Skip to content

Pasar Alkes Menggiurkan, Indonesia Belum Siap Bersaing

06/03/2018

Hidupgaya – Pasar alat kesehatan Indonesia tahun 2018 ini diperkirakan melampaui US$1 miliar atau setara Rp13,5 triliun. Sayangnya sektor ini masih didominasi oleh produk luar negeri hingga 92 persen. Sementara produk lokal masih berkutat di level 8 persen.

Terkait dengan pasar yang menggiurkan ini, para inovator lokal didorong untuk masuk ke teknologi kesehatan kelas menengah sehingga daya saing produk lokal dari sisi nilai dan volume bisa bersaing.

“Alat kesehatan masih didominasi produk luar misalnya alat CT-Scan impor harganya bisa Rp8 miliar per buah. Hitung saja kalau mereka menjual 10 buah. Sementara produsen alkes lokal masih berkutat di teknologi tempat tidur yang harganya mungkin hanya Rp30 juta, bahkan ada yang lebih murah,” kata Manajer Eksekutif Asosiasi Produsen Alat Kesehatan Indonesia (ASPAKI), Ahyahudin Sodri di sela konferensi pers IndoHCF Award II- 2018 di Kota Kasablanka, Jakarta, Selasa (6/3).

Menurut Ahyaudin, produsen alkes lokal bisa memasuki teknologi menengah yang secara harga dan valuenya bisa diwujudkan. Misalnya saat ini produsen lokal mulai memproduksi alat USG, X-Ray, hingga alat pendukung proses anastesi. Sehingga ditargetkan sekitar tahun 2035 nanti produsen lokal bisa menguasai teknologi alkes kelas menengah tersebut.

Menanggapi tantangan tersebut, Ketua Umum IndoHCF, Dr. dr. Supriyantoro, SpP, MARS mengatakan produk lokal akan bisa menguasai teknologi alkes kelas menengah sebesar 20-30 persen di tahun 2035, sebagaimana ditargetkan ASPAKI. “Saya kira bisa saja. Sekarang ini sudah ada diversifikasi produk dari industri lokal. Misalnya Indofarma (perusahaan farmasi BUMN)  tidak lagi hanya produksi obat, tetapi mulai produksi alkes. Kemudian dari ajang IndoHCF Award 2017, inovasi alkes dari UGM  (Universitas Gajah Mada) berupa selang yang menghubungkan ke otak pada kasus hidrosefalus sudah dikembangkan oleh Kalbe Farma,” papar Supriyantoro di kesempatan yang sama.

Selain itu, Supriyantoro juga mengungkapkan beberapa inovasi alkes yang berpartisipasi dalam IndoHCF Award 2017 juga dilirik oleh sejumlah investor, baik lokal maupun asing. Antara lain alat pemeriksa ginjal dan jantung. “Mereka (investor) sudah bertanya kepada kami dan kami bantu untuk perkenalkan. Tetapi perkembangan selanjutnya belum kami update lagi sejauh mana kerjasamanya. Tetapi memang investor asing, mereka bukan hanya memasukan produk ke pasar kita, mereka juga dituntut untuk mendukung produksi alkes lokal dengan peran sebagai investor,” katanya.

IndoHCF Award 2018

Untuk mendorong peningkatan inovasi alkes lokal, indoHCF bekerj asama dengan IDSMed, sebuah perusahaan distributor alat kesehatan, mengelola dana CSR idsMED Indonesia agar lebih berkontribusi bagi industri kesehatan Indonesia melalui program penghargaan bagi inovator lokal di bidang kesehatan, lewat ajang IndoHCF Award.

Vice President Director idsMed Indonesia Ramli Laukaban, mengatakan pihaknya menggandeng IndoHCF karena visi yang sama dalam menggerakkan inovasi dan layanan kesehatan di Tanah air. “Maka kita dorong melalui  penghargaan bagi individu yang melakukan sesuatu yang ekstra terkait kategori-kategori dalam IndoHCF Award,” kata Ramli.

Supriyantoro menjelaskan, CSR idsMed dikelola untuk berkontribusi bagi industri kesehatan. “Kami paham dana pemeritah tidak besar. Untuk mengisi pasar kekosongan, kami mendukung. Tentu kami membawa misi untuk meningkatkan kesehatan masyarakat Indonesia,” katanya.

Checking blood pressure

Ahyahudin menambahkan, memang butuh waktu yang panjang bagi inovasi alkes lokal mencapai tahap produksi. Sebab banyak tahap yang harus dilalui seperti percobaan dan sertifikasi hingga menghasilkan replika. Dari situ akan dinilai sisi technical visibilty dan economic visibility. “Semuanya diuji secara detail, terutama dari sisi security, apakah aman jika dipakai untuk proses mendukung kesehatan pasien,” tandasnya. (HG/dokterdigital)

 

Iklan

From → Money Talk

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: