Hidupgaya.co – Potongan plastik berukuran mikro (mikroplastik) dan nano (nanoplastik) yang sangat kecil tampaknya muncul di mana-mana, termasuk salah satu bagian tubuh manusia yang paling terlindungi, otak.

Dalam sebuah studi baru-baru ini yang dilakukan oleh para peneliti Tiongkok, mereka menemukan mikroplastik dan nanoplastik di hampir semua sampel otak yang mereka uji, baik otak manusia yang sehat maupun yang sakit.

Menurut temuan yang dipublikasikan di Nature Health, tingkat mikroplastik tercatat sebagai yang tertinggi dalam penelitian, mencapai 129 mikrogram per gram pada jaringan otak yang terkena tumor.

Jaringan otak dan sumsum tulang belakang yang sehat memiliki tingkat yang jauh lebih rendah, dengan median 50,3 mikrogram per gram.

Meskipun kemungkinan menemukan mikroplastik di otak tidak dapat disangkal, jumlah sebenarnya jauh lebih rendah daripada klaim yang mengejutkan sebesar satu sendok teh yang dibuat selama pengumuman bersama oleh Badan Perlindungan Lingkungan AS (EPA) dan Departemen Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan (HHS) pada awal April 2026, menurut laporan MedicalXpress.

Studi telah menemukan bahwa mikroplastik dapat masuk ke tubuh manusia melalui pernapasan, makan, dan kontak kulit. Otak dilindungi oleh filter yang sangat selektif yang disebut sawar darah-otak, yang dirancang untuk mencegah zat berbahaya masuk ke organ terpenting manusia.

Namun, penelitian sebelumnya menemukan bahwa mikroplastik entah bagaimana dapat melewati pertahanan ini dan masuk ke otak. Ini sangat mengkhawatirkan karena sangat sedikit yang diketahui tentang apa yang dilakukan partikel asing ini setelah berada di dalam, ke mana partikel itu pergi dan menetap, atau konsentrasi apa yang dapat mereka capai.

Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, para peneliti menggunakan alat-alat canggih seperti spektroskopi inframerah langsung laser resolusi tinggi (LDIR) dan mikroskopi elektron pemindaian (SEM) untuk memeriksa 191 sampel otak.

Seratus lima puluh enam sampel dikumpulkan dari 113 pasien hidup yang menjalani operasi untuk tumor seperti glioma dan meningioma, dan 35 sampel dari lima donor post-mortem dengan otak yang sehat untuk melihat apakah plastik hadir dalam jaringan otak normal.

Pengamatan lebih dekat mengungkap bahwa mikroplastik dan nanoplastik hadir di hampir semua sampel: 99,4% dari sampel jaringan yang sakit dan 100% dari sampel jaringan yang sehat. Nanoplastik, yang berukuran lebih kecil, ditemukan lebih melimpah daripada mikroplastik.

Tim tersebut bahkan mampu mengidentifikasi jenis plastik asal partikel-partikel kecil tersebut: PET, yang sering digunakan untuk membuat botol minuman; polietilen, yang umum digunakan dalam kantong plastik; poliamida yang membentuk tekstil seperti nilon dan PVC yang ditemukan dalam peralatan perpipaan dan industri.

Pada otak yang sakit, kadar partikel tidak seragam di seluruh jaringan, dengan konsentrasi yang lebih tinggi di dekat tumor, mungkin karena melemahnya perlindungan alami. Tim peneliti mendeteksi partikel-partikel ini di lingkungan ruang operasi, meningkatkan kemungkinan paparan selama prosedur medis.

Analisis juga menemukan bahwa semakin besar luas permukaan mikroplastik, semakin cepat pertumbuhan sel tumor. Meskipun ini tidak berarti mikroplastik menyebabkan kanker, hal ini menimbulkan pertanyaan tentang peran yang mungkin dimainkan mikroplastik dan nanoplastik dalam seberapa cepat penyakit tersebut berkembang, suatu area yang menurut para peneliti membutuhkan eksplorasi lebih lanjut.

Mengatasi polusi mikro dan nanoplastik butuh tindakan bersama dari para pembuat kebijakan, produsen, dan konsumen. Temuan dari studi ini, bersama dengan penelitian di masa mendatang, dapat memperkuat kesadaran publik dan mendorong permintaan akan perubahan, membantu mendorong kebijakan yang didasarkan pada bukti daripada sensasionalisme semata. (HG)