Hidupgaya.co – Merek perhiasan Tulola melalui gerakan kolaborasi Kawan Nusantara merilis instalasi dan karya seni bertajuk Evolusi. Mengusung tema Evolusi: Heritage and Craft as a Vessel of Light and Wisdom, perayaan ini berlangsung 23 – 24 Juli 2026 di Nusantara Ballroom, The Dharmawangsa, Jakarta.
“Mengusung tema Evolusi, Kawan Nusantara tahun ini mengajak publik melihat bagaimana warisan budaya tidak pernah berhenti berevolusi. Tradisi terus hidup karena mampu beradaptasi dan menemukan bentuk baru di setiap zaman, tanpa kehilangan akar nilai,” ujar Happy Salma, pendiri dan konseptor kreatif Tulola dalam temu media di Jakarta, Jumat (23/7).
Happy meyakini tradisi selalu hidup karena manusia terus memaknainya kembali. “Evolusi adalah pameran tentang bagaimana tradisi, keterampilan, dan nilai-nilai leluhur terus menemukan bentuk baru tanpa kehilangan jiwanya,” terangnya.
Dalam perayaan ini, masyarakat diajak melakukan eksplorasi melihat bagaimana warisan budaya terus bertumbuh mengikuti zaman.

Tema Evolusi diterjemahkan ke dalam instalasi artistik yang menelusuri perjalanan subeng, salah satu ornamen telinga tradisional Bali selama berabad-abad. Menyaksikan instalasi ini, pengunjung diajak memahami bagaimana sebuah artefak budaya berevolusi melalui perubahan fungsi, bentuk, material, hingga pendekatan desainnya.
Kesempatan sama, Sri Luce Rusna, pendiri dan desainer kreatif Tulola menambahkan, instalasi itu lahir dari hasil riset tentang perjalanan sebuah produk kebudayaan yang terus berubah mengikuti kehidupan masyarakat. “Perhiasan selalu menjadi penanda zaman. Dalam Evolusi, kami ingin menunjukkan bahwa tradisi tidak berhenti pada bentuk aslinya,” tuturnya.
Subeng terpilih sebagai representasi tradisi dan budaya, dan perjalanannya diterjemahkan ke dalam desain yang berevolusi, mulai dari konteks spiritual, sampai yang kontemporer.
Perjalanan kreatif instalasi Evolusi
Instalasi terbagi menjadi empat tahap yang merepresentasikan perjalanan subeng, yaitu tahap pertama persembahan, tahap kedua ekspresi, tahap ketiga nilai, dan tahap keempat transformasi.
Pada tahap Persembahan, motif subeng menggunakan pola arsitektur padma, terinspirasi oleh bentuk bangunan tradisional Bali yang digunakan sebagai tempat persembahan.
Pada tahap Ekspresi, bentuk subeng diwujudkan dalam motif bunga lotus, dipadukan dengan tanaman rambat dan tangkainya yang menjulur ke segala arah, sebagai representasi dari seni ukir subeng yang semakin ekspresif dan bernilai estetik.
Pada tahap Nilai, subeng sudah memasuki ruang sosial dan ekonomi yang lebih luas, sehingga dilihat sebagai produk kriya yang memiliki nilai ekonomi. Motif keranjang yang dipadukan dengan motif bunga lili dipilih karena menjadi simbol aktivitas ekonomi sekaligus simbol terjalinnya hubungan sosial.
Pada tahap Transformasi, bentuk subeng mengadopsi elemen tipografi bertuliskan ‘Evolusi’ sebagai penanda bahwa tradisi tidak pernah berhenti bergerak.
Selain karya instalasi, Tulola juga meluncurkan koleksi karya seni bertema sama, terdiri dari 48 items berupa anting, subeng, bros, sirkam, kalung dan gelang, yang memadukan kepiawaian pekerjaan tangan dengan teknik seni perhiasan adiluhung Nusantara.

Koleksi ini menggunakan motif-motif yang diberi nama: Canang, Macan, Sinar, Bunga & Kupu-kupu, yang merupakan simbol dari proses evolusi.
Kawan Nusantara 2026 juga menghadirkan kolaborasi dengan sembilan jenama kreatif Indonesia yang memiliki semangat serupa dalam merayakan karya lokal dan inovasi, yaitu Camani, Ella & Glo, Glashka, dan Jeffry Tan.
Selain itu, ada juga produk kreatif di bawah payung Bakti BCA seperti Marista Santividya, Perajin Perak Desa Wisata Taro, Koperasi Konsumen Uma Tinung Kambata, Linette Bags, Nail Art by MUA Tuli Bakti BCA, dan Wastraloka.
Turut berkolaborasi adalah dan mitra binaan Pertamina yaitu Roemah Kebaya Vielga.
Kehadiran para kolaborator ini memperlihatkan bagaimana kreativitas lintas disiplin mampu memperkaya narasi budaya Indonesia yang relevan bagi generasi masa kini.
Selain itu, dihadirkan pula pameran Heroes of Heritage berupa koleksi karya hasil kolaborasi BCA melalui payung Bakti BCA, dengan Tulola dan dua perajin perak dari Desa Wisata Taro, Bali, yakni I Made Suama dan Ketut Daging.
Karya-karya mereka memperlihatkan kedalaman nilai budaya, khususnya dalam membuat pratima atau benda suci.
Hadir pula Keris Pusaka ‘Keris Wibawa Gunung Raung’ dari Desa Taro karya I Komang Sudena, perajin perak yang meneruskan tradisi pembuatan keris Bali. (HG)