Hidupgaya.co – Menjalani kehidupan dinamis, rajin melakukan aktivitas fisik, bahkan sebagai pelari, tak menghindarkan Iwet Ramadhan dari serangan stroke. Ia mengalami stroke akibat pecah pembuluh darah di otak pada Februari 2023.

“Saat itu saya dinyatakan stroke akibat pecah pembuluh darah di otak, jenisnya perdarahan subaraknoid,” ujar Iwet saat berbagi kisah di acara peluncuran tensimeter Seri EZ dan IQ Omron Healthcare di Jakarta, baru-baru ini.

Apa yang dialami Iwet merupakan stroke hemoragik (perdarahan), yakni perdarahan ke ruang antara otak dan selaput luar (perdarahan subaraknoid).

Untuk diketahui, otak dikelilingi oleh lapisan pelindung tipis yang disebut membran araknoid. Ruang antara membran tersebut dan otak adalah ruang subaraknoid. Jika pembuluh darah yang melewati membran araknoid pecah, perdarahan dapat mengisi ruang subaraknoid, yang memicu tekanan di dalam tengkorak yang menekan otak dari luar.

Perdarahan lain yang bisa memicu stroke adalah perdarahan di dalam otak (perdarahan intraserebral), terjadi ketika pembuluh darah di dalam otak pecah, hal itu memberi tekanan pada jaringan otak dari dalam.

Iwet Ramadhan (dok. Instagram)

Stroke hemoragik adalah keadaan darurat yang mengancam jiwa yang terjadi ketika pembuluh darah di otak pecah (ruptur) dan berdarah. Perdarahan tersebut mengganggu sirkulasi normal di otak, mencegahnya mendapatkan darah dan oksigen yang dibutuhkan untuk bertahan hidup dan berfungsi normal.

Apa pun yang merusak atau memecah pembuluh darah di otak dapat menyebabkan stroke hemoragik. Tekanan darah tinggi (hipertensi) adalah penyebab paling umum, terutama jika tekanan darah sangat tinggi atau tetap tinggi untuk waktu yang lama.

Menurut Iwet, stroke yang dialaminya dipicu stres kronis (berkepanjangan) yang menyebabkan hipertensi tidak terkontrol. Selain stres, kebiasaan begadang dalam jangka panjang diyakini turut memicu perdarahan subaraknoid yang dialaminya di masa lalu.

Presenter itu mengaku memiliki gaya hidup sehat, pernah mengikuti ajang marathon dunia seperti Berlin Marathon dan New York Marathon, sehingga sama sekali tak menyangka bisa terkena stroke

Sebelum mengalami stroke, Iwet sempat mengalami pecah pembuluh darah di mata. Saat dilarikan ke unit gawat darurat, tekanan darahnya bahkan mencapai angka 220. “Stres itu benar-benar membuat semuanya hancur. Makanya penting cek tekanan darah secara rutin,” saran dia.

Dari kejadian itu ia belajar bahwa gaya hidup sehat saja tidak cukup jika tak mampu mengendalikan stres yang berujung pada hipertensi, sebagai salah satu faktor utama stroke.

Iwet mengingatkan pentingnya rutin memeriksa tekanan darah karena hipertensi kerap muncul tanpa disadari (punya julukan pembunuh senyap), karena bisa memicu stroke maupun sakit jantung jika tak dikontrol.

Kesempatan sama, Ketua Indonesian Society of Hypertension (INASH), dr. Eka Harmeiwaty, Sp.S, menyampaikan hipertensi menjadi salah satu faktor utama pemicu stroke dan penyakit jantung.

Data menunjukkan penderita hipertensi di Indonesia kini mencapai 57 juta orang, namun pasien yang tekanan darahnya terkontrol masih kurang dari 20 persen. “Kondisi ini membuat komplikasi hipertensi seperti stroke, gagal jantung, hingga gagal ginjal masih sangat tinggi,” cetusnya.

Eka lebih lanjut mengungkap, hipertensi dapat merusak pembuluh darah dalam jangka panjang dan memicu berbagai penyakit lain, termasuk gangguan penglihatan, demensia, hingga gangguan irama jantung/atrial fibrilasi (afib), yang meningkatkan risiko stroke hingga lima kali lipat.

Untuk mencegah stroke, masyarakat diimbau mulai menerapkan pola hidup sehat, rutin berolahraga, menjaga berat badan, tidur cukup, stop merokok, kurangi konsumsi makanan yang mengandung tinggi garam, dan melakukan pemeriksaan tekanan darah secara berkala sejak usia 18 tahun.

Penting untuk mewaspadai tanda dan gejala stroke perdarahan, antara lain sakit kepala yang tiba-tiba dan hebat, sensitivitas terhadap cahaya (fotofobia), pusing atau vertigo, kesulitan memahami atau berbicara (afasia), bicara cadel atau tidak jelas (disartria), kelemahan atau kelumpuhan satu sisi, kehilangan indra (seperti penglihatan, pendengaran, dan sentuhan), kekakuan leher, mual dan muntah, kejang, pingsan, hingga koma.

Time is brain dalam penanganan stroke. Segera hubungi bantuan, dan bila memungkinkan, lihat jam tangan, telepon, atau jam dinding untuk melacak kapan gejala dimulai. Memberitahu dokter kapan gejala dimulai dapat membantu mengetahui perawatan mana yang terbaik untuk mengatasi stroke. (HG)