Hidupgaya.co – Sejumlah media dan fashion enthusiast diajak berkunjung ke Teras Lakon Serpong untuk mengenal lebih dekat koleksi Harsa yang telah dipresentasikan di penutupan JF3 Fashion Festival 2026, Juli silam.

Di acara ini, pendiri LAKON Indonesia Thresia Mareta, mengajak para undangan memahami setiap cerita yang tersimpan di balik proses kreatif terciptanya koleksi Harsa, dalam bahasa Sanskerta berarti ‘kebahagiaan’.

Thresia mengungkap, Harsa bukan sekadar sebuah koleksi, melainkan representasi perjalanan panjang yang dibangun melalui dedikasi, kesabaran, dan kecintaan terhadap karya tangan Nusantara.

Koleksi LAKON Indonesia dipresentasikan di Teras Lakon Serpong (dok. Hidupgaya)

Dia mengungkap, koleksi yang ditampilkan adalah sebuah visi dan hasil dari eksperimen yang dilakukan di Teras Lakon. “Jadi kalau dilihat di sini mungkin tekniknya benar-benar sudah lebih jauh dibandingkan awal saat LAKON Indonesia berdiri,” terang Thresia.

Mulai dari pemilihan material, pengerjaan batik, bordir, teknik penjahitan hingga tahap akhir penyelesaian busana direncanakan dengan matang agar semua berjalan efisien.

Thresia Mareta menunjukkan koleksi batik hasil kreasi LAKON Indonesia (dok. Hidupgaya)

Para undangan diajak menyusuri setiap koleksi lebih dekat. Setiap detail dapat dilihat dengan lebih jelas, dan menunjukkan setiap busana lahir melalui proses panjang yang melibatkan banyak tangan terampil.

“Yang kita saksikan ini sebenarnya adalah hasil eksperimen yang terus kami jalankan selama ini di Teras Lakon. Hasil ini semuanya akan jadi archive yang akan bisa selalu dikembangkan menjadi produk ready to wear saat waktunya tepat,” urai Thresia.

Thresia mengungkap, showcase di Teras Lakon ini menjadi  ruang refleksi atas perjalanan LAKON Indonesia selama delapan tahun dalam membangun identitas fashion berbasis craftsmanship Indonesia.

Koleksi LAKON Indonesia dipresentasikan di Teras Lakon Serpong (dok. Hidupgaya)

“Bagi LAKON, menjaga warisan budaya berarti terus menghadirkannya dalam bahasa desain yang relevan bagi generasi masa kini,” cetus Thresia.

Koleksi yang ditunjukkan di Teras Lakon, sebut Thresia, sebenarnya semuanya kelas artisan. “Kompromi harga harus dilakukan supaya bisa masuk ke pasar menengah, yang menjadi target LAKON,” imbuhnya.

Untuk mencapai tujuan itu, LAKON berusaha untuk membuat produk sangat terima, mulai dari batik, hasil karya tangan harus dibuat sangat baik. “Hasil karya tangan yang sangat baik itu yang biasanya pekerjaan artisan. Tapi LAKON bisa membuat itu,” urai Thresia.

Koleksi LAKON Indonesia dipresentasikan di Teras Lakon Serpong (dok. Hidupgaya)

Agar harga terjangkau kalangan menengah, Thresia beserta tim memastikan prosesnya berjalan efisien.  “Kalau nggak bisa efisien di setiap titiknya itu nanti harga pasti ujungnya mahal. Untuk bisa sampai ke situ semua proses itu harus direncanakan sebelumnya dan itu harus presisi,” tandasnya.

Di tangan Irsan selaku Direktur Kreatif LAKON, koleksi Harsa menawarkan perspektif berbeda. Koleksi ini menegaskan bahwa karya berkualitas membutuhkan waktu, ketelitian, serta dedikasi.

Eksplorasi material seperti katun poplin, katun voile, satin duchess, dan organza dipadukan dengan kekayaan batik serta bordir karya tangan Indonesia.

Koleksi LAKON Indonesia dipresentasikan di Teras Lakon Serpong (dok. Hidupgaya)

Irsan dengan piawai menerjemahkan siluet yang lebih lembut dan elegan, memadukan karakter daily wear hingga daily wear deluxe.

Permainan proporsi dan konstruksi menghadirkan busana yang modern, ringan, fungsional, namun tetap memancarkan kemewahan yang subtil.

Hasilnya, busana yang digarap dengan cermat dan ketelian tinggi namun dapat dimiliki dengan harga terjangkau. (HG)