Hidupgaya.co – Di seluruh dunia, sekitar 57 juta orang hidup dengan demensia, dengan 10 juta kasus baru didiagnosis setiap tahunnya. Hal ini menggambarkan dampak kondisi tersebut terhadap kesehatan masyarakat dan ekonomi.

Komite Penasihat Pedoman Diet 2025 telah menelaah bukti yang tersedia mengenai pola makan yang berkaitan dengan risiko gangguan kognitif dan demensia, namun menyatakan bahwa data yang ada belum cukup untuk merumuskan rekomendasi.

Sebagai tanggapan, sebuah makalah baru karya peneliti dari AS dan Eropa membahas ketidakjelasan di antara berbagai studi dan menyelaraskan data utama untuk memperjelas bagaimana pola makan yang berbeda dapat memengaruhi kinerja kognitif, fungsi eksekutif, dan demensia.

Dengan menggabungkan data individu peserta dari berbagai studi, para peneliti memperkuat bukti yang tersedia untuk menjadi landasan kebijakan kesehatan masyarakat.

Evaluasi 7 pola makan

Menurut studi yang dipublikasikan di Journal of Nutrition, para ilmuwan melakukan analisis gabungan terhadap 17.368 peserta menggunakan data yang telah diselaraskan dari berbagai studi di Eropa dan AS.

Asupan makanan dinilai menggunakan kuesioner frekuensi makanan, riwayat diet, atau catatan makanan, kemudian distandardisasi untuk mengukur tingkat kepatuhan terhadap tujuh pola makan yang dianggap sehat.

Pola makan yang diteliti meliputi Healthy Eating Index-2020 (HEI-2020), Alternate Healthy Eating Index-2010 (AHEI-2010), EAT-Lancet, diet Mediterania tradisional (MedDiet), MedDiet berkelanjutan, Dietary Approaches to Stop Hypertension (DASH), dan Mediterranean-DASH Intervention for Neurodegenerative Delay (MIND).

Penelitian menemukan bahwa jika dilihat secara lintas sektoral, tingkat kepatuhan yang lebih tinggi terhadap MedDiet berkelanjutan dikaitkan dengan kinerja otak global lebih baik, sementara kepatuhan yang lebih tinggi terhadap DASH dan MedDiet berkelanjutan terkait dengan membaiknya fungsi eksekutif.

Namun, para penulis menekankan bahwa temuan lintas sektoral tidak serta-merta sejalan dengan dampak positif yang terjadi seiring berjalannya waktu, atau secara longitudinal.

“Dalam meta-analisis data individu peserta yang telah diselaraskan ini, kepatuhan terhadap pola makan MedDiet berkelanjutan, DASH, dan MIND dikaitkan dengan kinerja kognitif yang lebih baik secara lintas sektoral, namun tidak secara longitudinal,” kata peneliti.

Mereka menemukan bahwa dalam studi longitudinal, hanya diet MIND—yang dinilai melalui tiga kelompok studi (kohort) di AS—yang berkaitan dengan fungsi eksekutif yang baik.

Para penulis mencatat bahwa temuan ini menyoroti pentingnya strategi harmonisasi untuk mengatasi heterogenitas metodologis serta mendukung upaya di masa depan dalam memperkuat inferensi kausal mengenai hubungan antara pola makan dan penuaan kognitif.

Pola makan saja mungkin tidak cukup

Makalah tersebut menyimpulkan bahwa penelitian ini mengisyaratkan bahwa kualitas pola makan dapat mendukung kesehatan kognitif, namun kemungkinan besar memerlukan integrasi dengan perbaikan gaya hidup yang lebih menyeluruh untuk menghasilkan manfaat jangka panjang yang bermakna.

Menurut penulis Lyn Steffen dari University of Minnesota, hasil penelitian itu yang tidak menunjukkan signifikansi statistik terkait hubungan antara beberapa pola makan—termasuk diet MIND—dengan penurunan kognitif sejalan dengan temuan dari uji klinis acak berskala besar. “Uji coba tersebut memperlihatkan tidak adanya perbedaan signifikan dalam fungsi kognitif antara peserta yang menjalani diet MIND dan mereka yang menjalani diet kontrol,” ujarnya.

Kemungkinan besar, baik kualitas pola makan maupun aktivitas fisik merupakan faktor gaya hidup yang penting untuk memperlambat penurunan kognitif. (HG)