Hidupgaya.co – Air Susu Ibu (ASI) merupakan makanan terbaik untuk bayi. Karena alasan inilah, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mendorong para ibu menyusui bayinya – hanya ASI saja – pada usia 0-6 bulan, serta Inisiasi Menyusu Dini (IMD) pada saat persalinan.

Disampaikan dr. Jeanne-Roos Tikoalu, Sp.A, IBCLC, CIMI, menyusui bukan hanya sebatas memberikan air susu ibu saja, tetapi merupakan salah satu bentuk ikatan pertama antara ibu dan anak. “ASI memberikan kenyamanan dan rasa aman untuk keluarga dan menjaga kesehatan ibu serta anak dalam jangka panjang. Selain itu, banyak manfaat yang bisa didapat ibu dan anak dengan menyusui, di antaranya ASI memberikan antibodi yang dapat mencegah anak dari berbagai kemungkinan penyakit dan infeksi,” terang Dokter Spesialis Anak dan Konselor Laktasi RS Pondok Indah – Puri Indah dalam temu media menandai ulang tahun ke-17 Mothercare Indonesia sekaligus menandai World Breastfeeding Week 2022 yang digelar di Jakarta, Senin (1/8/2022).

Dokter Jeanne menambahkan, ASI lebih mudah dicerna dan cocok dengan usia bayi. Dengan kata lain, hanya memberikan ASI saja saat usia 0-6 bulan sudah memadai. Saat anak mencapai usia 6 bulan diteruskan dengan makanan pendamping ASI (MPASI) yang mengandung gizi seimbang.

Ilustrasi menyusui di masa pandemi (dok. istimewa)

Meskipun manfaat ASI demikian besar untuk menunjang kekebalan anak, namun disayangkan selama pandemi Covid-19 pemberian ASI menurun. Penyebab penurunan pemberian ASI bisa disebabkan oleh banyak faktor, misalnya ibu terkena Covid-19 dan memutuskan berhenti memberikan ASI atau kurangnya support system.

Dokter Jeanne mengatakan, meskipun ibu terinfeksi Covid-19 sebenarnya masih bisa memberikan ASI. “Bisa menyusui langsung atau melalui ASI perah, tentunya dengan melakukan protokol kesehatan yang tepat,” ujarnya.

Support system saat menyusui, sebut Dokter Jeanne menjadi hal penting. “Dukungan suami, keluarga, dan konselor laktasi penting. Bahkan untuk konsultasi dengan konselor laktasi sebaiknya mulai dilakukan sejak kehamilan,” terangnya.

ASI Tidak Menetes Pertanda Produksi Kurang?

Dokter Jeanne menampik anggapan bila ASI tidak menetes dari payudara beberapa hari setelah persalinan, berarti produksinya kurang atau ASI tidak ada. “ASI sudah terbentuk di usia kehamilan empat bulan atau 16 minggu. Bagi ibu yang belum pernah melahirkan butuh waktu 6-7 baru ASI menetes dari payudara. Sedangkan bagi yang sudah melahirkan, butuh waktu 2-4 hari ASI menetes dari payudara saat kondisi penuh,” ujar konselor laktasi itu.

Mengapa demikian? Tak lain karena pada ibu yang pernah menyusui, di payudara telah terbentuk sel memori sehingga saat hamil, sel itu langsung bekerja sehingga prosesnya lebih cepat. “Jadi saat kegiatan menyusui dilakukan, sel memori itu bekerja sehingga pada hari kedua atau ketiga ASI sudah menetes-netes dari payudara. Tapi jangan tunggu sampai ASI menetes baru menyusui, karena produksinya sudah ada. Perlu dirangsang dengan mengajarkan bayi menyusu langsung,” terang Dokter Jeanne.

Untuk itu, setelah lahir dekatkan bayi dengan IMD, dan selanjutnya biasakan menyusuinya secara langsung. “Awalnya mungkin bayi hanya menyusu 5 menit, namun mulutnya tidak melepaskan puting. Ha lini akan merangsang kelenjar montgomery yang  memberi bau khas sehingga bayi akan mencari payudara dari aroma khas itu,” ujar Dokter Jeanne.

Agar menyusui berlangsung sukses, Dokter Jeanne mengatakan perlekatan mulut bayi ke payudara juga harus benar. “Posisi menentukan prestasi. Dengan perlekatan yang benar maka bayi bisa menyusu dengan baik. Tanda bayi cukup ASI adalah berat badannya bertambah dan frekuensi urin, misalnya pipis sekali di hari pertama. Sehabis menyusu, saat bayi melepaskan puting biasanya akan ada cairan putih di sekitar mulutnya,” imbuhnya.

Dokter Jeanne juga menekankan pentingnya durasi menyusui. “Usahakan menyusui selama 30 menit. ASI awal, yaitu 1-15 menit kuat dugaan mengandung komposisi air dan protein. Sedangkan setelah 15 atau 20 menit, komposisi lemak pada ASI akan dikeluarkan,” bebernya.

Terkait MPASI, Dokter Jeanne menekankan para ibu harus memberikan makanan pendamping ASI yang tidak hanya mengandung karbohidrat, namun juga mengandung gizi lain seperti protein dan lemak. “MPASI dulu hanya bubur beras merah atau kacang hijau, namun sekarang harus ada komponen karbohidrat, protein terutama hewani juga nabati, serta lemak,” ujarnya.

Konselor laktasi dr. Jeanne-Roos Tikoalu, Sp.A, IBCLC, CIMI memberikan contoh posisi menyusui yang benar (dok. Hidupgaya.co)

Saat anak mencapai usia satu tahun boleh dikenalkan dengan makanan keluarga, bukan lagi makanan lembek. “Saya pernah temui kasus anak usia 1,5 tahun hanya minum susu 1 liter sehari namun berat badan tidak naik. Anak 1 tahun harus sudah makan makanan keluarga,” tandas Dokter Jeanne.

Kesempatan sama, Vasudev Kataria, Senior Vice President for Baby, Kids & Toy Brands in Kanmo Group menyampaikan, Mothercare dan Modern Parent mendukung penuh World Breastfeeding Week 2022, salah satunya dengan berusaha selalu berperan serta menyuarakan tentang pentingnya menyusui sebagai fondasi kehidupan generasi mendatang Indonesia. 

“Selama 2 tahun Modern Parent hadir, beragam informasi secara rutin diberikan untuk mendukung para calon orang tua dan orang tua baru, agar merasakan banyak dukungan selama menjalani life stages untuk generasi Indonesia yang lebih baik di masa depan,” pungkas  Vasu.  (HG)