Seiring memanasnya kontroversi sengit film The Assassin(s), sutradara film ternama Zhang Yimou dan rekan sesama anggota juri Festival Film Internasional Busan (BIFF) ke-31 menyerukan perlindungan terhadap kebebasan artistik.

Zhang, yang dikenal lewat film-film seperti Red Sorghum (1988), Raise the Red Lantern (1991), dan Not One Less (1999), menjabat sebagai ketua juri untuk kategori kompetisi BIFF.

Ia turut memberikan pandangan mengenai batasan antara fakta sejarah dan interpretasi artistik. “Karya kreatif adalah karya kreatif,” ujar Zhang dalam konferensi pers, seraya menegaskan bahwa karya kreatif tidak seharusnya terikat secara kaku pada fakta sejarah, dikutip media Korea.

“Kebenaran sejarah itu sendiri pun sering kali bisa menjadi bahan perdebatan. Film berfungsi sebagai media artistik yang menyampaikan kisah masa lalu kepada masyarakat masa kini,” imbuhnya.

“Penonton mungkin menafsirkan sebuah film dengan cara berbeda, dan sebagian orang mungkin tidak sependapat dengan pandangan lain, namun justru di situlah letak daya tarik sinema.”

Meskipun Zhang mengakui bahwa ia belum menonton The Assassin(s), ia mengatakan dirinya mengetahui adanya perdebatan publik seputar karya tersebut.

Film Korea ini mendramatisasi peristiwa pembunuhan Ibu Negara saat itu, Yuk Young-soo—istri mantan Presiden Park Chung-hee—pada tahun 1974.

Film ini menuai kritik tajam dari kalangan politik konservatif dan kelompok masyarakat sipil, yang menuduh pihak produksi mendistorsi kebenaran sejarah dengan memunculkan teori-teori alternatif di balik peristiwa tragis tersebut.

Pemeran The Assassin(s)

Kontroversi ini berujung pada langkah hukum ketika kelompok-kelompok konservatif mengajukan aduan pencemaran nama baik terhadap para pembuat film, yang memicu penyelidikan polisi serta desakan agar penayangan film tersebut dibatalkan.

Sutradara asal Korea, July Jung, yang juga menjadi anggota juri kompetisi utama bersama Zhang, menyoroti tekanan psikologis berat yang saat ini dirasakan oleh para pembuat film.

“Pada akhirnya, film adalah karya fiksi,” kata Jung. “Saat saya membuat film sendiri, keyakinan saya bahwa sinema merupakan sebuah karya seni tidak pernah goyah. Namun, melihat reaksi keras belakangan ini membuat saya merasa cukup terintimidasi sebagai seorang sutradara, meskipun bukan saya yang menyutradarai film tersebut.”

Jung menambahkan bahwa meskipun para kreator harus memikul tanggung jawab penuh atas dunia sinematik yang mereka bangun, mereka juga harus diizinkan untuk terus berbagi visi artistik mereka dengan penonton.

“Dari mana pun asal sebuah cerita, pembuat film memikul tanggung jawab penuh atas apa yang mereka ciptakan,” ujar Jung. “Kami membuat film dengan harapan bahwa penonton akan memberikan pujian maupun kritik. Saya berharap para pembuat film dapat terus berkarya dalam lingkungan yang menyambut beragam pendapat.”

Sutradara asal Tiongkok, Bi Gan, anggota dewan juri, membagikan kriterianya dalam menilai film-film kompetisi sembari menekankan kekuatan ekspresi yang berani.

“Film yang bagus sulit didefinisikan dalam satu kalimat, namun film yang buruk dapat dirasakan secara naluriah,” kata Bi. “Saat mengevaluasi film kompetisi, saya mencari karya yang berani, mendobrak batasan, dan mengungkapkan emosi tanpa keraguan, sekaligus menghubungkan perasaan antarmanusia.”

Bi menambahkan bahwa penambahan kategori kompetisi meningkatkan signifikansi festival ini. “Kategori kompetisi memungkinkan kami membawa beragam karya ke dalam konteks yang lebih luas dan memicu diskusi bermakna mengenai sinema,” ujarnya.

Produser asal Vietnam, Tran Thi Bich Ngoc, menyoroti peran vital BIFF sebagai wadah untuk mendukung pembuat film pendatang baru dan memperluas jangkauan sinema Asia.

“BIFF memberikan kesempatan krusial untuk menjembatani kesenjangan budaya dan ekonomi bagi para pembuat film di seluruh kawasan ini,” kata Tran. “Seiring pesatnya pertumbuhan sinema Asia dan munculnya teknologi baru, diperkenalkannya kategori kompetisi menjawab kebutuhan untuk memperkuat suara generasi baru penutur cerita Asia.”

Tahun ini menandai tahun kedua penyelenggaraan kategori kompetisi utama BIFF, yang dibentuk untuk menyoroti film-film Asia yang luar biasa.

Panel yang terdiri dari tujuh anggota juri—termasuk Zhang, Jung, Bi, Tran, sutradara Jepang Kei Ishikawa, serta aktor Korea Choi Hee-seo dan aktor Kazakhstan Samal Yeslyamova—akan mengevaluasi 14 film yang bersaing memperebutkan Busan Award.

Kembali ke Busan setelah beberapa tahun, Zhang mengungkapkan kecintaannya yang mendalam terhadap festival ini serta kiprah internasionalnya yang terus berkembang.

“Saya sangat senang bisa kembali ke Busan dan berpartisipasi dalam festival penting ini,” ujar Zhang. “BIFF telah berkembang menjadi wadah penting bagi sinema Asia yang menarik perhatian dunia. Saya berharap festival-festival film Asia—termasuk yang diselenggarakan di Busan, Beijing, dan Tokyo—terus berkembang bersama agar penonton di seluruh dunia dapat menemukan lebih banyak lagi film hebat dari Asia.” (HG)