Hidupgaya.co – Kolaborasi bisa berawal dari percakapan, tek-tokan, dan diskusi panjang untuk menemukan jalan tengah, menghargai perspektif orang lain dalam menghasilkan karya kreatif.
Hal ini melahirkan karya kolaborasi Au Large, antara Lisa Rayar, desainer mode dari Prancis dan Gabriel Marcella Budiono dari Semarang, Indonesia yang dipertemukan dalam program PINTU Residency, sebagai bagian payung besar PINTU Incubator, kolaborasi mode dua negara, antara Prancis dan Indonesia.
Sebelum bertatap muka, Gabriel dan Lisa lebih dulu membangun ide lewat diskusi daring. Satu di Semarang, satunya di Prancis, keduanya berkomunikasi intensif sejak akhir Maret 2026. “Kami berdiskusi saat dia (Lisa) masih berada di Prancis dan saya di Semarang. Kami mulai dengan mencari inspirasi dan membahas bagaimana proses pengerjaannya,” terang Gabriel dalam temu media di acara Re-See French Designers x Residency, di Fashion Tent La Piazza Summarecon Mall Kelapa Gading, Senin (27/7).
Dari diskusi itu keduanya sepakat mengangkat tema besar Au Large, yang berarti berarti ‘lepas pantai’ dalam bahasa Prancis. Koleksi bertema maritim yang sedang mereka kembangkan bertujuan memadukan kreativitas Prancis dengan kekayaan tekstil Indonesia.

Selama residensi empat bulan, Lisa dan Gabriel berhasil menemukan bahasa desain yang sama, saling berkompromi, menemukan titik temu dalam menciptakan karya. “Kami benar-benar membicarakan preferensi masing-masing. Dia suka warna-warna cerah, saya suka warna-warna yang lebih muted. Setelah diskusi panjang, saling mendengar dan bertukar perspektif, kami bisa berkompromi,”ujar lulusan ESMOD Jakarta.
Keduanya berupaya menciptakan karya, mengeksplorasi bagaimana dua bahasa kreatif dapat hidup berdampingan dalam konteks mode kontemporer.
Hal yang membuat kolaborasi dua desainer Parcis dan Indonesia ini lebih menarik adalah penekanannya pada proses, melibatkan pertukaran gagasan, mempertanyakan asumsi, dan membangun visi bersama dari pengalaman yang berbeda.

Poin yang diperoleh dari diskusi panjang itu adalah memadukan aspek kreatif dan budaya dari Prancis, sekaligus menonjolkan kain serta wastra Indonesia.
Jadilah mereka mengeksplorasi batik Mojokerto, Jawa Timur. Gabriel menggambarkan dialog dunia maritim Prancis dan komunitas di pesisir utara Jawa terinspirasi dari penelitiannya tentang tradisi Sedekah Laut. “Batik yang kami ciptakan spesial, ada hijau dan warna putih. Di Sedekah Laut itu kan ada berbagai macam sesajen, inspirasi motif batiknya dari situ,” terangnya.
Secara garis besar, koleksi Au Large menyajikan siluet berpotongan lebar (oversized), dijahit dengan teknik draperi yang mengalir tapi terstruktur lewat tali-tali yang mengingatkan pada tali pada layar kapal.
Lisa mengusulkan membuat semacam tas berukuran besar untuk keperluan tampil di runway. “Biar dramatis,” ujar Gabriel.

Berbasis di Paris, Lisa Rayar dikenal karena rancangan busana wanita yang memiliki karakter struktural layaknya karya seni pahat serta pendekatannya yang mendalam terhadap desain berkelanjutan. Sebagai lulusan LISAA Fashion Paris—dengan riwayat pendidikan sebelumnya di École de Condé Lyon dan IICC Fashion Marseille—ia memadukan konstruksi teknis dengan keahlian tangan yang ramah lingkungan.
Lisa mengubah sisa stok kain dan tekstil organik menjadi busana ekspresif melalui teknik pewarnaan dan perajutan manual. Pengalamannya kerjanya di Chanel, Jean Paul Gaultier, Soeur, hingga Uniqlo dapat menjembatani dunia mode mewah, teknik kerajinan tangan, dan praktik produksi yang bertanggung jawab.
Adapun Gabriel mewakili generasi baru desainer Indonesia yang mengeksplorasi masa depan kerajinan tangan lokal. Ia punya spesialisasi dalam busana pria dan wanita kontemporer yang menafsirkan ulang tekstil tradisional Indonesia melalui bahasa desain modern.

Selama masa residensi, mereka saling bertukar pandangan mengenai mode Eropa, wastra Indonesia, keahlian kerajinan tangan, serta peran budaya dalam desain kontemporer. Dari dialog itu, masing-masing desainer memperluas perspektif mereka.
Lisa mengakui, antara dia dan Gabriel cukup berbeda, namun menemukan jalan bersama dalam menciptakan karya. “Cara kami menciptakan mode berbeda. Menurut saya, bekerja sama adalah hal yang sangat baik karena kami memiliki kecintaan terhadap pendekatan mode yang serupa,” ujarnya.
Selama masa residensi, Gabriel banyak pelajaran berharga yang dia petik dari rekan kolaboratornya. “Lisa itu pekerja keras dan tekun,” pujinya.

Selain itu, Gabriel mendapat pelajaran berharga mengenai teknik menjahit khas Eropa serta bagaimana mode dipandang di pasar Prancis dan Eropa secara lebih luas. “Pasar Eropa dan Indonesia itu sangat berbeda. Saya belajar banyak, mulai dari metode konstruksi busana hingga preferensi konsumen dan estetika kontemporer,” cetusnya.
Lisa juga merasakan hal yang sama. “Saya belajar menyelami seni kriya Indonesia, terutama kain tradisional. Itu membantu memperoleh pemahaman yang lebih utuh mengenai pasar Asia,” ujarnya.
Rekan kolaboratornya, Gabriel Marcella, banyak membantunya berkenalan dan beradaptasi dengan material lokal. “Kami ingin menggunakan batik dengan cara modern karena saya pikir orang Prancis bisa menyukainya, tapi kami ingin busana bisa dikenakan dengan cara kontemporer,” ulasnya.
Desainer keturunan India dari ayah mendapati bahwa tradisi tekstil Indonesia memiliki kompleksitas tersendiri, misalnya batik yang sarat filosofi dan makna, suatu pola menyimpan makna yang jauh melampaui sekadar unsur dekoratif.
Koleksi Au Large merupakan perpaduan selaras antara Indonesia dan Prancis. Pada bahan denim dan katun, Lisa dan Gabriel menyelipkan batik dengan motif orisinal khusus untuk proyek ini.

Adapun motif berupa kotak-kotak terinspirasi dari pola motif sarung khas Indonesia dan garis-garis maritim ikonis Prancis. Palet warna coklat-krem membuat tampilan busana jadi lebih lembut meski siluet dibuat begitu terstruktur dan tegas.
Seluruh kain batik dikerjakan secara manual bersama perajin lokal, sementara sisa material dimanfaatkan kembali untuk mengurangi limbah produksi. “Kami membuat gantungan kunci ini dari batik,” ujar Gabriel sembari menyodorkan hasil olahan sisa kain yang dijahit cantik menjadi gantungan kunci kekinian dengan pola yang tidak sama.
Semangat Bhinneka Tunggal Ika kolaborasi Mickael Nana x Beatrice Angelica
Program PINTU Residency juga mempertemukan Mickael Nana asal Prancis dan Beatrice Angelica dari Indonesia. Keduanya menggarap kain tenun Lombok.
“Kami mulai dari awal. Bertemu perajin di Lombok untuk membuat tenun yang kami mau untuk menciptakan koleksi Garuda,” ujar Beatrice (22), lulusan ESMOD Jakarta menjawab pertanyaan Hidupgaya.
Selama masa residensi, keduanya aktif berkomunikasi, bertukar ide hingga bersepakat membuat busana untuk proyek residensi PINTU yang ditampilkan di JF3 Fashion Festival 2026. Hasilnya, 10 busana siap pakai yang terbagi seimbang antara busana pria dan perempuan ini lahir dari tiga tekstil tenun eksklusif, yang dikembangkan bersama para perajin perempuan Lombok menggunakan teknik songket dan tenun tradisional.

Uniknya, kain tenun itu dipadukan dengan denim, beludru, hingga material teknis untuk menghasilkan siluet yang kokoh sekaligus kaya tekstur. Dalam koleksi yang mengusung semangat Bhinneka Tunggal Ika, Mickael dan Beatrice kerap memainkan struktur, menyelipkan desain asimetri di sebagian besar tampilan.
Semangat itu disuntikkan melalui kain beludru yang dikembangkan khusus untuk koleksi Garuda. Motif yang tampak abstrak di jaket sebetulnya membentuk interpretasi gugusan pulau-pulau Indonesia. “Dari kain velvet yang kami kembangkan, motifnya terinspirasi dari pulau-pulau di Indonesia,” tutur Mickael.
Kain beludru itu dipotong dan dijahit di atas kain tenun yang hasil akhirnya menyerupai pulau-pulau. “Itu bisa langsung terasa, begitu melihat keseluruhan koleksinya,” imbuhnya.
Dia dan Beatrice berupaya menggunakan berbagai jenis kain untuk merepresentasikan Indonesia. “Banyak jenis kain, banyak budaya, banyak bahasa,” beber Mickael.

Mickael mengakui koleksi yang dibuat bersama Beatrice punya irama. “Sebuah koleksi itu benar-benar seperti sebuah cerita yang kita jalani, dan setiap adegannya tak harus terlihat sama,” tuturnya.
Menurutnya perbedaan justru membuat suatu hal menjadi menarik. Keduanya sepakat menciptakan busana yang agak ‘lain’ misalnya jaket warna neon terang.
Beatrice menambahkan warna neon identik dengan utility wear. “Perlengkapan outdoor sering memakai jaket berwarna terang supaya orang lebih mudah terlihat kalau misalnya tersesat atau semacamnya,” ujarnya.
Dalam menciptakan koleksi kolaborasi, kedua desainer berupaya meminimalkan limbah tekstil. “Misalnya pada celana panjang. Kain tenun itu kami potong dan jahit kembali. Sekilas tidak terlihat seperti potongan kain sisa, namun jika diperhatikan dengan cermat itu ada,” ujar Beatrice seraya menunjukkan karya dimaksud.

Dalam kolaborasi ini, Beatrice banyak belajar dari Mickael, terutama dalam teknik tailoring dan keahlian teknis. Dalam karyanya, Mickael banyak menafsirkan ulang warisan budaya diaspora Afrika melalui pendekatan surealisme, fiksi ilmiah, dan kriya kontemporer.
Koleksi perdananya, Perseverance, yang namanya diambil dari wahana penjelajah Mars milik NASA, membayangkan peradaban pertama di Mars dengan memadukan elemen sportswear, tailoring, dan ciri khas desain Afrika Barat.
Sebagai penerima penghargaan lulusan terbaik dalam ajang LVMH Prize 2024, Mickaël pernah menjalani masa kerja selama satu tahun di studio Dior Homme serta memiliki pengalaman bekerja dengan Christian Dior Couture, Koché, dan IKKS Women. (HG)