Hidupgaya.co – Membuat ulang (remake) film Hollywood yang sangat digemari merupakan tugas yang menantang, namun sutradara Kim Do-young berfokus untuk menonjolkan pesona unik para pemeran Korea-nya serta mengadaptasi cerita agar mencerminkan sentimen masyarakat Korea modern.
Dalam konferensi pers di Seoul, sutradarayang dikenal lewat gaya penceritaan penuh empati dalam film-film seperti “Kim Ji Young: Born 1982” (2019) dan “Once We Were Us” (2025)—berbagi pendekatannya dalam menghadirkan kembali film sukses tahun 2015, “The Intern”, bagi penonton Korea.
“Karena versi aslinya begitu dicintai banyak orang, membuat ulang film ini bukanlah hal yang mudah,” ujar Kim dikutip media Korea.
Ia mengatakan bahwa fokus utamanya adalah membuat narasi aslinya terasa relevan bagi penonton Korea masa kini.
“Mengingat versi aslinya dirilis lebih dari satu dekade yang lalu, zaman dan sudut pandang pun telah berubah. Saya berusaha mencerminkan nuansa budaya Korea, seperti istilah-istilah gaul di tempat kerja modern, sembari menangkap kisah kehidupan kantor yang terasa dekat dengan penonton dari berbagai generasi.”

Film yang dijadwalkan tayang di bioskop Korea pada 16 September ini berkisah tentang Sun-woo (Han So-hee), seorang CEO penuh semangat dari perusahaan rintisan mode yang berkembang pesat.
Cerita bergulir ketika Gi-ho (Choi Min-sik), seorang pekerja veteran dengan pengalaman 37 tahun, bergabung dengan perusahaan tersebut sebagai pemagang senior untuk memulai karier keduanya.
Choi mengambil peran utama yang sebelumnya diperankan oleh Robert De Niro, sementara Han memerankan sosok pengusaha muda yang aslinya dimainkan oleh Anne Hathaway.
Choi mengakui sempat merasa tertekan saat menerima peran yang begitu ikonis tersebut, namun ia mengatakan bahwa nuansa cerita yang khas Korea-lah yang membuatnya tertarik pada proyek ini.
“Tentu saja bohong jika saya bilang tidak ada tekanan, karena film aslinya dan para pemerannya sangat luar biasa,” kata Choi. “Namun, saya merasa bahwa menerjemahkan cerita ini melalui sudut pandang Korea—dengan memasukkan pergulatan lokal kita, konflik antargenerasi, serta rekonsiliasi—akan memberikan nuansa yang segar.”
Han menegaskan bahwa ia sengaja tidak meniru gaya akting versi aslinya demi menciptakan penampilannya sendiri yang orisinal. “Saya berusaha keras untuk melupakan film aslinya,” ujarnya.
“Saat saya berfokus menafsirkan sosok Sun-woo melalui sudut pandang sendiri, kepribadian asli saya pun secara alami menyatu dengan karakter tersebut. Mengingat banyak teman yang merupakan pekerja kantoran atau karyawan perusahaan rintisan, saya mengambil inspirasi dari mereka untuk menggambarkan keseimbangan rapuh antara tanggung jawab seorang CEO dan ambisi pribadi.”
Selain menyuguhkan kisah yang menggugah emosi, Kim menekankan bahwa hubungan antara Gi-ho dan Sun-woo lebih menonjolkan realisme yang membumi dibandingkan versi aslinya, serta menyoroti kecemasan di tempat kerja dan rasa keterasingan yang kerap dihadapi orang-orang saat ini.
Untuk menggambarkan tekanan dalam memimpin sebuah perusahaan rintisan secara visual, Han juga memberikan perhatian khusus pada pilihan busana karakternya.
“Saya menghabiskan banyak waktu memikirkan pakaian yang mampu memancarkan karisma namun tetap praktis bagi seorang CEO muda,” ujar Han. “
Alih-alih mengikuti tren mode yang cepat berlalu, dia memilih busana bergaya klasik yang tak lekang oleh waktu untuk mencerminkan citra profesionalnya. (HG)