Skip to content

Kiwi, Pilihan Bijak Lengkapi Asupan Serat saat Sahur

30/06/2015

An apple a day keeps the doctor away”. Pepatah ini kerap kita dengar, dan sekaligus menggambarkan apel tampaknya buah ‘ajaib’ yang jika dikonsumsi secara teratur setiap hari bisa membuat kita tetap sehat.

buah kiwi

Kandungan serat pada apel dipercaya memiliki dampak kesehatan, membantu program penurunan berat badan karena kaya serat yang bisa mengenyangkan perut lebih lama.

Namun, apakah apel adalah satu-satunya buah yang memang bisa mengenyangkan lebih lama? Hal ini menarik dikaji, khususnya dalam konteks puasa. Secara fisiologis, kondisi puasa sudah pasti menyebabkan lapar. Sebab tidak ada makanan yang masuk sama sekali setidaknya selama 14 jam. Setelah sahur sampai jam petang saat berbuka tiba, tubuh tidak terisi makanan ataupun minuman.

Nah, kondisi ini menyebabkan kadar glukosa, glikogen, lemak dan protein turun. Akibatnya, tubuh merasa lapar, karena energi di dalam tubuh sudah berkurang.

Menurut Dr. dr. Fiastuti Witjaksono, Msc. MS. SpGK, dokter spesialis gizi klinik dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, cadangan energi karbohidrat dalam tubuh hanya bertahan sekitar 10 jam. “Masuk akal jika mendekati jam 3 sore biasanya timbul rasa lapar dan mengantuk,” kata Fiastuti di sela seminar media “Lengkapi Menu Puasa Anak dengan Kiwi” bersama Zespri di Jakarta, baru-baru ini.

Saat amunisi karbohidrat menipis bahkan habis, maka cadangan energi lemak akan digunakan, untuk menggantikan energi yang telah berkurang.

Rasa lapar, apalagi jika pada anak-anak, bisa membuat mereka ‘cranky’ mudah marah dan tersinggung. Pada orang dewasa, rasa lapar bisa memicu rasa ngantuk dan tidak semangat bekerja. Oleh karena itulah, perlu makanan yang mengandung serat tinggi. Tujuannya tak lain agar perut kenyang lebih lama.

Nah, sumber makanan berserat bisa didapat dari sayuran dan buah-buahan. Bicara buah mengandung serat tinggi, ingatan kita akan terpaku pada apel. “Ini anggapan yang keliru. Ternyata kandungan serat buah kiwi melebihi kandungan serat pada apel,” kata Fiastuti.

Berdasarkan data USDA Nutrient Database, lima besar buah dengan serat tertinggi adalah cranberries (4,6 gram), delima (4 gram), durian (3,8 gram), pir (3,1 gram), dan kiwi dengan merek Zespri Green (3 gram) per 10 gram penyajian. Bandingkan dengan apel (2,4 gram) dan pisang (2,6 gram).

Lantas, buah apa lagi yang sebaiknya dikonsumsi saat buka dan sahur? Fiastuti menambahkan, penting untuk memperhatikan indeks glikemik dari jenis buah tertentu. “Pilihlah buah yang mengandung indeks glikemik rendah, karena akan membantu menjaga kadar glukosa darah lebih stabil sehingga membantu rasa kenyang bertahan lebih lama,” urainya.

Dia menambahkan, “Buah dengan indeks glikemik rendah juga yang paling baik untuk menjaga kadar glukosa darah naik dan turun perlahan agar badan tidak cepat lemas.”

Riset laboratorium membuktikan, buah yang memiliki indeks glikemik paling rendah adalah kiwi Zespri Green (48,5) dan kiwi Zespri SunGold (39,3) dibanding mangga, pisang, pepaya, dan nanas dalam takaran penyajian yang sama.

Selain itu, penting memilih buah yang mengandung kadar vitamin C tinggi. Ini penting karena vitamin larut air ini berfungsi menjaga daya tahan atau imunitas tubuh.  Pada anak-anak, mereka  membutuhkan sekitar 15-75 mg vitamin C per harinya. Sementara dewasa membutuhkan vitamin C sekitar 90 mg (laki-laki) dan 75 mg (perempuan).

Di antara semua buah, menurut penelitian, kiwi menduduki posisi teratas dengan kandungan vitamin C mencapai 142 mg per 100 gram, atau 30 kali lipat  dari kandungan vitamin C buah apel (4,6 mg per 100 gram).

Buah-buahan lain yang mengandung vitamin C dalam kadar tinggi, misalnya pepaya (61,8 mg per 100 gram), stroberi (58,8 mg per 100 gram), jeruk (53,2 mg per 100 gram), mangga (27,7 mg per 100 gram) dan pisang (8,7 mg per 100 gram).

Jika mencari buah ‘super’ yang mampu memenuhi syarat mengenyangkan, tinggi serat, kaya vitamin C, kiwi tampaknya menjadi pilihan menarik. “Ada sejumlah alasan mengapa buah kiwi menjadi primadona ketimbang buah-buahan lain, selain mengenyangkan, menstabilkan kadar glukosa darah tetap stabil sehingga tidak mudah lapar, buah ini juga mencerna protein lebih optimal karena enzim aktinidin yang berfungsi untuk membantu pencernaan protein menjadi maksimal, baik di lambung maupun di usus halus., dan meningkatkan daya tahan tubuh,” jelas Fiastuti.

Di kesempatan yang sama, Fiastuti berpesan agar kita menghindari minuman manis saat sahur. Mengapa? “Mengonsumsi yang manis-manis di saat sahur bisa membuat kadar gula darah jadi cepat naik, namun cepat juga turunnya. Risikonya, tubuh jadi cepat lapar di siang hari saat puasa,” ujarnya.

Nah, minuman manis ini bisa digantikan oleh makanan berserat. Sedangkan sumber air bagi tubuh bisa dicukupi dari minum air putih, kira-kira tiga gelas saat sahur. “Usahakan minum delapan gelas dari mulai berbuka hingga sahur agar kebutuhan cairan tubuh terpenuhi selama puasa,” tandas Fiastuti.

Jadi, tampaknya pepatahnya boleh diubah menjadi A kiwi fruit a day keeps the doctor away? (www.dokterdigital.com)

Iklan

From → Diet & Nutrition

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: