Hidupgaya.co – LAKON Indonesia menutup pergelaran JF3 Fashion Festival 2026 dengan koleksi dan tata panggung mengesankan. Banyak unsur kejutan sepanjang acara. Mulai area runway yang dibuat gelap, hanya kelip sinar dari beberapa ponsel penonton menerangi area. Karpet merah yang biasa menutup lantai digulung, digantikan dengan lantai warna-warni meriah.

Tak lama kemudian asap mirip kabut buatan memenuhi arena runway diiringi suara musik gamelan. Berikutnya, cahaya lampu berpendar terang mengiringi para model yang berjalan di panggung peragaan, mengenakan koleksi LAKON Indonesia yang kali ini mengusung tema besar Harsa, dalam bahasa Sanskerta berarti ‘kebahagiaan’.

Sebanyak 36 set busana wanita dan pria dibawakan model dengan penutup kepala dan wajah terbuat dari kain satin atau brokat. Aksi teatrikal ini tampaknya identik dengan fashion show LAKON Indonesia setiap tahun di ajang pekan mode tahunan JF3 Fashion Festival.

Koleksi Harsa dari Lakon Indonesia dipresentasikan di acara penutupan JF3 Fashion Festival 2026 (dok. Hidupgaya)

Koleksi LAKON kali ini meriah, sangat vibrant, kaya warna, merah, kuning, hijau, ungu, oranye hingga pink fanta memeluk tubuh model. Alih-alih berjalan di catwalk bergantian, peragaan kali ini semua model tampil di runway dan berdiri diam.

Kemudian Thresia Mareta, pendiri LAKON Indonesia dengan busana pink fanta naik ke panggung dan berpose bersama model. Penonton masih duduk teratur di kursi masing-masing, menanti adegan berikutnya dengan rasa penasaran.

Tak disangka-sangka, pembawa acara Ira Duaty mempersilakan undangan untuk mendekat ke panggung, berinteraksi langsung dengan model, bisa menyentuh koleksi teranyar merek lokal yang merayakan sewindu perjalanan di jagad mode Tanah Air.

Koleksi Harsa dari Lakon Indonesia dipresentasikan di acara penutupan JF3 Fashion Festival 2026 (dok. JF3)

Melalui Harsa, Irsan selaku direktur kreatif membawa LAKON Indonesia memasuki babak baru. Setelah mengeksplorasi pendekatan streetwear melalui koleksi Urub, kali ini ia menghadirkan siluet yang lebih lembut, ringan, dan elegan dengan eksplorasi yang bergerak dari pakaian yang dapat dikenakan sehari-hari dan seri deluxe.

Kekayaan batik dan bordir karya tangan Indonesia diterjemahkan ke dalam bahasa desain yang modern melalui permainan proporsi, konstruksi, serta eksplorasi material seperti katun poplin, katun voile, satin duchess, dan organza.

Hasilnya adalah koleksi yang terasa ringan, elegan, dan kontemporer, menghadirkan kemewahan secara subtil tanpa kehilangan fungsi sebagai pakaian yang hadir dalam kehidupan sehari-hari.

Koleksi Harsa dari Lakon Indonesia dipresentasikan di acara penutupan JF3 Fashion Festival 2026 (dok. JF3)

Dalam temu media sebelum pergelaran, Thresia mengatakan Harsa merupakan bentuk penghormatan kepada para perajin, pembatik, pembordir, penjahit, dan seluruh tangan yang terlibat dalam setiap tahap penciptaan.

“Setiap busana menjadi representasi dari dedikasi, keterampilan, serta kecintaan terhadap karya tangan Indonesia yang terus dikembangkan melalui bahasa desain yang relevan dengan kehidupan masa kini,” kata Thresia di Gafoy Summarecon Mall Kelapa Gading, Jakarta, Rabu (29/7).

Koleksi LAKON terasa lebih matang, setelah proses eksperimen yang berlangsung sejak tahun pertama. “Memang belum sempurna, tapi ini presentasi penting buat LAKON. Nggak lagi ke streetwear tapi lebih ke daily wear dan daily wear deluxe,” imbuh Thresia.

Koleksi Harsa dari Lakon Indonesia dipresentasikan di acara penutupan JF3 Fashion Festival 2026 (dok. Hidupgaya)

Selama perjalanan delapan tahun, LAKON bahu membahu bersma perajin melakukan berbagai eksperimen. “Gagal, coba lagi, gagal, coba lagi dengan perajin pertama, kedua hingga bertemu perajin yang berhasil dan sanggup memenuhi levelnya LAKON,” cetus Thresia.

Dia mengakui, proses membatik tak semudah dibayangkan. “Banyak perajin yang bilang nggak sanggup. Setiap tahun selalu ada eksperimen, dari yang mudah hingga sulit. Bukan hanya jadi pemasok juga kasih input sesuatu yang baru menjadi solusi,” terang penasihat JF3 lugas.

Yang istimwa dari LAKON, sebutnya, meskipun show sudah berlala namun eksperimen jalan terus. “Dari situ kita buka opportunity agar perajin bisa lakukan hal lebih baik dari sebelumnya. Ini hal yang kami rasakan, kebahagiaan (Harsa) yang kami jalani sampai pada suatu titik. Memang belum sempurna tapi sudah kelihatan bentuknya, merayakan proses,” ujar Thresia dengan nada haru.

Thresia Mareta di pergelaran busana koleksi Harsa dari Lakon Indonesia yang dipresentasikan di acara penutupan JF3 Fashion Festival 2026 (dok. JF3)

Kolaborasi dengan Euneun, jenama tas Korea Selatan

Melengkapi presentasi Harsa, LAKON Indonesia berkolaborasi dengan Euneun, jenama tas asal Korea Selatan yang dikenal melalui pendekatannya terhadap desain yang elegan dan fungsional.

Debut di JF3, koleksi tas Euneun melengkapi tampilan di atas runway, hadirkan dialog visual antara karya LAKON Indonesia dan Euneun melalui apresiasi yang sama terhadap kualitas, craftsmanship, dan desain yang berkarakter.

Sebagai bagian dari presentasi tersebut, pendiri Euneun, aktris Korea Selatan, Hahm Eun-jung, hadir di Jakarta menemui media dan menyaksikan secara langsung presentasi koleksi Harsa di penutupan JF3 Fashion Festival 2026.

Hahm Eun-jung pemilik jenama Euneun bersama Thresia Mareta usai temu media di Gafoy Summarecon Mall Jakarta (dok. Hidupgaya)

Kehadiran Euneun dalam presentasi Harsa mencerminkan semakin terbukanya ruang dialog antara pelaku industri fashion Indonesia dan Korea Selatan.

Thresia mengungkap, bagi LAKON Indonesia, pertukaran budaya tidak selalu harus diwujudkan melalui penciptaan sebuah koleksi bersama, tetapi juga saling mengapresiasi karya, kualitas, dan craftsmanship yang menjadi kekuatan masing-masing.

Korea Selatan Ham Eun-jung memilih Indonesia sebagai negara pertama untuk memperkenalkan jenama Euneun, sebelum diluncurkan di negara asalnya, Korea Selatan. “Merek ini belum diperkenalkan secara resmi di Korea. Namun, saya senang bisa memperkenalkannya pertama kali di fashion show LAKON,” kata Ham Eun-jung dalam konferensi pers LAKON Indonesia x Euneun.

Koleksi Harsa dari Lakon Indonesia dipresentasikan di acara penutupan JF3 Fashion Festival 2026 (dok. JF3)

Keputusan tersebut didasari keinginannya membangun Euneun sebagai jenama yang dapat diterima perempuan di berbagai negara dan budaya.

“Mengala saya datang ke Indonesia dulu sebelum peluncuran di Korea, karena saya ingin membuat hasil karya yang akan cocok di negara mana-mana untuk perempuan. Saya ingin menjadikan Euneun sebagai merek global,” bebernya.

Anggota K-pop grup T-ara itu menjelaskan Euneun lahir dari keinginannya menciptakan tas yang tidak sekadar mengikuti tren, tetapi memiliki desain yang dapat bertahan melintasi waktu (timeless).

Koleksi Harsa dari Lakon Indonesia dipresentasikan di acara penutupan JF3 Fashion Festival 2026 (dok. JF3)

Ham menekankan, LAKON dan Euneun memiliki nilai yang sama. “Meskipun negara dan bahasa kita berbeda, nilai keindahan yang bertahan lama adalah sesuatu yang kita miliki bersama. Itulah kesamaan antara Euneun dan LAKON,” ujarnya.

Ham juga mengutarakan ketertarikannya untuk memperluas kolaborasi Euneun dengan LAKON pada masa mendatang, termasuk menghadirkan tas edisi khusus menggunakan kain tradisional dari LAKON yang hanya dipasarkan di Indonesia. Wah, can’t hardly wait! (HG)