Hidupgaya.co – Gedung Sarinah yang megah menjadi tempat nongkrong yang asyik. Belum lama diresmikan, tempat ini lebih dulu viral di media sosial. Yup, Sarinah memang bersolek habis-habisan dan memantaskan diri sebagai etalase produk UMKM Indonesia.

Direktur Utama Sarinah Fetty Kwartati menyampaikan Sarinah adalah representasi etalase produk dalam negeri karena menempati posisi strategis di jantung ibu kota DKI Jakarta.  Sejak 2020 awal dimulai renovasi bisnis terhadap Sarinah. Mulai dari mengonsep ulang bisnis modelnya, merefresh brand-nya sampai kepada kurasi produk. “Transformasi tersebut diharapkan mengembalikan Sarinah kepada kejayaannya saat pertama kali didirikan,” ujar Fetty dalam live IG bersama Nina Septiana, desainer di balik merek Nina Nugroho, baru-baru ini.

Dicanangkan pada 17 Agustus 1962, Sarinah memiliki luasan awal 28.864 m2, dan kini meningkat menjadi 32.506,6 m2, lengkap dengan ruang terbuka hijau yang sengaja dihadirkan sebagai spot bersantai, menikmati pertunjukan musik, dan berbagai kegiatan oleh para pengunjung.

Koleksi Herstori by Esensia kini hadir di Sarinah Jakarta (dok. istimewa)

Fetty menyampaikan, meski tampil modern, namun ‘ruh’ Sarinah untuk menjaga keutuhan warisan para pendiri bangsa tetap dipertahankan dengan etnik dan budaya yang kental, terutama interior gedung, dengan sentuhan modern yang estetik.

“Sarinah merupakan department store  pertama, pusat perbelanjaan pertama, dan gedung pencakar langit pertama di Indonesia. Secara sejarah saja sudah sangat kaya, bahwa saat itu Presiden Soekarno membangun Sarinah dengan maksud agar mempunyai wadah untuk mempromosikan produk-produk Indonesia yang dihasilkan oleh masyarakat agar menjadi pelepor ekonomi kerakyatan,” terang Fetty,

Brand Herstori by Esensia yang bernaung di bawah Nina Nugroho, berkesempatan memamerkan produknya di etalase Sarinah, tepatnya di lantai 2. “Kekuatan Herstori by Esensia ada pada kolaborasi antara fashion dengan sejarah,” kata Nina. 

Dalam hal ini Nina Septiana sebagai desainer sekaligus inisiator gerakan #akuberdaya menggandeng Sinta Ridwan, seorang filolog dan mahasiswi S-3 Arkeologi yang mengkonsentrasikan dirinya pada upaya mengalihwahanakan hasil risetnya mengenai sejarah masa lalu yang terbaca dalam manuskrip kuno yang menjadi keahliannya.

“Herstori adalah riset yang dilakukan secara mendalam. Tidak hanya dilakukan berdasarkan catatan sejarah yang telah terbukukan dalam sejumlah literatur, melainkan juga melalui manuskrip kuna dan terjun langsung mengunjungi situs peninggalan para perempuan berdaya tersebut,” terang Nina.

Alasan kolaborasi ini, sebut Nina, karena selama ini sejarah perempuan Indonesia seolah terpinggirkan. ‘Kita sulit menemukan catatan mengenai mereka yang ternyata sejatinya adalah figur luar biasa. Tidak hanya di dalam keluarga, tetapi juga di panggung politik, ekonomi, agama, budaya dan sosial di lingkungan sekitarnya,’’ tutur  CEO NIna Nugroho lugas.

Nina menambahkan, sosok yang diangkat adalah mereka yang meninggalkan bukti-bukti budaya, kehebatan, pemikiran, upaya dan perjuangannya sebagai sosok yang berperan penting bagi segala aspek kehidupan. (HG)