Hidupgaya.co – Situasi pandemi berpotensi mengganggu tumbuh kembang si Kecil dalam berbagai aspek seperti motorik, bahasa dan sosial emosional. Bila tidak dicermati, hal ini dapat berdampak pada tumbuh kembang mereka ke depannya.

Sementara itu, Dr. Frieda Handayani Kawanto, Sp.A(K), seorang dokter spesialis anak konsultan gastrohepatologi menerangkan, agar anak dapat tumbuh dan berkembang secara optimal, orang tua perlu memastikan kesehatan pencernaan anak tetap terjaga. “Pencernaan yang sehat dan kemampuan berpikir yang baik akan berpengaruh pada suasana hati anak sehingga ia siap untuk beraktivitas dan kembali bersosialisasi dengan lingkungannya,” ujar Frieda  dalam temu media daring yang dihelat Bebelac dan Danone Specialized Nutrition, baru-baru ini. 

Selain memastikan kesehatan pencernaan anak terjaga, tetapi orang tua juga harus membekali buah hati dengan memberikan stimulasi yang optimal untuk mengasah keterampilan motorik, bahasa dan sosial emosional agar ia memiliki keterampilan yang lengkap dan tumbuh optimal.

Ilustrasi aktivitas anak (dok. istimewa)

Adaptasi dan Penyesuaian di Masa Transisi

Memasuki masa transisi kebiasaan baru pasca-pandemi tentunya membutuhkan adaptasi dan penyesuaian terhadap rutinitas dalam kehidupan keluarga terutama bila anak mulai kembali beraktivitas di luar rumah.

Menurut psikolog keluarga Nadya Pramesrani, penting bagi orang tua dan anak untuk senyaman mungkin bertransisi dan beradaptasi dalam situasi pasca pandemi sehingga dapat mengurangi rasa stres pada orang tua dan meningkatkan rasa percaya diri pada anak. 

“Ada beragam kiat yang dapat dilakukan orang tua orang tua dalam memulai kebiasaan baru memasuki pasca-pandemi di antaranya dengan membangun struktur pada anak dengan cara menerapkan rutinitas yang teratur,” ujar Nadya.

Nadya menambahkan, dengan menerapkan struktur, anak akan lebih memahami batasan dalam berperilaku, mampu mengendalikan diri, memiliki sikap disiplin dan mandiri.

Disampaikan Marketing Manager Bebelac  Anissa Permatadhieta Ardiellaputri, perubahan rutinitas kembali ke normal ini sedikit banyak menyebabkan kekhawatiran pada orang tua, salah satunya adalah apakah anak  sudah mampu beradaptasi untuk berinteraksi dengan lingkungan baru setelah selama dua tahun hidup berjarak dari orang lain dan lingkungan sekitar. 

Melihat hal ini, Bebelac melakukan survei terhadap orang tua di Indonesia untuk mengetahui isu dan disrupsi yang dirasakan orang tua atas tumbuh kembang buah hati selama pandemi serta adaptasi apa yang telah dilakukan orang tua dan si Kecil di masa transisi kebiasaan baru.

Hasil survei menyatakan sebanyak 31,7% orang tua menjawab bahwa anaknya yang masih kecill menangis setiap bertemu orang baru, sedangkan 14,8% orang tua menjawab bahwa anak terlambat berbicara dan 13% orang tua menjawab anakl belum bisa merespon orang lain. 

Survei juga menemukan, berbagai kendala yang mungkin dialami anak saat memasuki masa transisi dari pandemi ke pascapandemi di antaranya 388 dari 1232 responden orang tua (31,5%) merasa si anak belum terbiasa berinteraksi dengan orang lain sebagai dampak dari situasi pandemi. 

Dengan kata lain, untuk memastikan pertumbuhan si Kecil sesuai dengan grafik kesehatan dan tetap optimal sesuai tahapan usia, Ia harus dibekali dengan nutrisi yang lengkap serta stimulasi kreatif yang memadai.

“Semoga dengan pemenuhan nutrisi dan stimulasi yang optimal bisa sebagai bekal dalam menghadapi masa transisi kebiasaan baru sehingga walaupun harus menghadapi situasi yang menantang si Kecil tetap dapat tumbuh menjadi anak hebat,” tandas Anissa. (HG)