Skip to content

Kenali Plus Minus Pola Pemberian Makan Baby Lead Weaning

13/09/2017

Hidupgaya – Belakangan para ibu gencar membahas mengenai pemberian makan dengan metode Baby Lead Weaning (BLW) untuk bayi mereka yang mulai berlatih makan, setelah lulus ASI eksklusif 6 bulan.

Metode BLW memang tengah naik daun, antara lain karena pesohor Andien Aisyah mengajari anaknya Kawa, makan dengan metode ini. Cara makan Kawa dengan pola BLW ini bahkan diunggah di Instagram.

Baby Lead Weaning, bayi dibiarkan memilih sendiri makanannya

Sekilas, BLW merupakan pola makan ‘demokratis’ yang memberikan bayi keleluasaan untuk memilih makanan sendiri. Namun di sisi lain, pola makan ini menimbulkan kecemasan orangtua.

Terkait dengan pemberian makan BLW, menurut dokter spesialis anak Dr. dr. Conny Tanjung, Sp.A(K), pola ini memiliki kelebihan dan kekurangan. Hal yang patut dipertimbangkan orangtua sebelum mengaplikasikan BLW adalah terlebih dulu mengetahui keterampilan makan anak. Yang dimaksud dalam hal ini adalah kemampuan lidah anak dalam mengunyah makanan.

“Keterampilan makan pada anak adalah proses belajar. Saat mulai belajar makan, lidah anak masih belum optimal, masih sebatas bergerak ke depan dan belakang, belum bisa ke samping kiri dan kanan. Jika lidah belum bisa bergerak kiri dan kanan, pola pemberian makanan padat, bisa membuatnya tersedak,” kata Conny Tanjung di sela-sela temu media  “Milna 1st Bite Day Campaign 2017 “di Senayan City Jakarta, baru-baru ini.

Atas alasan inilah anak tak disarankan diterapkan pola makan BLW saat memulai Makanan Pendamping ASI (MPASI). “Pada usia 6-8 bulan, anak sebaiknya diberikan makanan bertekstur lunak. Seiring usia bertambah (lebih dari 1 tahun) barulah anak bisa diberikan makanan bertekstur padat, seperti irisan daging,” saran Conny.

Saat usia menapak 1 tahun kemampuan anak dalam mengunyah sudah cukup baik. “Jadi kalau mau mengaplikasikan metode BLW bisa di usia ini,” kata Conny. Pada metode BLW, umumnya anak dibiarkan memilih sendiri makanan padat yang dihidangkan di hadapannya.

BLW dinilai memiliki kelamahan, jika dilihat dari sisi pemenuhan kebutuhan nutrisi anak. “Karena metode BLW membebaskan anak memilih sendiri, dicemaskan jumlah makanan yang masuk tidak mencukupi kebutuhan  nutrisi anak,” ujar Conny. Anak yang mulai dikenalkan MPASI sebaiknya mendapatkan makanan bergizi seimbang, mencakup karbo, protein, lemak, dan zat gizi mikro ( mineral dan vitamin).

Pemberian MPASI Harus Tepat, Momen Menyenangkan

Data Riskesdas (Riset Kesehatan Dasar) tahun 2013 menunjukkan tingginya angka kejadian perawakan pendek atau stunting pada anak balita, yaitu sebesar 37,2%, sebagai dampak dari kekurangan gizi jangka panjang yang terjadi khususnya pada 1000 hari pertama pertumbuhan anak.

Hal ini menandakan banyaknya anak yang tidak diberi makanan sebagaimana direkomendasikan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), yaitu pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan pertama, dan setelahnya MPASI yang sesuai dan aman serta ASI yang diteruskan sampai anak berusia 2 tahun.

Menurut Conny, keluarga harus memahami pentingnya pemberian makan yang sesuai pada periode emas dalam 1000 hari pertama kehidupan karena pemberian MPASI yang tepat adalah pintu gerbang utama dalam mempersiapkan seorang anak untuk menjadi pribadi tangguh secara menyeluruh. Dia menambahkan, momen MPASI saat anak pertama kali makan harus diperkenalkan dengan makanan yang lunak, bukan padat.

Tya Ariestya, Brand Ambassador Milna 2017 mengatakan  momen makan pertama anak merupakan milestone penting. “Ini momen aku mengenalkan makanan pendamping ASI untuk anak, memastikan tumbuh kembangnya nanti baik,” kata Tya tentang momen makan pertama untuk anak semata wayangnya, Muhammad Kanaka Ratinggang.

Sedangkan terkait BLW, Tya mengatakan mungkin akan menggunakan opsi ini sebagai pemberian makanan camilan. “Bukan makan utama buat anak. Karena bayi di bawah enam bulan pasti kalau disuruh makan sendiri belum maksimal. Harus tetap disuapi agar kebutuhan gizinya terpenuhi,” tandasnya. (HG/dokterdigital)

Iklan
Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: