Hidupgaya.co – Serial orisinal Disney+ “Made in Korea” kembali hadir di musim kedua yang menyuguhkan narasi jauh lebih intens dibandingkan sebelumnya. Formatnya beralih dari struktur episodik menjadi satu alur cerita utuh yang berkelanjutan sepanjang enam episode.

Melanjutkan kesuksesan musim perdana, yang tercatat sebagai tayangan orisinal Korea yang paling banyak ditonton secara global di Disney+ pada tahun 2025 dan meraih penghargaan bergengsi di Baeksang Arts Awards, drama ini ‘melompat’ maju sembilan tahun dari latar waktu musim sebelumnya.

Berlatar situasi politik menjelang kudeta militer 12 Desember 1979, Musim 2 menyoroti kekosongan kekuasaan akibat pembunuhan presiden. Berbeda dengan musim pertama, keseluruhan enam episode ini menyajikan satu narasi besar yang saling terhubung.

“Jika Musim 1 menampilkan kisah yang berbeda di setiap episodenya, Musim 2 adalah satu alur yang terus memacu adrenalin dari Episode 1 hingga 6,” ujar sutradara Woo Min-ho dalam konferensi pers di Hotel Conrad Seoul dikutip media Korea.

Ia menambahkan bahwa penonton akan merasakan pengalaman yang jauh lebih mendalam dan memikat pada musim baru ini. “Jika Musim 1 terasa seperti pertengkaran anak-anak, Musim 2 terasa seperti pertarungan antarorang dewasa.”

Woo menegaskan bahwa meskipun peristiwa sejarah menjadi landasan eranya, kisah ini berfokus pada tokoh-tokoh fiksi yang bergerak di lingkaran luar kekuasaan. Premis utamanya mengeksplorasi serangan balik fiktif yang dipimpin oleh Badan Intelijen Pusat Korea (KCIA) di bawah komando tokoh utama, Baek Ki-tae (Hyun Bin).

Hyun Bin mengungkap meskipun Ki-tae kini memiliki kekayaan lebih besar dan posisi lebih tinggi dibandingkan Musim 1, karakternya didorong oleh ambisi yang jauh lebih dalam dan tak terpuaskan.

“Saat ia terus menanjak tanpa henti, ia berbenturan dengan berbagai faksi dan tokoh yang berusaha menghentikannya, yang terkadang membuatnya merasa terisolasi dan kesepian,” ujarnya.

“Ia juga menghadapi krisis akibat pilihan-pilihan berbahaya yang diambilnya. Saya sangat memperhatikan upaya untuk menampilkan dimensi karakter yang kompleks dan beragam ini,” beber Hyun Bin.

Kembali hadir setelah sembilan tahun untuk menghentikan Ki-tae, sosok Jang Geon-young (Jung Woo-sung) mengalami transformasi dari seorang pria yang menjunjung keadilan menjadi sosok yang dikuasai oleh dendam.

Jung menggambarkan karakternya sebagai seseorang yang telah kehilangan segalanya dan jatuh ke titik terendah dalam hidupnya. “Ia beralih dari semangat menegakkan keadilan bagi publik menjadi hasrat untuk membalas dendam secara pribadi,” ungkapnya.

“Tanpa menyadari bahwa tindakannya merupakan bentuk balas dendam pribadi, ia terjebak dalam pembenaran diri saat terus-menerus mengejar Ki-tae untuk menjatuhkannya. Ia adalah karakter yang benar-benar menggambarkan dilema manusia, memperlihatkan sosok pria yang ibarat sedang menunggangi harimau tanpa tahu ke mana hewan itu akan membawanya,” ungkap Jung.

Terjepit di antara kedua pria tersebut, Baek Ki-hyun (Woo Do-hwan) telah tumbuh jauh lebih dewasa selama jeda waktu sembilan tahun. Berbeda dengan Musim 1, saat ia sempat bimbang antara kakak laki-lakinya dan orang-orang di sekeliling mereka, Ki-hyun kini memiliki keyakinan teguh miliknya sendiri.

Woo mengungkap bahwa penonton akan melihat karakter yang jauh lebih tegas di musim ini. “Ia telah mengembangkan prinsipnya sendiri dan memahami dengan jelas apa yang ingin ia pertahankan,” ujar Woo.

“Aku berusaha keras membuat penonton penasaran dengan pilihan-pilihan yang ia ambil. Kini ia jauh lebih tegas, dan hal itu justru semakin mempertajam konflik dengan kakaknya.”

Dinamika hubungan antara Ki-tae, Geon-young, dan Ki-hyun menjadi pilar utama serial ini. Saat membahas latar sejarahnya, sutradara Woo Min-ho menjelaskan bahwa cerita ini berlatar waktu tepat sebelum peristiwa pemberontakan militer tahun 1979.

“Jika film-film seperti ‘The Man Standing Next’ (2020) dan ‘12.12: The Day’ (2023) mengeksplorasi tokoh-tokoh nyata yang terlibat langsung dalam peristiwa tersebut, serial ini justru berfokus pada karakter fiksi,” ujarnya. “Meskipun berlatar peristiwa sejarah yang sama, kisahnya akan terlihat sangat berbeda saat dilihat dari sudut pandang mereka.”

Jung menyoroti tema yang lebih luas, dengan menyatakan bahwa pilihan individu di saat-saat krusial dalam sejarah masih terus terasa dampaknya hingga hari ini.

“‘12.12: The Day’ dan ‘The Man Standing Next’ mengupas langsung peristiwa sejarah nyata serta sisi kemanusiaan di dalamnya, sedangkan ‘Made in Korea’ terasa jauh lebih bebas dan menghibur sebagai sebuah kisah bergenre yang digerakkan oleh karakter,” kata Jung. “Penonton dapat melihat betapa pentingnya pilihan individu dalam sebuah sistem yang didorong oleh nasionalisme dan kekuasaan.”

“Made in Korea” Musim 2 akan merilis dua episode setiap minggunya di Disney+ mulai 9 September. (HG)