Hidupgaya.co – Kebutuhan kemasan berkualitas semakin penting bagi pelaku usaha makanan dan minuman (mamin).

‎”Kemasan tidak hanya berfungsi melindungi produk, tetapi juga memuat informasi penting seperti komposisi, standar mutu, dan legalitas produksi,” tutur Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka Kementerian Perindustrian, Reni Yanita di diskusi Road Map 2025-2026 Indonesia Petrochemical Industry Development di Jakarta, Kamis (15/10).

Industri kemasan Indonesia diproyeksikan tumbuh sekitar 5–6% sepanjang 2026, seiring meningkatnya aktivitas perdagangan elektronik dan kebutuhan kemasan untuk mendukung program pangan nasional.

Adapun jumlah UKM mamin mencapai sekitar 2,1 juta pada 2025.

Untuk membantu pelaku usaha meningkatkan kualitas kemasan, Kementerian Perindustrian menyediakan Klinik Desain Merek dan Kemasan (KDMK), termasuk layanan konsultasi serta fasilitasi perbaikan desain.

‎Reni mengungkap, sejak 2015 hingga Oktober 2026, layanan tersebut telah menjangkau 1.614 UKM dan memfasilitasi perbaikan desain kemasan bagi 336 UKM.

Sektor mamin pengguna utama kemasan kertas

‎Direktur Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian Putu Juli Ardika menyampaikan, sektor makanan dan minuman menjadi pengguna utama kemasan kertas, dengan pangsa pasar sekitar 31,8 persen pada 2025.

Konferensi pers Road Map 2025-2026 Indonesia Petrochemical Industry Development di Jakarta, Kamis (15/10) – dok. Hidupgaya

Nilai pasar kemasan kertas Indonesia pada 2026 diperkirakan mencapai sekitar US$16 miliar.

Bahan kemasan berbasis papan bergelombang (corrugated board) mendominasi pasar dengan pangsa sekitar 52,6 persen.

Namun, tantangan tetap muncul karena sebagian kemasan kertas masih menggunakan lapisan plastik konvensional. Untuk itu, Kemenperin mendorong inovasi material yang lebih ramah lingkungan, termasuk pengembangan bioplastik.

Sejalan dengan potensi pertumbuhan industri kemasan, Krista Exhibitions Group gelar pameran ALLPack Indonesia 2026, pada 20–23 Oktober 2026 di JIExpo, Kemayoran, Jakarta.

Pameran yang memasuki penyelenggaraan ke-25 ini menghadirkan lebih dari 1.600 peserta dari 42 negara, termasuk 10 pelaku industri kecil dan menengah (IKM).

“Jumlah peserta tersebut meningkat 15% dibandingkan penyelenggaraan sebelumnya,” terang CEO Krista Exhibitions Daud D. Salim.

‎Daud menyampaikan peningkatan jumlah peserta mencerminkan kepercayaan pelaku industri terhadap potensi pasar pengolahan dan pengemasan di Indonesia.

“Peningkatan jumlah peserta pameran tahun ini menunjukkan besarnya potensi industri Indonesia dan kepercayaan terhadap pasar nasional,” bebernya.

Pameran Allpack Indonesia menjadi sarana bagi produsen teknologi, distributor, pembeli, dan pelaku industri untuk memperluas jaringan bisnis sekaligus menjajaki peluang kerja sama.

Pameran ini diproyeksi menarik minat lebih dari 90.000 pengunjung bisnis dari berbagai negara.

Daud berharap kehadiran peserta dan pengunjung internasional diharapkan memperluas peluang perdagangan serta mendorong transfer teknologi di sektor pengemasan dan pengolahan. (HG)