Skip to content

Deteksi Dini Gejala Stroke dengan MRA

30/06/2015

Stroke masih menjadi momok utama di Indonesia, menjadi biang penyebab kematian nomor satu, menggantikan posisi penyakit jantung sebagai penyebab kematian tertinggi.

stroke attack2

Analisis awal Sample Registration Survey (SRS) yang dilakukan Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) Kementerian Kesehatan menunjukkan stroke menjadi penyebab kematian pertama di Indonesia sepanjang 2014. Survei kematian skala nasional ini dihitung dari 41.590 kematian sepanjang 2014. Jumlah sampel ini dianggap mewakili dan sahih.

Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) yang juga diselenggarakan oleh Balitbangkes pada 2015 mengungkap, terjadi peningkatan prevalensi stroke dengan kriteria didiagnosis oleh tenaga kesehatan dari 8,3 per 1000 (Riskesdas 2007) menjadi 12,1 per 1000 (Riskesdas 2013) untuk stroke pada responden 15 tahun ke atas.

Penyakit stroke adalah gangguan aliran darah ke otak yang mengakibatkan defisit neurolosis (gejala-gejala gangguan neurologi) karena aliran darah yang tidak baik ke otak. Stroke timbul secara mendadak dan gejalanya menetap selama 24 jam.

Stroke terbagi menjadi dua jenis yakni stroke iskemik dan stroke perdarahan. Stroke iskemik adalah stroke yang diakibatkan sumbatan pembuluh darah otak, sedangkan stroke perdarahan adalah stroke akibat pecahnya pembuluh darah otak.

Faktor risiko stroke dibedakan menjadi dua bagian, yakni faktor risiko yang dapat dimodifikasi dan faktor yang tidak dapat dimodifikasi. Faktor risiko yang dapat dimodifikasi atau dijaga adalah hipertensi, jantung, diabetes mellitus, displepidemia atau gangguan lemak seperti kolesterol, trigliserida tinggi, kelebihan berat badan atau obesitas, dan kekentalan darah.

Sementara faktor risiko yang tidak dapat dimodifikasi adalah usia, riwayat keluarga, jenis kelamin dan suku bangsa. Berdasarkan data Riskesdas 2013, prevalensi pada laki-laki lebih tinggi (7,1 per 1000) dibanding perempuan (6,8 per 1000).

Dokter Spesialis Saraf RSPI-Pondok Indah Rubiana Nurhayati menjelaskan, tanda dan gejala stroke berbeda-beda tergantung di bagian pembuluh darah mana yang terkena, seberapa besar penyumbatan aliran pembuluh darah dan perdarahan yang terjadi.

“Contohnya, bila penyumbatan terjadi di area bicara, hal itu seketika dapat menyebabkan seseorang menjadi tak bisa bicara atau berbicara pelo dan tak dapat mengatur kata-katanya,” kata Rubiana dalam temu media membahas mengenai deteksi dini gejala stroke yang diselenggarakan Rumah Sakit Pondok Indah di Jakarta, baru-baru ini.

Rubiana menambahkan, “Gejala stroke lain adalah lumpuh mendadak, kepala pusing berputar-putar (vertigo), tak bisa melihat, dan mengalami mati rasa. Sering pingsan, blackout atau kehilangan kesadaran juga patut diwaspadai sebagai gejala dari stroke sumbatan.”

Nah, kondisi berbeda-beda yang dialami setiap penderita menyulitkan seseorang untuk mengenali gejala stroke. Kurangnya pemahaman masyarakat terhadap gejala awal stroke membuat penderita terlambat mendapat penanganan sehingga mengakibatkan kelumpuhan dan tidak jarang berujung pada kematian.

“Stroke memerlukan tindakan darurat medis pada masa emasnya yang berlangsung kurang dari enam jam setelah terjadinya gejala awal stroke. Penanganan segera diperlukan untuk mencegah terjadinya kerusakan tetap atau kecacatan yang lebih parah yang bisa mengakibatkan kematian,” papar Rubiana.

Untuk mengetahui apakah seseorang terkena stroke, deteksi dini menjadi langkah paling tepat untuk meminimalkan risiko dan sebagai tindakan pencegahan sebab langkah pengobatan bisa diambil lebih cermat sehingga peluang penyembuhan stroke juga semakin besar.

Seseorang dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan MRA (Magnetic Resonance Angiography) jika memiliki gejala seperti sakit kepala berdenyut-denyut yang sering timbul berulang-ulang di tempat yang sama. “Khususnya jika dirasakan makin lama makin sakit,” kata Rubiana.

Melalui pemeriksaan MRA, faktor risiko stroke dapat diketahui secara dini karena MRA dapat mendeteksi aterosklerosis (penyempitan atau pengerasan pembuluh darah) sebagai salah satu penyebab stroke dan kelainan pembuluh darah seperti aneurisma atau AVM (Arteriovenous Malformation).

Di kesempatan yang sama, Dokter Spesialis Radiologi Konsultan Radiologi Intervensi RSPI-Puri Indah Andi Darwis mengatakan, MRA merupakan pemerisakan invasif (tanpa operasi) yang dapat memberikan gambaran pencitraan pembuluh darah tanpa atau dengan sedikit bahan kontras dalam waktu lebih singkat.

MRA juga tidak menggunakan radiasi sinar-X dan dapat memberikan diagnostik yang akurat dan informatif sehingga dapat sangat berguna untuk penanganan awal pada golden period sehingga penanganan yang tepat dan cepat akan dapat menentukan kemungkinan pasien untuk pulih.

Pemeriksaan dengan MRA memungkinkan pencitra untuk pembuluh darah di bidang utama dari tubuh, termasuk otak, leher, jantung, dada, perut (seperti empedu, ginjal dan hati), panggul, lengan dan kaki.

“MRA dapat memberikan gambaran struktur pembuluh darah arteri dan vena pada otak. Dengan kualitas ini, MRA dapat membantu menegakkan diagnostik yang lebih akurat dan lebih rinci sehingga penanganan dapat dilakukan sedini mungkin sebelum terjadi stroke,” urai Darwis. (www.dokterdigital.com)

 

Iklan

From → Beauty & Health

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: