Hidupgaya.co – Fluktuasi hormonal yang berkaitan dengan kesuburan ternyata berhubungan dengan kecenderungan yang lebih besar pada wanita untuk menggunakan simbol kemewahan yang mencolok – kemungkinan besar agar diperhatikan oleh pria.

Kesimpulan itu diperoleh dari studi oleh Aekyoung Kim dari Jeonbuk National University, Korea Selatan, beserta rekan, yang diterbitkan di jurnal PLOS One.

Konsumen menghabiskan miliaran dolar setiap tahun untuk barang-barang kelas atas seperti pakaian dan aksesori desainer, perhiasan, serta mobil mewah, yang sering kali bertujuan untuk menunjukkan kekayaan dan prestise.

Wanita menyumbang hampir separuh dari total pengeluaran untuk barang dan jasa mewah, sebagian karena ingin mengomunikasikan status mereka.

Untuk menelaah alasan di balik tindakan ini, Kim dan rekan meneliti apakah selain demi status, wanita mengonsumsi barang mewah yang mencolok untuk menarik pasangan saat mendekati masa ovulasi, yaitu ketika kadar estrogen meningkat dan tingkat kesuburan sedang tinggi.

Para peneliti memprediksi bahwa wanita yang mendekati masa ovulasi cenderung lebih menyukai produk mewah (misalnya, tas atau sepatu desainer) dan memamerkan kemewahan secara mencolok, seperti dengan mengenakan pakaian berlogo besar yang mudah dilihat orang lain.

Ilustrasi wanita menenteng aneka barang mewah

Untuk menguji prediksi ini, mereka melakukan studi menggunakan sampel urine guna mengukur kadar hormon serta metode survei untuk memperkirakan fase siklus menstruasi wanita tersebut saat itu.

Dalam studi pertama, 70 mahasiswi yang tidak menggunakan kontrasepsi hormonal diminta menggambar logo merek mewah (seperti Gucci, Chanel, dan Louis Vuitton).

Selanjutnya para partisipan menggambar logo dengan ukuran lebih besar saat mendekati masa ovulasi dibandingkan saat fase siklus dengan tingkat kesuburan rendah. Hal ini mendukung gagasan bahwa wanita lebih menyukai kemewahan yang mencolok pada masa tersebut agar lebih mudah diperhatikan oleh pria.

Dalam studi kedua, 1.486 wanita yang tidak menggunakan kontrasepsi hormonal ditanya mengenai niat mereka membeli produk dari merek mewah maupun bukan mewah.

Hasilnya menunjukkan bahwa wanita yang sedang ovulasi memiliki hasrat lebih besar untuk membeli barang mewah yang digunakan di depan umum, namun tidak demikian untuk barang yang digunakan secara pribadi.

Hal itu mengindikasikan bahwa peningkatan keinginan akan barang mewah menjelang ovulasi terjadi karena kemewahan yang mencolok dapat memperbesar peluang wanita untuk diperhatikan.

Studi ketiga, yang melibatkan 966 partisipan, menunjukkan bahwa wanita yang mendekati masa ovulasi lebih cenderung memilih voucer hadiah senilai USs$100 dari merek mewah (misalnya, Polo Ralph Lauren) dibandingkan dari merek bukan katehori mewah (misalnya, Old Navy).

Namun, ketika mereka membaca temuan penelitian yang menyatakan bahwa pria tidak menyadari pakaian desainer yang dikenakan wanita, kecenderungan mereka untuk memilih merek mewah menjadi berkurang, bahkan saat wanita sedang mendekati masa ovulasi.

Hasil-hasil ini memberikan bukti tambahan bahwa perempuan yang mendekati masa ovulasi melakukan konsumsi barang mewah yang mencolok agar diperhatikan oleh laki-laki.

Sebagaimana dikemukakan oleh para peneliti, studi-studi tersebut tidak dirancang untuk menghasilkan bukti hubungan sebab-akibat, dan temuan-temuannya tidak berlaku untuk setiap situasi di mana perempuan berusaha menarik perhatian laki-laki.

Terlepas dari keterbatasan tersebut, bukti secara keseluruhan mendukung gagasan bahwa siklus ovulasi perempuan dapat memengaruhi perilaku mereka terhadap laki-laki, khususnya terkait penggunaan simbol kemewahan yang mencolok demi mendapatkan perhatian.

“Hal yang menurut kami paling menarik adalah bahwa dampak ovulasi terhadap hasrat akan barang mewah bukan sekadar peningkatan umum dalam preferensi terhadap produk mahal,” kata peneliti.

Sebaliknya, hal ini tampaknya bersifat strategis secara sosial: dampaknya menjadi lebih kuat ketika konsumsi barang mewah tersebut terlihat jelas dan relevan secara pribadi, namun menghilang ketika perempuan meyakini bahwa laki-laki tidak memperhatikan isyarat semacam itu. (HG)