Lanjut ke konten

Wah, Doyan Makan Pedas Bikin Panjang Umur

10/08/2015

Ada yang hobi ‘ngremus’ cabai segar?  Ada kabar baik nih. Konsumsi makanan pedas, terutama cabai segar, dapat membantu manusia untuk hidup lebih lama.

cabai

Kesimpulan ini didapat dari sebuah penelitian yang dilakukan di Beijing, Cina, dengan mengamati pola makan yang biasa dilakukan oleh setengah juta orang Cina. Kebiasaan makan orang-orang ini diamati selama kurun waktu tujuh tahun oleh Peking University Health Science Center bekerjasama dengan Harvard University.

Dari pengamatan tersebut ditemukan bahwa orang yang terbiasa makan makanan pedas hampir setiap hari, memiliki risiko kematian lebih rendah 14 persen dibandingkan dengan mereka yang makan pedas kurang dari sepekan sekali.

Para peneliti ini mengatakan temuan ini sepenuhnya merupakan hasil pengamatan, dan mereka menyarankan adanya penelitian lebih lanjut mengenai hal ini.

Namun sejauh ini para ilmuwan tersebut mencatat bahwa bahan utama yang ada di cabai, yaitu capsaicin, sebelumnya ditemukan mengandung kadar anti oksidan yang tinggi dan memiliki kemampuan untuk mencegah peradangan.

Dalam penelitian terdahulu dilaporkan, peneliti dari UCLA menemukan cara ‘mudah’ untuk menjadi langsing melalui makanan.

Beberapa ilmuwan percaya bahwa makanan bernama jalapenos (sejenis cabai) dan paprika pedas tidak hanya berfungsi ‘memabakar’ lidah saat dikonsumsi, namun juga dapat meningkatkan suhu tubuh. Menurut hipotesis mereka, energi yang dibutuhkan untuk menaikkan suhu tubuh ini berfungsi membakar kalori seperti saat kita melakukan olahraga.

Salah satu potensi masalah adalah bahwa tidak semua orang menyukai rasa paprika pedas. Zat yang bertanggung jawab untuk hal ini adalah capsaicin, suatu bahan kimia yang dikembangkan oleh tanaman untuk mempertahankan diri terhadap hewan yang ingin memakannya.

Syukurlah untuk orang yang tidak terlalu menyukai rasa pedas yang menyengat, beberapa paprika menghasilkan versi yang disebut capsaicin dihydrocapsiate (DCT) alias yang memiliki rasa ringan.

Para peneliti UCLA merekrut 34 sukarelawan yang mencoba untuk menurunkan berat badan. Beberapa responden mendapatkan pil mengandung DCT untuk mereka konsumsi, sementara lainnya hanya mendapatkan placebo (tanpa mengandung zat aktif). Para peneliti mengukur pengeluaran energi setiap responden setelah mereka makan.

Ternyata, pada orang-orang yang mengonsumsi DCT dalam jumlah besar ditemukan pengeluaran energi paling besar, hampir dua kali lipat dibandingkan mereka yang hanya mengonsumsi placebo. (www.dokterdigital.com)

From → Food Lover

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: