Hidupgaya.co – Kolaborasi mode Indonesia–Prancis melalui PINTU Incubator terus diperkuat. Masuk tahun kelima, kolaborasi dua negara ini secara konsisten terus menguatkan pengembangan talenta, pertukaran pengetahuan, kolaborasi kreatif, dan pengalaman lintas budaya.
Perjalanan tersebut diwujudkan melalui kolaborasi antara jenama Indonesia dan Prancis, partisipasi Lil Public dalam pertunjukan tahunan École Duperré di Paris pada awal Juli silam, serta dua koleksi hasil PINTU Residency yang dikembangkan melalui proses riset dan kolaborasi bersama komunitas artisan di Lombok dan Mojokerto.
Tahun ini juga menjadi momen bersejarah, menjadi tonggak baru dengan dimulainya proses pembentukan Yayasan PINTU Incubator Indonesia, sebuah langkah untuk memperkuat kesinambungan program dan memperluas dampaknya bagi ekosistem mode.
Menurut Thresia Mareta, co-initiator PINTU Incubator, langkah tersebut merupakan bagian dari komitmen untuk memperkuat kesinambungan program, membangun struktur yang lebih kokoh, serta memperluas dampak PINTU bagi ekosistem mode Indonesia.
“PINTU tidak dibangun untuk memberikan satu jawaban yang sama kepada setiap peserta, melainkan untuk membantu mereka memahami perjalanan dan pilihan masing-masing,” ujarnya di sela temu media di Gafoy Summarecon Mall Kelapa Gading Jakarta, Senin (20/7).

Melalui inkubasi, akselerasi, residensi, dan berbagai kolaborasi Indonesia–Prancis, PINTU akan terus membangun ruang belajar, pertukaran, dan kesempatan yang relevan bagi generasi baru pelaku mode.
Dengan kata lain, sebut Thresia, PINTU tidak hanya hadir untuk menyelenggarakan program, tetapi untuk membangun hubungan, pengalaman, dan proses yang dapat melahirkan kemungkinan baru bagi perkembangan industri mode Indonesia.
Pendiri LAKON Indonesia itu menekankan bahwa talenta tidak selalu tumbuh karena diberi lebih banyak jawaban. “Sering kali, mereka justru berkembang ketika dipertemukan dengan pengalaman, sudut pandang, dan pertanyaan yang tepat,” urainya.
Untuk alasan itulah PINTU dibangun sebagai ruang untuk menjalani proses, mengenali kekuatan, melihat kembali apa yang belum bekerja, dan memahami ke mana sebuah karya ingin dibawa. “Pada akhirnya, yang kami harapkan bukan hanya lahirnya koleksi yang baik, tetapi pelaku mode yang mampu terus bertumbuh dan menentukan langkahnya sendiri,” cetusnya.
Kembangkan talenta, perluas wawasan
PINTU menjadi wadah bagi desainer mode/merek untuk mengembangkan ilmu agar lebih berwawasan luas. “Setiap talenta perlu terus melakukan eksplorasi agar berkembang, menciptakan produk yang kuat. Tidak hanya kuat fondasi tapi belajar bagaimana menjalankan bisnis,” lanjut Thresia.
Sebagai pelaku industri mode, Thresia memahami bahwa mengelola kreativitas dalam jangka panjang bukanlah hal mudah. “Mengelola kreativitas jangka panjang itu sulit. Eksplorasi harus kuat, termasuk eksekusinya. Itu penting bagi kelangsungan bisnis,” tuturnya.
Dia menyampaikan sejumlah desainer/jenama ‘jebolan’ PINTU berhasil menembus pasar mancanegara. “Itu saya rasa cukup sukses dan masih berkembang sampai sekarang,” ujarnya.
Adapun yang lain masih berusaha untuk masuk ke pasar internasional. “Itu perlu waktu, nggak bisa instan. Opportunity memang banyak yang datang kepada kira, namun kita juga harus punya keberanian buat memilih. Nggak bisa meraih semuanya sekaligus. Saat sudah memilih, cobaan ada saja. Namun sepanjang kita konsisten, itu akan beda hasilnya,” tandas Thresia.
Kesempatan sama, chairman JF3 sekaligus co-initiator PINTU Incubator, Soegianto Nagaria menyampaikan PINTU dibangun berdasarkan keyakinan bahwa talenta mode memerlukan lebih dari sekadar kreativitas. Mereka juga butuh ruang untuk belajar, memahami proses, memperluas sudut pandang, serta menemukan arah yang paling relevan bagi perkembangan karya dan mereknya.
Selain itu, adanya ekosistem yang bekerja secara konsisten dalam mendukung pertumbuhan pelaku mode juga menjadi faktor yang tak bisa diabaikan.
“Sejak awal, JF3 tidak hanya ingin menyediakan panggung, tetapi juga menjadi bagian dari proses pertumbuhan para pelaku industri. Melalui PINTU, kami membangun ruang yang mempertemukan talenta dengan pengetahuan, mentor, jejaring, pengalaman profesional, dan peluang kolaborasi,” ujarnya.
Menurutnya, ekosistem yang kuat harus mampu mendampingi mereka untuk terus berkembang dalam jangka panjang.
Inisiatif bersama kembangkan talenta kreatif di industri mode
PINTU Incubator merupakan inisiatif bersama JF3, LAKON Indonesia, dan Kedutaan Besar Prancis di Indonesia melalui Institut français d’Indonésie, IFI. Sejak dirilis pada 2022, program ini telah menarik minat lebih dari 10.000 merek dan desainer.
Tahun ini, PINTU Incubator menerima 39 pendaftar untuk menjalani sesi pengembangan kapasitas yang mencakup strategi bisnis, merchandising, pengembangan produk, komunikasi, hukum dan kekayaan intelektual, ekspor-impor, keuangan, serta styling.
Program ini melibatkan 18 mentor dari Indonesia dan Prancis dengan latar belakang desain, bisnis, ritel, hukum, keuangan, komunikasi, pemasaran, pengembangan produk, dan industri kreatif.
Setelah melalui rangkaian kelas, mentoring, evaluasi, dan kurasi, lima peserta terpilih untuk mempresentasikan koleksi mereka di JF3 Fashion Festival 2026, yaitu dua jenama Saul Studio dan Toja House, serta tiga desainer, ALDRIE, ANDREAN NR, dan DACIA.
Kelima peserta tersebut menghadirkan pendekatan yang beragam, mulai dari eksplorasi konstruksi dan tailoring, pengembangan aksesori bersama artisan, reinterpretasi tekstil Nusantara, pendekatan genderless, praktik upcycling (pemanfaatan limbah tekstil), hingga pengembangan produk yang menekankan craftsmanship, inklusivitas, dan tanggung jawab dalam proses produksi.
Buka ruang kolaborasi melalui PINTU Accelerator
Pada jalur Accelerator, DENIMITUP mengembangkan kolaborasi dengan label Prancis TAREET. Kolaborasi tersebut mempertemukan dua pendekatan kreatif dalam proses pengembangan koleksi bersama.
Adapun Lil Public berpartisipasi dalam pertunjukan tahunan École Duperré di Paris pada awal Juli 2026.
Partisipasi itu menjadi bagian dari hubungan yang terus berkembang antara PINTU dan institusi pendidikan mode Prancis, sekaligus memberikan pengalaman presentasi dan interaksi bagi brand Indonesia di lingkungan mode internasional.
Kedua perkembangan ini memperlihatkan bagaimana jejaring PINTU dapat membuka ruang bagi kolaborasi, pertukaran pengalaman, dan kemungkinan baru bagi para pelaku mode.
Dialog kreatif Indonesia dan Prancis melalui PINTU Residency
Masuk tahun kedua, PINTU Residency mempertemukan dua desainer Indonesia dan dua desainer Prancis dalam program residensi selama empat bulan. Program ini dikurasi oleh Thresia Mareta, Pascaline Wilhelm, dan Carol Meyer.

Lebih dari sekadar menghasilkan koleksi, PINTU Residency membangun ruang dialog antara desainer, artisan, material, teknik, dan latar budaya yang berbeda. Kolaborasi ini menjadi upaya untuk menciptakan proses kreatif yang setara, relevan, dan memiliki nilai jangka panjang bagi seluruh pihak yang terlibat.
Berlangsung sejak April hingga Juli 2026, para peserta menjalani proses riset bersama, mengeksplorasi teknik tekstil tradisional, bekerja langsung dengan komunitas artisan, serta mengembangkan koleksi melalui pertukaran pengetahuan dan budaya.
Di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), desainer Prancis Mickaël Nana berkolaborasi dengan desainer Indonesia Beatrice Angelica untuk mengembangkan koleksi GARUDA.
Koleksi ini memadukan pendekatan tailoring Barat dengan tenun dan songket Lombok, melalui interpretasi kontemporer terhadap simbol Garuda sebagai representasi kekuatan, kebebasan, dan identitas.
Sementara di Mojokerto, Lisa Rayar dan Gabriel Marcella mengembangkan koleksi AU LARGE. Terinspirasi oleh tradisi maritim Prancis dan budaya pesisir Jawa, koleksi ini mempertemukan batik, struktur tailoring, dan referensi seragam dalam siluet kontemporer.
Hasil dari kedua proses tersebut akan dipresentasikan untuk pertama kalinya di JF3 Fashion Festival 2026 yang berlangsung 23-29 Juli di Fashion Tent La Piazza Summarecon Kelapa Gading. (HG)