Hidupgaya.co – Susu termasuk salah satu sumber nutrisi yang dibutuhkan tubuh di setiap tahap kehidupan. Bukan hanya anak-anak, orang dewasa, ibu hamil bahkan lansia tetap butuh susu sebagai sumber protein hewani yang mudah diserap tubuh.
Kaya gizi, susu memberikan kontribusi yang besar di setiap tahapan usia, dukungan untuk pertumbuhan otak di usia dini, menunjang tubuh kuat dan aktif untuk usia sekolah dan remaja serta menjaga daya tahan tubuh untuk semua usia.
Sayangnya, tak semua orang bisa mengonsumsi susu karena kondisi lactose intolerance (intoleransi laktosa), yakni kondisi ketika tubuh tidak dapat mencerna laktosa (gula alami dalam susu) akibat kekurangan enzim laktase di usus halus.
Penyebabnya antara lain karena produksi enzim laktase menurun secara alami seiring bertambahnya usia. Atau, bisa juga karena kondisi tertentu, seperti penyakit usus (seperti celiac) atau infeksi saluran cerna.
Orang dengan masalah intoleransi laktosa umumnya akan mengalami diare, perut kembung, mual, bahkan kram perut yang biasanya muncul 30 menit hingga 2 jam setelah mengonsumsi produk susu.

Pada orang dengan masalah intoleransi laktosa, dr. Diana Suganda M.Kes, Sp.GK, menyarankan untuk tetap memaparkan dengan susu sedikit demi sedikit. “Pada orang dengan intoleransi laktosa, minum kopi susu setiap hari bisa memunculkan masalah itu. Solusinya boleh saja minum kopi susu, tapi lebih jarang misalnya seminggu dua kali, jangan setiap hari,” ujarnya di sela acara ‘Temani Langkahmu, Kini dan Nanti’ yang dihelat Frisian Flag Indonesia di Bintaro Exchange Mall, Tangerang Selatan, Jumat (29/5).
Untuk memenuhi kebutuhan protein, orang yang memiliki intoleransi laktosa disarankan menambahkan sumber protein alternatif, misalnya susu bebas laktosa atau sumber pangan lain.
Karena bukan jenis alergi susu, Diana menyarankan orang dengan intoleransi laktosa bisa tetap dikenalkan susu sapi. “Sedikit demi sedikit dikenalin, bukan menghindari sama sekali,” terangnya.
Kontrol obesitas anak, cek isi kulkas
Terkait obesitas anak yang jumlahnya cukup banyak di Tanah Air akibat kurang gerak dan kebiasaan konsumsi makanan/minuman tinggi kalori, seperti gorengan atau camilan manis, Diana menyarankan agar orang tua mengecek isi kulkas.
“Lack of activity, kurang gerak, itu salah satu faktor yang menyumbang kegemukan pada anak. Apalagi kalau sibuk dengan gawai dan tidak dibiasakan bergerak, tidak diberi contoh oleh orang tua, biasanya anak akan mager,” tutur Diana.
Selain itu, isi kulkas mencerminkan pola makan keluarga yang akan membentuk kebiasaan. “Sediakan bahan makanan segar, buah dan sayur sebagai pengganti camilan manis seperti es krim, cokelat dan minuman kemasan. Apa yang kita siapkan, itulah yang akan dimakan keluarga. Ini akan membentuk habit,” ujarnya.
Dia tak menampik, kebanyakan anak suka terhadap makanan manis. “Boleh konsumsi makanan manis, tapi to be mindful. Karena memang nggak bisa melarang sama sekali, apalagi anak bisa jajan atau pengaruh teman,” lanjut Diana.
Terkait konsumsi susu harian, Diana menyarankan anak usia sekolah bisa minum sekira 400 ml, tapi bukan di jam makan utama. “Kebanyakan minum susu di jam makan utama bikin anak kenyang, jadi kurang berselera makan,” ujarnya.
Sedangkan untuk orang dewasa, sebut Diana, asupan susu 200-300 ml cukup memadai.
Menutrisi Indonesia lebih humanis
Head of Masterbrand & Future Innovation PT Frisian Flag Indonesia Kanya Ramyacitta menyampaikan, di tengah situasi yang penuh tantangan dewasa ini, kampanye Temani Langkahmu, Kini dan Nanti hadir untuk menumbuhkan semangat keluarga indonesia melalui nutrisi susu.
“Melalui kampanye ini, kami ingin menghadirkan semangat Nourishing Indonesia dengan cara yang lebih dekat, relevan, dan bermakna bagi keseharian keluarga Indonesia. Kampanye ini tujuannya untuk menutrisi Indonesia, dibawa ke sisi lebih dekat, lebih humanis,” terangnya.
Kanya menambahkan, di tengah kehidupan yang semakin dinamis dan penuh tantangan, keluarga Indonesia membutuhkan lebih dari sekadar produk bernutrisi, tapi juga dukungan yang relevan, dekat, dan hadir dalam keseharian. “Bukan sekadar menutrisi, melalui kampanye ini kami ingin juga membangun kebiasaan baik, salah satunya minum susu, sambil membangun semangat dan optimisme dalam keluarga,” tuturnya.
Kesempatan sama Corporate Affairs Director PT Frisian Flag Indonesia Andrew Saputro, mengatakan perlu upaya konsisten dalam meningkatkan kesadaran minum susu di kalangan masyarakat Indonesia yang masih terbilang rendah.

Data menyebut konsumsi susu per kapita di Indonesia berkisar di angka 16,2 hingga 17,7 kg per kapita per tahun. Itu tergolong rendah dibandingkan negara Asia Tenggara lainnya dan masih jauh dari ambang batas minimum konsumsi yang ditetapkan oleh Organisasi Pangan Dunia (FAO) sebesar 30 kg per kapita per tahun.
“Konsumsi susu per kapita Indonesia memang terbilang rendah di Asia Tenggara, per bulan hanya sekitar 1 liter,” ujar Andrew.
Urusan minum susu, warga Indonesia masih jauh tertinggal di bawah Malaysia yang mencapai lebih dari 42 kg/kapita/tahun.
Guna meningkatkan kesadaran pentingnya minum susu, sebut Andrew, Frisian Flag dalam 10 tahun telah menjalankan program edukasi manfaat susu di sekolah-sekolah. “Ini menjadi tantangan besar. Untuk menggiatkan minum susu, Frisian Flag secara rutin memperingati Hari Susu Sedunia dan Hari Susu Nusantara setiap 1 Juni bersama para pemangku kepentingan,” tandasnya. (HG)