Hidupgaya.co – Mommies pasti tahu bahwa susu mengandung gizi lengkap dan memiliki banyak manfaat kesehatan, termasuk menunjang pertumbuhan anak. Karbohidrat utama dalam produk susu adalah laktosa, gula susu yang terdiri dari dua gula sederhana, glukosa dan galaktosa.

Namun, tak jarang sejumlah orang mengalami intoleransi laktosa, karena saluran cerna tidak cukup banyak memproduksi enzim laktase. Padahal, enzim ini sangat dibutuhkan untuk memproses laktosa, yaitu zat gula yang ada di dalam susu. Untuk diketahui, umumnya enzim laktase akan memecah laktosa dalam susu menjadi glukosa dan galaktosa di dalam usus halus. Dua jenis gula tersebut kemudian diserap ke dalam aliran darah melalui lapisan usus.

Nah, saat usus halus kekurangan enzim laktase maka gula susu itu tidak bisa diproses dan diserap, sehingga laktosa akan bergerak menuju usus besar. Selanjutnya di usus besar, laktosa difermentasi oleh bakteri sehingga menghasilkan gas dan asam. Hal inilah yang kemudian memicu munculnya gejala intoleransi laktosa seperti mual, kembung, diare hingga kerap buang gas.

Dikutip dari National Institute of Diabetes dan Digestive and Kidney Disease (2014), gejala intoleransi laktosa yang terus berulang, akan berdampak terhadap pertumbuhan anak, bahkan bisa menyebabkan kekurangan gizi.

Diakui Adam Prabata, dokter umum yang juga Ph.D Candidate in Medical Science, Kobe University, Jepang, kemungkinan sulit untuk mengetahui apakah bayi/anak mengalami gejala intoleransi laktosa atau memiliki alergi susu. “Yang jelas, kedua kondisi tersebut membuat tubuh tidak bisa mendapatkan nutrisi penting yang dimiliki susu dan produk olahannya seperti kalsium, vitamin A, B12, dan vitamin D,” terangnya.

Apakah anak mengalami intoleransi laktosan atau alergi susu, sebut Adam, mereka berpotensi mengalami kekurangan nutrisi lainnya seperti protein pada susu dan produk olahan susu, yang penting bagi pertumbuhan anak.

Adam menjelaskan, salah satu cara untuk memastikan apakah anak mengalami kesulitan mencerna laktosa adalah dengan mengeliminasi semua produk susu dari makanan anak selama dua minggu dan kemudian melihat apakah gejalanya membaik. “Setelah dua minggu, perlahan-lahan perkenalkan kembali produk dalam jumlah kecil setiap harinya untuk melihat apakah gejalanya kembali,” terang Adam seraya menambahkan dokter anak juga dapat menguji intoleransi laktosa dengan tes napas hidrogen.

Lantas, bagaimana mencukupi asupan gizi dari produk susu sapi pada anak yang memiliki masalah intoleransi laktosa? “Anak dengan intoleransi laktosa masih bisa mengonsumsi produk bebas laktosa, di antaranya susu bebas laktosa, keju, dan yogurt,” cetus Adam.

Selain itu, untuk mendapatkan sumber kalsium non-susu, anak bisa mendapatkannya dari sayuran berwarna hijau seperti bayam, brokoli dan kangkung, kacang-kacangan (almond), dan ikan (sarden, salmon). “Hanya saja, pastikan jumlah asupan kalsium dan vitamin D anak sesuai dengan yang direkomendasikan setiap harinya,” beber Adam.

Untuk diketahui, kebutuhan kalsium dan vitamin D harian perlu disesuaikan dengan usia anak. Untuk usia 0-6 bulan butuh 200 mg kalsium dan 400 IU vitamin D; usia 7-12 bulan perlu 260 mg kalsium dan 400 IU vitamin D; usia 1-3 tahun membutuhkan 700 mg kalsium dan 600 IU vitamin D; usia 4-8 tahun butuh asupan 1000 mg kalsium dan 600 IU vitamin D.

Menjawab kebutuhan mereka yang memiliki masalah intoleransi laktosa, Presiden Direktur Cimory Farell Sutantio menyampaikan, Cimory sebagai produsen produk makanan dan minuman kemasan berbasis susu yang mengutamakan riset, inovasi dan ilmu pengetahuan sehingga bisa terus beradaptasi dengan perubahan dan tren yang terjadi. “Intoleransi laktosa dapat membuat anak sangat tidak nyaman, tetapi perubahan kecil dalam pola makan anak dapat membantu mengatasi masalah tersebut,” ujarnya.

“Untuk itu, Cimory merilis produk teranyar, Susu UHT Cimory Bebas Laktosa, hadir sebagai solusi untuk mendukung kecukupan gizi anak yang tidak bisa menoleransi laktosa,” terang Farell.

Susu UHT Cimory Bebas Laktosa dijamin mengandung 100% kebaikan susu sapi namun bebas laktosa, segar, creamy dan manis alami. Hal ini sekaligus memupus kekecewaan umum konsumen ketika mengonsumsi susu bebas laktosa adalah rasa dan teksturnya yang tidak seperti susu biasa.

Tentu ada alasan mengapa Cimory memutuskan merilis susu bebas laktosa. “Sebanyak 95% orang Asia menderita intoleransi laktosa dan Indonesia tercatat sebagai salah satu negara dengan tingkat intoleransi laktosa tertinggi. Hal ini menandakan tingginya kebutuhan produk susu bebas laktosa,” imbuh Lidwina Tandy selaku Marketing Manager Cimory.

“Susu UHT Cimory Bebas Laktosa diproduksi dengan penambahan enzim laktase agar kemudian mudah diserap oleh tubuh menjadi sumber energi, sehingga bagi yang tidak bisa menoleransi laktosa bisa tetap memenuhi kebutuhan nutrisi yang terdapat pada susu dengan aman dan nyaman,” pungkas Lidwina.

Untuk mengetahui lebih lanjut tentang produk Susu UHT Cimory Bebas Laktosa, Mommies bisa kunjungi laman https://cimory.com atau Instagram: https://www.instagram.com/cimoryindonesia/

Tentang Cimory Group

Cimory Group merupakan produsen produk makanan dan minuman kemasan berbasis protein di Indonesia, dengan pangsa pasar terkemuka di yogurt dan sosis premium. Didirikan pada tahun 1993, kerja keras, dedikasi dan kepedulian adalah nilai-nilai dasar yang membangun Cimory sejak awal.

Cimory berusaha konsisten menjawab kebutuhan dan harapan konsumen dan hanya di produksi dengan bahan baku berkualitas dan juga dengan standar keamanan tertinggi yang dijual melalui berbagai kanal modern dan tradisional, layanan pangan dan penjualan langsung.

Cimory Grup berbasis di Jakarta dengan fasilitas manufaktur di Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur yang mengedepankan riset, inovasi dan ilmu pengetahuan untuk bisa menciptakan perubahan di masa depan. (HG)