batara di Jakarta, kemarin.

Dia menambahkan, Citi Microentrepreneurship Awards bertujuan untuk meningkatkan wawasan mengenai pentingnya kewirausahaan dan akses keuangan bagi pengusaha mikro.

Penyelenggaraan CMA kali ini, periode pendaftaran yang dibuka pada Oktober hingga Desember 2017 lalu, terdapat lebih dari 800 pengusaha mikro dari berbagai provinsi di Indonesia yang mendaftarkan usahanya dalam ajang ini.

Dari jumlah tersebut, 50 peserta terbaik dipilih sebagai semifinalis, dan kemudian diseleksi hingga terpilih 20 finalis yang berkesempatan mengikuti pembekalan selama 3 hari. Ke-20 finalis ini kemudian mengikuti penjurian oleh para penilai yang kompeten serta dari berbagai latar belakang antara lain akademisi, sektor finansial, jurnalisme, pelaku bisnis, dan institusi pemerintah terkait.

Program Citi Microentrepreneurship Awards 2017-2018 bertujuan tidak hanya sekadar memilih pemenang namun lebih penting lagi adalah memberikan kesempatan bagi usaha mikro untuk berinteraksi dan berjejaring dengan para praktisi yang datang dari berbagai latar belakang seperti akademisi, pengusaha, wartawan bidang ekonomi, hingga lembaga pemerintah yang mendukung pengembangan ekonomi kreatif dan pengembangan UMKM dan koperasi.

Penghargaan CMA 2017-2018 diberikan kepada para pemenang yang terbagi ke dalam 5 (lima) kategori kompetisi, yakni (1) Agriculture, (2) Arts and Creative Design, (3) Fishery, (4) Green , dan (5) Service and Culinary. Selain itu terdapat pula 3 (tiga) penghargaan khusus yang akan diberikan, yakni (1) Young Microentrepreneur, (2) Best Woman Microentrepreneur, dan (3) Microentrepreneur of the Year.

CMA 2017-2018 juga memberikan penghargaan untuk Lembaga Keuangan Mikro, yaitu Microfinance Institution of the Year sebagai bentuk apresiasi terhadap lembaga pendamping terbaik. Penghargaan utama bagi pengusaha mikro dalam Citi Microentrepreneurship Awards (CMA) 2017-2018 adalah Microentrepreneur of the Year.

Pemenang Citi Microentrepreneurship Awards (CMA) 2017-2018:
Agriculture: Mario Devys
Arts and Creative Design: Nuri Ningsih Hidayati
Fishery: Nienik Rakhmawati Zauharoh
Green: Stefanus Indri Sujatmiko
Service and Culinary: Siswanto
Young Microentrepreneur: Hafidh Rifky Adiyatna
Best Woman Microentrepreneur: Susi Sukaesih
Microentrepreneur of the Year: Nuri Ningsih Hidayati
Microfinance Institution of the Year : Koperasi Syariah Benteng Mikro Indonesia

Nuri Ningsih, pemenang dari Yogyakarta ini sukses menyosialisasikan batik pewarna alam. “Saya membuat batik pewarna alam, mengedukasi pentingnya penggunaan bahan pewarna batik yang ramah lingkungan untuk para pembatik sepuh sekaligusĀ  renegerasi pembatik muda,” kata perempuan lulusan seni rupa sebuah institut seni di Yogyakarta dalam bincang-bincang dengan Hidupgaya usai menerima penghargaan sebagai Microentrepreneur of the Year.

Dalam memproduksi batik pewarna alam, Nuri menggunakan tanaman marenggo, yang di Yogyakarta dikenal dengan nama sembungan atau wedhusan. “Tanaman marenggo banyak tumbuh liar dan ternyata bagus digunakan untuk pewarna alami pada batik,” jelas perempuan usia 26 tahun yang juga memanfaatkan daun mangga, rambutan, ketapang, putri malu hingga lumpur di sawah untuk ujicoba menghasilkan warna-warna alami yang diaplikasikan pada batik.

Misi Nuri mengedukasi para pembatik juga konsumen taklain untuk melestarikan bati warna alam. “Belakangan orang lebih suka menggunakan warna sintetis untuk batik dengan alasan warna-warnanya lebih bagus, dan harganya murah. Warna alam seolah tenggelam,” imbuhnya.

Sampai saat ini Nuri membina 19 pembatik, juga aktif mengajar sejumlah kelompok pembatik di Sleman, Yogyakarta.

Ngomong-ngomong, berapa harga batik binaan Nuri per lembarnya? “Sekitar Rp300 ribu untuk batik tulis campur cap dan mulai Rp1,5 juta untuk batik tulis,” pungkasnya. (HG).

Iklan

From → What's Happening

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: