Hidupgaya.co – BIGBANG kembali dengan kuat. Lautan mahkota kuning yang bersinar. Ribuan suara bersorak dalam bahasa Korea. Lonjakan energi yang dahsyat terasa saat dentuman synthesizer pembuka lagu Fantastic Baby memecah suasana stadion. King of Pop Korea, BIGBANG telah kembali.

Empat belas tahun setelah konser besar pertama mereka di Eropa, dan setelah satu dekade yang diwarnai wajib militer, keluarnya dua anggota, serta skandal hukum, grup asal Korea Selatan ini tampil di Stadion Tottenham Hotspur, London, Sabtu silam sebagai bagian dari tur dunia peringatan hari jadi dua dekade mereka berkarya.

Di dalam stadion yang hampir penuh sesak, penonton tidak sekadar menyaksikan konser—mereka menjadi bagian dari momen penting dalam sejarah K-pop.

Saat grup tersebut muncul dengan busana gemerlap dan gaya high-fashion yang menjadi ciri khas mereka, penonton menari dengan bebas, menciptakan suasana malam yang lebih terasa seperti sebuah reuni akbar ketimbang sekadar satu perhentian dalam rangkaian tur biasa.

Bagi para penggemar, ini adalah reuni yang telah lama dinantikan. Namun, makna di balik kembalinya BIGBANG melampaui sekadar nostalgia.

Bertahun-tahun sebelum BTS memadati Stadion Wembley dan Blackpink menjadi penampil utama di Hyde Park, BIGBANG telah membuktikan bahwa musik pop Korea mampu meraih kesuksesan jauh melampaui Asia.

Grup ini tampil di berbagai arena di negara-negara Barat, berkolaborasi dengan artis-artis besar Amerika, bereksperimen dengan musik hip-hop dan elektronik, serta menjadikan identitas kreatif dan gaya busana mereka sebagai bagian dari daya tarik utama.

Setelah sempat menyaksikan penampilan perdana mereka di Eropa di Wembley Arena pada tahun 2012, perubahan suasana pada Sabtu lalu itu terasa sangat mencolok, menurut laporan BBC.

Jika konser awal mereka di Inggris didorong oleh semangat untuk membuktikan diri dan mempromosikan album baru, kembalinya BIGBANG sebagai trio: G-Dragon, Taeyang, dan Daesung, terasa dirancang khusus untuk komunitas penggemar setia.

Dengan mengaransemen ulang lagu-lagu klasik dan melakukan remix secara cerdas untuk menyesuaikan dengan absennya beberapa anggota, grup ini mengandalkan efek piroteknik, iringan live band khas mereka, serta karisma panggung yang kuat, alih-alih menggunakan tata panggung yang rumit.

Hasilnya adalah sebuah reuni yang terasa penuh sukacita, bersahaja, dan ceria.

Boyong penghargaan musik bergengsi di Barat

Pada tahun 2011, BIGBANG menjadi grup K-pop pertama yang memenangkan penghargaan musik bergengsi di Barat saat mereka membawa pulang penghargaan Worldwide Act—kategori yang baru diperkenalkan saat itu—di ajang MTV Europe Music Awards.

Saat tampil perdana di Eropa di Wembley Arena pada bulan Desember 2012, pertunjukan kedua ditambahkan setelah tiket pertunjukan pertama habis terjual dalam waktu kurang dari dua jam.

Mereka memimpin generasi perintis yang membuktikan bahwa kesuksesan lintas batas secara global benar-benar bisa dicapai.

Kemudian pada tahun 2016, Forbes memperkirakan BIGBANG telah meraup pendapatan sebesar US$44 juta (£33,2 juta) selama tahun sebelumnya, menjadikan mereka artis K-pop pertama yang masuk dalam daftar Celebrity 100 versi majalah tersebut.

“Terkait pasar global untuk K-pop, tidak diragukan lagi bahwa BIGBANG memberikan kontribusi yang sangat besar,” ujar Dr. Haekyung Um, dosen senior bidang musik di Universitas Liverpool kepada BBC.

“Grup-grup sebelumnya populer di pasar Asia, namun BIGBANG adalah bintang internasional sejati. Saya akan menyebut mereka sebagai Raja K-pop, sama seperti kita menyebut Michael Jackson sebagai Raja Pop,” tambah Um.

“Kesuksesan Big Bang benar-benar menjadi sinyal awal betapa suksesnya tur stadion K-pop di dunia Barat.”

Sebelum BIGBANG, grup-grup K-pop sering kali dipandang sebagai produk yang sepenuhnya dibentuk oleh agensi hiburan.

Namun, para kritikus musik menilai BIGBANG mendobrak pakem tersebut. Mereka menulis dan memproduksi lagu-lagu mereka sendiri, membentuk citra streetwear mereka sendiri, serta memadukan berbagai genre mulai dari hip-hop dan R&B hingga trot, sebuah genre musik rakyat tradisional Korea Selatan.

Bagi banyak penonton yang hadir pada hari Sabtu itu, pertunjukan tersebut menjadi pelajaran langsung mengenai silsilah K-pop—sebuah kesempatan untuk menyaksikan penampilan langsung dari sosok yang menjadi ‘idola bagi para idola.’

“Mereka berbeda karena tidak mengikuti pola seragam ‘cowok ganteng’ ala K-pop yang klise,” jelas Sharon, yang datang berkunjung ke London dari Singapura.

“Musik mereka lebih berkarakter kuat, dengan nuansa hip-hop yang lebih kental. Mereka melakukan apa yang harus mereka lakukan, dan bagi saya, mereka adalah pelopor sejati.”

Perubahan arah ini membuat mereka tampil beda di seluruh Asia dan turut meletakkan dasar bagi artis modern yang memproduksi karya sendiri, seperti BTS.

Lalu, ada pula simbol mahkota kuning. Dalam konser BIGBANG mustahil untuk melewatkan lightstick berbentuk mahkota milik grup tersebut, yang dikenal dengan sebutan ‘Bang Bong.’

Pada masa awal K-pop, para penggemar mendukung artis dengan melambaikan balon berwarna atau tongkat cahaya (glow stick) biasa. Namun, demi menciptakan identitas yang khas dan permanen bagi basis penggemar mereka—yang dijuluki VIP—pemimpin grup G-Dragon mengusulkan penggunaan tongkat cahaya berbentuk mahkota kuning, yang kemudian menjadi acuan bagi pembuatan pernak-pernik konser khusus.

“Interaksi penggemar dan sorakan yang terkoordinasi memiliki akar sejarah yang kuat dalam musik Korea,” jelas Um. “Namun, BIGBANG turut memodernisasi teknologi fisiknya.”

‘Bang Bong’ menjadi pelopor model tongkat cahaya dan pernak-pernik khusus bagi penggemar yang kini banyak ditiru oleh grup-grup K-pop modern.

Di luar lokasi acara, semangat yang sama dari para penggemar meluap hingga ke jalanan; mereka saling bertukar cendera mata buatan sendiri dan kartu foto—sebuah kebiasaan yang belakangan ini juga mulai terlihat dalam tur konser berskala besar di dunia Barat.

Kelompok sukarelawan penggemar membagikan sekitar 35.000 spanduk cetak khusus di seluruh area stadion, serta mengoordinasikan aksi penghormatan massal di mana spanduk-spanduk tersebut diangkat secara serentak pada momen-momen penampilan tertentu.

BIGBANG juga akan tampil di Indonesia, awal tahun depan. Setelah tiket pertunjukan perdana pada 16 Januari 2027 ludes terjual, BIGBANG akan kembali mengguncang Jakarta International Stadium (JIS) pada 17 Januari 2027. YG Entertainment menyebut pertunjukan tambahan ini digelar karena tingginya permintaan penggemar. (HG)