Hidupgaya.co – Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji menyampaikan perkembangan industri pengolahan nonmigas tumbuh 5,32% pada triwulan kedua 2026 lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,29%, menjadi sinyal positif bagi prospek manufaktur Indonesia.
“Pertama kali dalam satu dekade ini, sekurang-kurangnya satu dekade ini, pertumbuhan industri pengolahan nonmigas lebih tinggi daripada pertumbuhan ekonomi nasional,” ujar Menteri Sarmuji dalam sambutan pembukaan pameran ALLPack Indonesia di JIExpo kemayoran, Jakarta Pusat, Selasa (20/10).
Kinerja yang impresif itu terlihat dari kontribusinya yang ada pada berbagai indikator ekonomi. Pada triwulan dua tahun 2026, Kemenperin memberikan kontribusi terhadap PDB sebesar Rp1.102,88 triliun dan berkontribusi hingga 38,9% dari realisasi investasi nasional.
Menteri Sarmuji menambahkan, sepanjang Januari sampai Agustus tahun 2026, Kemenperin juga memberikan kontribusi sebesar 82,40% terhadap total ekspor nasional. “Tentu ini semua berkat kerja sama yang intens antara pemerintah, para industrialis, asosiasi, dan seluruh pihak yang terlibat dalam industri manufaktur,” tuturnya.
Kabar lain yang patut disyukuri adalah pertumbuhan industri semakin merata. Sebanyak 14 dari 15 subsektor Kemenperin mencatatkan pertumbuhan positif pada triwulan dua tahun 2026.
Subsektor dengan pertumbuhan positif, yaitu makanan dan minuman, farmasi, kosmetik, kertas, serta mesin menjadi sinyal yang baik bagi prospek tumbuh ke depan secara nasional. “Kalau kita lihat, industri makanan dan minuman tumbuh 5,51% sampai pertengahan tahun ini,” bebernya.
Menteri Sarmuji menyampaikan, seiring dengan pertumbuhan pasar dan tingkatnya kesadaran konsumen akan kelestarian lingkungan dan kesehatan, tuntutan terhadap kualitas produk industri juga semakin meningkat.
Menurutnya, kualitas produk tidak lagi hanya ditentukan oleh hasil akhirnya, tetapi juga oleh efisiensi proses produksi, penggunaan mesin dan bahan yang tepat, pemilihan bahan, kemasan yang aman dan tahan lama, serta penerapan teknologi yang lebih ramah lingkungan.

Untuk itu, Kementerian Perindustrian terus mendorong modernisasi teknologi melalui program restrukturisasi mesin dan peralatan, yaitu pembelian mesin, penggantian sebagian pembelian mesin atau peralatan sesuai kriteria. Program ini dapat dimanfaatkan oleh pelaku industri yang memenuhi persyaratan, antara lain pada sektor makanan dan minuman, hasil hutan dan perkebunan, termasuk industri kecil menengah.
Di sisi lain, meningkatnya kesadaran akan keberlanjutan juga membuka peluang pengembangan industri furnitur kecil atau pemasok rumah tangga. Sarmuji menekankan, Kementerian Perindustrian terus mendorong inovasi kemasan, termasuk pengembangan bioplastik sebagai alternatif pengganti plastik konvensional.
Sejalan dengan hal tersebut, pemerintah juga mendorong penerapan ekonomi sirkular melalui penggunaan kembali dan daur ulang material kemasan.
Berdasarkan Undang-undang Pengelolaan Sampah tahun 2008 tentang pengelolaan sampah, bahwa produsen wajib mengolah kemasan dan atau barang yang diproduksinya. Hal itu menekankan tanggung jawab produsen dalam pengolahan kemasan dan produk, termasuk pengelolaan pasca-konsumsi.
Dalam aspek standardisasi, Kementerian Perindustrian telah menetapkan Permenperin No. 26 Tahun 2025 tentang pemberlakuan SNI untuk kertas dan karton sebagai bahan baku pembuatan penutup primer untuk pangan siap saji, guna meningkatkan keamanan dan mutu kertas kemasan pangan.
Kebijakan ini sejalan dengan Peraturan Badan POM No. 11 Tahun 2026 tentang kemasan pangan, sebagai pedoman baku mutu pembuat persyaratan keamanan dan pangan untuk menjamin kemasan pangan yang digunakan tidak melepaskan cemaran yang membahayakan kesehatan masyarakat.
Selain itu, pemerintah terus mendorong berupaya menciptakan ekosistem industri melalui berbagai fasilitas, antara lain insentif fiskal.
Menteri Sarmuji mengajak seluruh pelaku industri untuk terus berinovasi dengan memanfaatkan teknologi yang lebih efisien dan ramah lingkungan, serta menerapkan prinsip dan konsep ekonomi sirkular, sehingga dapat menghasilkan produk industri yang inovatif, berkualitas, berdaya saing, dan berkelanjutan.
Menyoroti pameran ALLPack Indonesia 2026, antusiasme peserta pameran menurut Menteri Sarmuji mencerminkan optimisme terhadap kondisi perekonomian nasional. “Suasana pameran yang ramai dan tingginya partisipasi pelaku industri menunjukkan Indonesia berada dalam kondisi yang baik,” ujarnya.
Bidik 90 ribu pengunjung
Kesempatan sama, Daud D. Salim, CEO Krista Exhibitions Group, mengatakan pameran ALLPack Indonesia 2026, hadirkan lebih dari 1.600 peserta pameran dari 42 negara, termasuk 10 pelaku Industri Kecil dan Menengah (IKM), yang mempertemukan pelaku industri, penyedia teknologi, distributor, dan pembeli dalam satu ekosistem bisnis.
ALLPack Indonesia 2026 mencakup sektor pengemasan, pengolahan, plastik, percetakan, daur ulang, otomasi industri, hingga farmasi.

Daud menekankan penyelenggaraan ALLPack Indonesia 2026 tidak hanya menjadi ajang untuk menampilkan inovasi dan teknologi terkini, tetapi juga mendorong pelaku industri mengambil langkah nyata dalam meningkatkan efisiensi produksi, memperkuat daya saing, dan menjawab kebutuhan pasar yang terus berkembang.
“ALLPack Indonesia 2026 memiliki peran penting dalam mendorong kemajuan industri nasional melalui akses terhadap teknologi, inovasi, dan peluang kerja sama global. Pameran ini tidak hanya menjadi tempat bertemunya pelaku industri, tetapi juga mendorong lahirnya solusi yang mampu meningkatkan efisiensi, produktivitas, dan daya saing industri,” bebernya.
Selama empat hari, ALLPack Indonesia 2026 menargetkan lebih dari 90.000 pengunjung bisnis dari lebih dari 30 negara. Para pelaku industri diharapkan dapat memanfaatkan momentum ini untuk memperluas jaringan, mengenal teknologi terkini, serta menjajaki peluang kerja sama dan bisnis baru.
Tidak hanya menghadirkan inovasi di bidang pengemasan dan pengolahan, ALLPack Indonesia 2026 juga menjadi pusat pertemuan berbagai sektor industri melalui penyelenggaraan sejumlah pameran pendukung, yaitu ALLPlas, ALLProcess, ALL Beverage Technology, IPEX, dan FoodTech Indonesia.
Penyelenggaraan ALLPack Indonesia 2026 mendapat dukungan dari Kementerian Perindustrian, Kementerian Pariwisata Republik Indonesia, serta Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM. (HG)