Hidupgaya.co – Perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) berlangsung masif dan menjadi sebuah keniscayaan.

Google melihat Indonesia sebagai salah satu pasar penting dalam perkembangan AI kreatif. Bahkan, Indonesia kini masuk dalam lima besar negara dengan penggunaan Gemini tertinggi di dunia.

Senior Brand, Creative and Social Marketing Google untuk wilayah Asia Tenggara, Mira Sumanti menyebut sekitar 32 persen pengguna Gemini di Tanah Air berasal dari kalangan kreatif.

Bahkan, satu dari dua prompt di Indonesia disebut telah bersifat multimodal, yakni menggabungkan teks dengan gambar atau video.

Pengguna di Indonesia juga menghasilkan hampir 9 juta gambar melalui aplikasi Gemini setiap hari, menjadi angka tertinggi di kawasan Asia Tenggara.

Kiri ke kanan: Stella Rissa, Mira Sumanti dan Andy Tan di acara With Gemini In Craft di Jakarta, Kamis (3/9)

“Perkembangan itu menunjukkan besarnya potensi AI untuk mendukung industri ekonomi kreatif Indonesia, khususnya mode,” cetus Mira di acara ‘With Gemini In Craft’ di Jakarta, Kamis (3/9).

‘With Gemini In Craft’ merupakan inisiatif yang memperlihatkan bagaimana asisten AI Google, Gemini, berperan sebagai mitra kreatif pendukung bagi rumah mode, studio kreatif, serta pelaku usaha di Indonesia.

Inisiatif ini menyoroti kemampuan Gemini dalam menyederhanakan alur kerja studio yang kompleks, memperkaya penuturan kisah (storytelling), dan menghubungkan perancang lokal dengan audiens global, sembari tetap menempatkan autentisitas seni dan keahlian kriya manusia sebagai pusat utama penciptaan karya.

Di acara itu Google mengundang  tiga desainer Indonesia untuk mengeksplorasi Gemini, yakni KRATON by Auguste Soesastro, Stella Rissa dan Two Stitches.

Mira menyampaikan, melalui ‘With Gemini, In Craft’, Google ingin menunjukkan bahwa pertemuan antara teknologi dan karya tidak harus menghilangkan sentuhan manusia.

“Sebaliknya, AI dapat menjadi alat untuk membantu desainer menggali lebih banyak referensi, bereksperimen lebih cepat, berkolaborasi lintas negara, sekaligus membawa karya lokal menuju audiens yang lebih luas,” cetusnya.

KRATON, lestarikan budaya melalui riset mendalam

Auguste Susastro, sosok kreatif di balik merek KRATON, dikenal dengan teknik penjahitan arsitektural. Dia memanfaatkan Gemini sebagai mitra riset saat merancang koleksi adibusana khusus (bespoke couture) bagi Kenya Kamalashila Soekarno, putri dari seniman Enrico Soekarno.

Dalam proyek ini Auguste memanfaatkan Gemini Deep Research untuk mengakses arsip internasional yang sebelumnya sulit dijangkau, menerjemahkan dokumen sejarah berbahasa asing, serta memverifikasi silsilah antargenerasi di enam wilayah leluhur.

Bersama Gemini, ia memperdalam risetnya, menghadirkan bespoke couture yang dilengkapi dengan catatan narasi terstruktur serta bibliografi riset yang komprehensif.

Menurutnya, AI bukanlah ancaman dan tidak dapat menggantikan ‘taste’ pelaku kreatif dalam berkarya.

Kembangkan karakter lukisan tangan jadi serial animasi

Dikenal dengan garis rancang tegas dan sensual, Stella Rissa memanfaatkan Gemini sebagai mitra studio intuitif untuk mengembangkan karakter lukisan tangan, Starlet, yang telah dimulai sejak pandemi Covid beberapa tahun lalu.

Melalui perputaran karakter 360 derajat dan pengepasan busana runway virtual, Stella mentransformasikannya ke dalam ekosistem multimedia yang ekspansif, mencakup rencana serial animasi podcast hingga koleksi figur seni fisik 3D.

Dia mengungkap terkait persepsi banyak orang bahwa membuat craft dengan AI itu mudah. “Padahal sebetulnya susah. Kita seperti sedang menciptakan dan belajar bersama,” tuturnya.

Stella menyebut, proses tersebut justru menjadi ruang eksperimen untuk memahami bagaimana teknologi dapat memperluas dunia kreatif tanpa menghilangkan karakter dan keaslian karya tangan.

Bersama Gemini, Stella memperluas dunia IP miliknya tanpa menghilangkan kehangatan dan keaslian sentuhan seni buatan tangan.

Gemini membantu Stell Rissa kembangkan karakter Starlet menjadi figur 3D dan serial animasi podcast (dok. Hidupgaya)

Pangkas pengembangan sampel fisik dari hitungan bulan menjadi hari

Label Two Stitches yang dibesut Andy Tan dan Jerome Kurnia memanfaatkan Gemini untuk mendukung kolaborasi tim yang tersebar di Jakarta, Bali, dan Berlin.

Andy mengungkap, dalam pengembangan koleksi ‘MRTYNY’ misalnya, sketsa konseptual dapat dikembangkan menjadi simulasi jatuh kain tiga dimensi dan virtual fitting pada model.

Proses tersebut membantu memangkas waktu pengembangan sampel fisik yang sebelumnya membutuhkan waktu berbulan-bulan menjadi hanya hitungan hari.

Dia juga memanfaatkan teknologi untuk mengeksplorasi material, warna dan tampilan busana sebelum masuk tahap produksi. “Foto atau sketsa dapat diunggah untuk kemudian divisualisasikan pada model virtual,” ujarnya.

Bahkan, perubahan material seperti dari denim menjadi satin dapat dieksplorasi secara lebih cepat sehingga tim memiliki gambaran sebelum menentukan proses produksi.

Teknologi Gemini menurut Andy dapat  membantu pelaku mode dalam mengurangi risiko produksi berlebih melalui pendekatan data-informed craft, yang memadukan keputusan kreatif dengan informasi pasar. (HG)