Hidupgaya.co – Ancaman cacar monyet berkembang di negara-negara non-endemik adalah nyata, demikian peringatan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Organisasi di bawah PBB itu menyebut  lebih dari seribu kasus cacar monyet telah dikonfirmasi di negara-negara tersebut.

Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan badan kesehatan PBB itu tidak merekomendasikan vaksinasi massal terhadap virus tersebut, menambahkan bahwa sejauh ini tidak ada kematian yang dilaporkan akibat wabah cacar monyet.

“Risiko cacar monyet berkembang di negara-negara non-endemik adalah nyata,” kata Tedros dalam temu media, Rabu (8/6/2022).

Ilustrasi cacar monyet (dok. istimewa)

Penyakit zoonosis ini endemik pada manusia di sembilan negara Afrika tetapi wabah telah dilaporkan dalam sebulan terakhir di beberapa negara bagian lain—kebanyakan di Eropa – dan terutama di Inggris, Spanyol, dan Portugal.

“Lebih dari 1.000 kasus terkonfirmasi cacar monyet kini telah dilaporkan ke WHO dari 29 negara yang tidak endemis penyakit tersebut,” kata Tedros. “Sejauh ini, tidak ada kematian yang dilaporkan di negara-negara ini. Kasus telah dilaporkan terutama, tetapi tidak hanya, di antara pria yang berhubungan seks dengan pria. Beberapa negara sekarang mulai melaporkan kasus penularan komunitas, termasuk beberapa kasus pada wanita.”

Yunani Rabu kemarin menjadi negara terbaru yang mengonfirmasi kasus pertama penyakit cacar monyet. Otoritas kesehatan negara itu mengatakan kasus penyakit melibatkan seorang pria yang baru-baru ini melakukan perjalanan ke Portugal dan yang berada di rumah sakit dalam kondisi stabil.

Gejala awal cacar monyet termasuk demam tinggi, pembengkakan kelenjar getah bening dan ruam seperti cacar air.

Tedros mengatakan dia sangat prihatin dengan risiko yang ditimbulkan virus tersebut kepada kelompok rentan, termasuk wanita hamil dan anak-anak.

Dia mengatakan kemunculan cacar monyet yang tiba-tiba dan tidak terduga di luar negara-negara endemik menunjukkan bahwa mungkin ada penularan yang tidak terdeteksi untuk beberapa waktu, tetapi tidak diketahui berapa lama.

Perlu diketahui, satu kasus cacar monyet di negara non-endemik dianggap sebagai wabah.

Tedros mengatakan bahwa sementara ini kasus cacar monyet jelas mengkhawatirkan, virus itu telah beredar dan membunuh di Afrika selama beberapa dekade, dengan lebih dari 1.400 kasus yang dicurigai dan 66 kematian sepanjang tahun ini.

“Komunitas yang hidup dengan ancaman virus ini setiap hari berhak mendapatkan perhatian yang sama, perawatan yang sama, dan akses yang sama ke alat untuk melindungi diri mereka sendiri,” desak Tedros.

Suntikan Vaksin

Di beberapa tempat di mana vaksin tersedia, vaksin digunakan untuk melindungi mereka yang mungkin terpapar, seperti petugas kesehatan.

Tedros menambahkan bahwa vaksinasi pasca pajanan/paparan – idealnya dalam empat hari – dapat dipertimbangkan untuk kontak dekat yang berisiko lebih tinggi, seperti pasangan seksual atau anggota rumah tangga.

Tedros mengatakan WHO akan mengeluarkan panduan dalam beberapa hari mendatang tentang perawatan klinis, pencegahan dan pengendalian infeksi, vaksinasi dan perlindungan masyarakat.

Dia mengatakan orang dengan gejala cacar monyet harus mengisolasi diri di rumah dan berkonsultasi dengan petugas kesehatan, sementara orang di rumah yang sama harus menghindari kontak dekat.

Beberapa rawat inap telah dilaporkan, selain dari pasien yang diisolasi, kata WHO pada akhir pekan.

Sylvie Briand, Direktur Kesiapsiagaan dan Pencegahan Epidemi-Pandemi WHO, mengatakan vaksin cacar dapat digunakan untuk melawan monkeypox, sesama orthopoxvirus, dengan tingkat efikasi/kemanjuran yang tinggi.

WHO sedang mencoba untuk menentukan berapa banyak dosis yang tersedia saat ini dan memetakan dari produsen apa kapasitas produksi dan distribusinya. (HG)