Skip to content

Solusi Atasi Saraf Kejepit Minim Risiko

14/09/2017

Hidupgaya – Sering dengar istilah saraf kejepit? Ini merupakan istilah awam yang kerap dipakai untuk merujuk pada kondisi herniated nucleus pulposus (HNP). Banyak penyebab yang bisa memicu saraf kejepit ini, antara lain karena salah posisi duduk dalam waktu lama atau mengangkat benda berat.

Saraf kejepit ini menyiksa penderitanya. Bahkan batuk saja terasa sakit. Sehingga tak mengherankan, kondisi saraf kejepit mengurangi produktivtas penderitanya.

herniated nucleus pulposus (HNP)

Untuk saraf kejepit derajat ringan dapat diatasi dengan obat-obatan atau fisioterapi. Namun dalam kasus yang berat, saraf kejepit perlu penanganan lebih.

Terapi saraf kejepit terbagi dalam dua kelompok, yaitu terapi konservatif dan intervensi (operasi).  Yang termasuk dalam terapi konservatif adalah berupa pemberian obat atau fisioterapi. Terapi ini bisa dilakukan pada kondisi keluhan hilang timbul, atau masih dalam derajat ringan.

Menurut pakar nyeri dari Klinik Nyeri dan Tulang belakang Onta Merah, dr. Mahdian Nur Nasution, SpBS, untuk kasus yang berat harus dilakukan operasi. Sayangnya, di Indonesia, 9 dari 10 penderita saraf terjepit menolak untuk dilakukan tindakan operasi. “Penolakan umumnya terjadi karena khawatir akan risiko yang terjadi, seperti infeksi, kembalinya nyeri punggung, hingga kerusakan saraf tulang belakang,” kata Mahdian dalam temu media di Klinik Nyeri dan Tulang belakang Onta Merah Jakarta, baru-baru ini.

Namun, kini tersedia pilihan prosedur bedah sayatan kecil, yakni Percutaneous endoscopic lumbar discectomy (PELD) yang lebih minim risiko.  “PELD dilakukan melalui prosedur endoskopi. Dokter akan membuat sayatan kecil di kulit sebesar 7 milimeter sebagai akses masuknya peralatan operasi langsung menuju foramen,” jelas Mahdian.

Sebagai informasi, foramen merupakan area yang kaya akan persarafan. “Di lokasi ini juga tempat yang kemungkinan banyak terjadi jepitan saraf yang menimbulkan rasa nyeri pada pasien,” jelas Mahdian.

Mahdian memaparkan, pada teknik operasi konvensional, untuk dapat mencapai daerah saraf yang terjepit, seorang dokter harus melakukan banyak sayatan. Mulai sayatan di kulit, sayatan di otot, pemotongan tulang lamina, menyisihkan saraf-saraf, dan terakhir mengoreksi saraf yang menjepit. Nah, tahapan yang harus dilakukan itu tak jarang mengakibatkan trauma jaringan. “Dengan teknik endoskopi, hal itu tidak dilakukan lagi,” bebernya.

Teknik operasi konvensional, lanjut Mahdian, juga mengakibatkan perdarahan yang lebih banyak, risiko infeksi pun lebih besar. Selain itu, pemotongan tulang lamina pada teknik konvensional dapat mengakibatkan masalah instabilitas tulang hingga kekuatan tulang yang menurun di kemudian hari. “Pada teknik PELD, risiko kambuh kembali lebih kecil karena tidak mengganggu stabilitas tulang belakang,” kata Mahdian.

Penelitian pernah dilakukan untuk melihat efikasi PELD pada 100 pasien saraf terjepit berusia 15–84 tahun. Hasilnya, 97 pasien mengalami perbaikan cukup signifikan berdasarkan derajat nyerinya, dihitung berdasarkan skala 0 (tanpa nyeri) hingga 10 (paling nyeri). Dari yang tadinya berskala 8,2 turun menjadi 1,8 setelah tindakan PELD. Lama perawatan rata-rata selama 1,6 hari.

Tindakan PELD dilakukan dalam waktu sekitar 45 menit. Setelah tindakan PELD, pasien juga dapat beraktivitas seperti sediakala. Biaya untuk tindakan ini diperkirakan Rp100 juta. (HG/dokterdigital)

Iklan

From → Beauty & Health

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: