Hidupgaya.co – Saat kondisi ekonomi ‘lesu darah’ seperti sekarang, konsumen harus cerdas dalam mengelola keuangan, termasuk membeli barang bermerek. Investasi tak melulu soal pasar uang, saham, properti atau emas, namun juga bisa berwujud barang mewah seperti tas dan jam bernilai tinggi.

Sejumlah orang memilih tas dan jam sebagai ‘alat investasi’ yang bisa dijual cepat dengan harga tinggi. Produk barang mewah itu selain bisa dipakai, juga dapat dijual kembali dengan harga menguntungkan.

“Ada teman yang memilih beli tas Chanel sebagai tabungan yang bisa dijual kembali sebagai produk preloved (bekas) saat dia butuh biaya sekolah anak dalam tiga tahun mendatang. Depresiasi tentu ada tapi masih menguntungkan dengan tingkat kenaikan,” ujar Renaningtyas, Head of Promotion Irresistible Bazaar (Irres).

Langkah itu diambil karena selain si teman ini suka barang branded, berdasar pengalaman, barang-barang mewah yang dibelinya itu bisa dijual kembali dengan cepat dan menguntungkan. “Asal dirawat dengan baik, produk tas mewah itu bisa dijual kembali dengan harga tinggi sebagai produk preloved,” ujar Rena.

Komunitas penjual produk preloved mewah di Jakarta, sebut Rena, cukup banyak. Mereka tergabung dalam komunitas di bawah Irres sebagai penjual barang mewah autentik.

Tenant anggota Irres yang bergabung dalam bazaar sudah terkurasi dan tepercaya menjual produk autentik. Keaslian produk bisa dipertanggungjawabkan, makanya konsumen loyal dan akan selalu kembali membeli – bahkan menjual menjual kembali barang – ke mereka,” bebernya.

Dokumen Instagram Irresistible Bazaar

Mediator konsumen dan penjual produk preloved luxury

Marisa Tumbuan, pendiri Irresistible Bazaar, membentuk platform ini sejak 2015. Dalam 11 tahun, platform yang dibentuk untuk memudahkan para pecinta fesyen produk preloved branded dengan harga bersaing dari penjual tepercaya.

“Irres bisa bertahan hingga 11 tahun karena punya komunitas tenant yang sudah dikurasi ketat. Nggak semua yang ingin ikut bazaar di mal bisa kita terima karena kurasinya memang ketat demi menjaga kepercayaan pembeli. Banyak waiting list yang belum kita loloskan, antara lain karena tidak lolos verifikasi,” beber Rena.

Dalam setiap penyelenggaraan bazaar yang berlangsung hampir setiap bulan dengan total sekitar 10-11 bazaar per tahun, jumlah seller yang menunggu proses kurasi dapat mencapai 10–15, sebut Rena. “Nggak semuanya dapat langsung bergabung, karena Irres memprioritaskan rekam jejak transaksi, reputasi, dan kredibilitas seller sebelum menerima mereka ke dalam ekosistem,” tuturnya.

Dengan komunitas kuat, Irres melakukan verifikasi keaslian produk dan kredibilitas penjual. “Kita bisa saling tukar informasi sesama penjual. Orang ini trusted nggak, pernah transaksi apa nggak, dan sebagainya. Orang yang sama sekali terjun di bisnis barang preloved tidak serta merta bisa ikut bazaar kita kalau memang nggak lolos verifikasi, misalnya latar belakangnya nggak jelas, atau meragukan,” urainya.

Rena menekankan, selama lebih dari 11 tahun berjalan, Irres telah mengantongi pengalaman panjang dalam melakukan kurasi seller preloved luxury. “Irres bahkan tak hanya dikenal sebagai bazaar, tetapi juga menjadi salah satu acuan trusted seller bagi pelanggan,” ujarnya.

Tak jarang calon pembeli yang hendak bertransaksi dengan seller di luar bazaar menghubungi tim Irres untuk menanyakan apakah penjual tersebut pernah bergabung di Irresistible Bazaar. “Bagi banyak customer, riwayat kerja sama seller dengan Irres menjadi salah satu bentuk validasi dan indikator kepercayaan,” urai Rena.

Keanggotaan eksklusif minimalkan penipuan

Untuk memudahkan pengecekan sekaligus menjaga eksklusivitas, Irres juga memberlakukan keanggotaan VIP (Irres Only). “Ini memudahkan kita cek juga untuk minimalkan fraud (penipuan). Jadi konsumen yang beli di tenant anggota Irres lebih nyaman dan tenang karena produk yang mereka beli terjamin keasliannya,” terang Rena.

Penjual yang tergabung dalam Irres Only hanya akan mengikuti bazaar bersama Irresistible Bazaar dan tidak berpartisipasi di ajang lainnya.

Bagi pelanggan, keberadaan tenant Irres Only memberikan rasa aman tambahan karena rekam jejak kerja sama seller dengan Irresistible Bazaar sudah terjalin dalam waktu yang panjang dan lebih mudah untuk divalidasi, baik dari sisi reputasi maupun transparansi produk yang dijual.

Poin penting lain yang ditawarkan kepada konsumen adalah aftersale service apabila membeli barang dari anggota Irres. “Misalnya nih, konsumen meragukan barang yang dia beli asli apa nggak. Meskpun belinya sudah lama, tapi kalau notanya masih tersimpan, itu bisa dilacak ke penjualnya. Itu yang bikin konsumen merasa nyaman, dan kembali lagi buat belanja,” Rena menandaskan.

Renaningtyas, Head of Promotion Irresistible Bazaar (Irres)

Menurut Rena, layanan ini pernah digunakan dalam sejumlah kasus pada tahun-tahun sebelumnya. Hal tersebut menjadi bagian dari komitmen Irres dalam menjaga rasa aman dan kepercayaan pelanggan saat berbelanja di bazaar.

Irresistible Bazaar tidak segan untuk mengambil tindakan tegas apabila ditemukan seller yang tidak transparan atau terbukti menjual produk yang bermasalah. “Seller itu langsung dimasukkan ke dalam blacklist dan dilarang mengikuti bazaar sampai terbukti berhasil memulihkan reputasi dan kredibilitasnya kembali,” tandas Rena.

Memberi ruang tumbuh produk lokal

Sebagai perintis preloved luxury bazaar, Irres tak sekadar mempertemukan penjual dan pembeli untuk produk/merek buatan luar negeri, namun juga memberi ruang pada pertumbuhan produk lokal.

“Kami menyediakan ruang bagi merek lokal premium hadir berdampingan dengan merek luxury fashion lainnya. Ini visi Marisa sebagai founder Irres dalam mendukung merek lokal untuk lebih berkembang, baik dari sisi kualitas, juga mendapatkan eksposur dari pengalaman mengikuti luxury bazaar,” Rena menguraikan.

Nerek lokal yang ikut bazaar di Irres dikurasi ketat. Selain memiliki kualitas premium yang mampu bersaing, produk itu harus memiliki desain original dan identitas visual yang kuat. “Tidak menyerupai desain merek lain, terutama brand internasional. Kalau yang sangat mirip, akan kita tolak,” cetusnya.

Hal itu dilakukan agar jenama lokal tetap dapat tampil menonjol dan memiliki karakter yang kuat di tengah ekosistem luxury fashion merek internasional.

Rena menyebut, ada sebuah merek tas kulit buatan lokal dengan jahitan dan kualitas yang sangat baik. “Banyak pelanggan Irres yang memburu produk lokal ini dengan desain autentik. Nggak ada yang namanya dupe dengan merek tas mewah buatan Prancis atau Italy. Kalau yang mirip-mirip merek internasional sudah pasti kita tolak,” tandasnya.

Tiga preloved luxury favorit konsumen

Bicara soal produk preloved luxury yang diminati konsumen, Rena menyebut merek legendaris seperti Hermes, Chanel dan LV (Louis Vuitton). “Itu tiga merek favorit yang paling dicari karena harga jual kembali bagus, nilainya terus naik, asalkan terawat,” ujarnya.

Konsumen entry level yang baru pertama kali beli preloved luxury, sebut Rena, biasanya memilih LV, selanjutnya Chanel, kemudian Hermes. Merek lain yang juga disukai adalah Miu Miu dan Balenciaga.

Terkait investasi produk barang mewah, menurut Rena, konsumen harus bisa membaca tren. “Kalau rare item biasanya kolektor yang beli. Tapi kalau mau dapat duit cepet, tas Chanel nggak pernah salah. Setiap tahun ini merek Chanel dan Hermes naikin harga sekitar 14 persen,” ujarnya.

Suasana Irresistible Bazaar di sebuah mal

Koleksi teranyar yang dipakai idol Korea misalnya, cenderung laris diburu konsumen. “Tas yang dipakai seleb atau idol Korea itu diburu konsumen. Kalau di toko sudah habis, biasanya barang preloved akan kembali dicari, bahkan harganya bisa naik,” tutur Rena.

Bagi kaum mendang mending yang ingin produk branded, Rena menyarankan untuk memilih merek Amerika Serikat seperti Cocah, Kate Spade, Michael Kors atau Tory Burch. Setelah itu, bisa ‘naik kelas’ ke merek Eropa atau Italy, seperti LV, Chanel, Prada dan sebagainya.

Untuk konsumen yang ingin punya tas LV perdana, Rena menyarankan jenis klasik seperti Speedy dan Metis. “Itu desainnya abadi dan sangat ikonis, juga mudah dijual kembali,” ujarnya.

Saat rupiah tertekan terhadap mata uang dunia seperrti dolar dan euro sepertu sekarang, berbelanja produk branded preloved merupakan keputusan tepat. Alasannya, harga preloved lebih terjangkau dan umumnya kondisi barangnya masih bagus.

“Pembeli yang sudah tahu nilai produk barang mewah ini biasanya merawat barangnya dengan baik. Misalnya di bagian kaki-kaki tas dipakai sealer, jadi kondisinya saat dijual kembali masih prima. Atau kalau sepatu sneakers dipakai dengan kaos kaki, sehingga kondisi solnya masih bersih. Hanya pakai beberapa kali, jadi dijual kembali masih sangat baik kondisinya,” Rena menjelaskan berdasar pengalaman bertahun-tahun terlibat dengan tenant dan konsumen Irres.

Last but not least Rena wanti-wanti, sebelum membeli produk branded dengan harga tinggi, usahakan untuk selalu cek kredibilitas penjual.

“Penjual yang gabung di komunitas Irresistible Bazaar bisa dipercaya hanya menjual barang asli. Rekam jejaknya jelas sehingga bisa dipertanggungjawabkan. Pada akhirnya, pelanggan lebih nyaman berbelanja,” pungkasnya.

Irresistible Bazaar akan kembali pada 10-14 Juni 2026 di Exhibition Hall Grand Indonesia West Mall Level 5. Untuk informasi lebih lanjut, kunjungi Instagram @irresistible.bazaar. (HG)