Skip to content

Kenali Bahaya dan Efek Samping Obat PCC

15/09/2017

Hidupgaya – PCC dalam beberapa hari terakhir ramai dibahas berbagai media massa di Indonesia. Banyak korban berjatuhan akibat konsumsi obat terlarang ini. Hingga Kamis (14/9), tercatat 57 orang dirawat di RS di Kota Kendari akibat konsumsi PCC, sedangkan 2 lainnya meninggal.

Apa sebenarnya PCC? Ini adalah kombinasi dari 3 obat yakni Paracetamol, Caffeine, dan Carisoprodol. Menurut Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), obat ini tidak memiliki izin edar. Meski tak memiliki izin edar, obat ini bisa berada di Indonesia, dan menyebabkan jatuhnya sejumlah korban di Kendari.

PCC menarik disimak karena membuat sejumlah remaja menjadi korban. Obat ini sebenarnya diteliti untuk mengurangi nyeri. Dalam Clinical Rheumatology (1989), PCC diteliti untuk mengurani nyeri fibromyalgia atau sindroma fibrositis. Penelitian dilakukan oeh Vaeroy, Abrahamsen, Forre dan Kass dengan metode double blind (buta berganda) artinya baik peneliti maupun subjek penelitian tidak tahu mana obat, mana plasebo (sebagai control, tidak mengandung bahan aktif).

Penelitian melibatkan 43 orang dari 58 penderita fibromyalgia. Mereka selama 8 minggu menggunakan obat PCC. Sedangkan 23 pasien menerima obat plasebo dan 20 orang menerima obat PCC.

Pada grup kontrol yang tidak diberi PCC tetap diberi tambahan analgetik (antinyeri) dan obat NSAID (Nonsteroidal Anti-inflammatory Drugs, merupakan kelompok obat untuk mengurangi nyeri, menurunkan demam dan dalam dosis yang lebih tinggi menurunkan peradangan), dibanding pada grup kontrol yang hanya diberikan pada 20% pasien. Sebanyak 43% dari mereka yang diberi obat plasebo diberi obat tambahan, yaitu tricyclic antidepresant, anxiolytic dan sedatif, sementara grup yang diberi obat PCC tidak diberikan obat tambahan.

Hasilnya, mereka yang diberi obat PCC ternyata mengalami perbaikan yang secara statistik signifikan, kualitas tidur yang lebih baik, rasa nyeri berkurang setelah delapan minggu pada 70% titik yang diukur. Para peneliti ini berkesimpulan bahwa kombinasi PCC efektif dalam mengobati fibromyalgia

Caffeine atau kafein merupakan senyawa alkaloid xantina berbentuk kristal dan berasa pahit yang bekerja sebagai obat perangsang psikoaktif dan diuretik ringan. Kafein ditemukan oleh ahli kimia Jerman, Friedrich Ferdinand Runge, pada 1819. Ia menciptakan istilah “kaffein” untuk merujuk pada senyawa kimia pada kopi.

Kafein juga disebut guaranina ketika ditemukan pada guarana, mateina ketika ditemukan pada mate, dan teina ketika ditemukan pada teh. Semua istilah tersebut sama-sama merujuk pada senyawa kimia yang sama.

Kafein dijumpai secara alami pada bahan pangan seperti biji kopi, daun teh, buah kola, guarana, dan maté. Pada tumbuhan, ia berperan sebagai pestisida alami yang melumpuhkan dan mematikan serangga-serangga tertentu yang memakan tanaman tersebut.

Kafein mumnya dikonsumsi oleh manusia dengan mengekstraksinya dari biji kopi dan daun teh. Bahan ini memiliki kemampuan merangsang sistem pusat saraf pada manusia dan dapat mengusir rasa kantuk secara sementara.

Kafein merupakan zat psikoaktif yang paling banyak dikonsumsi di dunia. Tidak seperti zat psikoaktif lainnya, kafeina legal dan tidak diatur oleh hukum di hampir seluruh yuridiksi dunia.

Sedangkan Carisoprodol, di Indonesia obat ini memiliki nama dagang Somadril, dan semula memiliki izin edar. Namun, pada 2014 dilakukan pembatalan izin edar dan penarikan obat dari pasaran. Alasannya, BPOM mendapat laporan jika Somadril banyak disalahgunakan. Salah satunya karena membantu performa seks para pekerja seksual komersial.

Efek samping Carisoprodol memiliki efek samping serius, yaitu bisa menyebabkan penurunan daya pikir dan reaksi. Ini berarti berbahaya kalau obat ini diminum sebelum berkendara, baik mobil atau motor.

Obat ini papat meningkatkan rasa sakit kepala dan pusing. Efek kejiwaan dari penggunaan obat ini adalah halusinasi akibat meningkatnya serotonin, selain itu, bisa menyebabkan demam, detak jantung bertambah cepat, refleks overaktif, muntah, diare, dan kepala berputar.

Menurut laporan, para korban yang minum PCC merasa kepanasan luar biasa sehingga menyebur ke air untuk mendinginkan tubuh. Salah satu korban, Reski (20) bahkan melompat ke laut sekitar Teluk Kendari tak jauh dari rumahnya, dan tenggelam.

Ayah korban, Rauf, seperti dikutip Kompas.com mengatakan, anaknya pulang ke rumah dalam keadaan mabuk dan beberapa kali melompat ke selokan yang ada di depan rumahnya.

Ayah korban mengatakan, anaknya mendapat PCC dari orang tak dikenal. Kesehariannya, korban sebagai pengamen di kawasan Teluk Kendari.

Sebelumnya, seorang anak yang baru kelas 6 SD meninggal setelah mengkonsumsi obat jenis golongan G ini. Korban sempat dirawat di rumah sakit Bhayangkara Kendari, namun nyawanya gagal diselamatkan. (HG/dokterdigital)

Iklan

From → What's Happening

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: