Hidupgaya.co – Disadari atau tidak, selama ini sejarah perempuan Indonesia seolah terpinggirkan. Kita sulit menemukan catatan mengenai mereka yang ternyata sejatinya adalah figur luar biasa. Tidak hanya di dalam keluarga, tetapi juga di panggung politik, ekonomi, agama, budaya dan sosial di lingkungan sekitarnya.

Padahal, sejarah menjadi bagian yang tak mungkin terpisahkan dari kehidupan kita. Tanpa masa lalu, kita tak pernah ada saat ini. Tan hana nguni, tan hana mangke. Karenanya, sejarah mestinya menjadi cerminan kehidupan kita saat ini.

Berangkat dari hal ini, Nina Septiana melalui brand Esensia by Nina Nugroho berkolaborasi dengan Sinta Ridwan, seorang filolog dan mahasiswi S3 Arkeologi yang mengkonsentrasikan dirinya pada upaya mengalihwahanakan hasil risetnya mengenai sejarah masa lalu yang terbaca dalam manuskrip kuno yang menjadi keahliannya.

Koleksi Nina Nugroho x Sinta Ridwan (dok. istimewa)

“Perempuan pelaku sejarah di abad ke 7 – 15 M adalah cermin itu, yang seharusnya menjadi acuan bagaimana perempuan masa kini juga menjadi pelaku sejarah yang kelak dikenang karena keberdayaannya,” ujar Nina di acara peluncuran HerStori di Museum Nasional Jakarta, baru-baru ini.

Di acara itu sekaligus dilakukan trunk show koleksi HerStori dibawakan oleh 12 mahasiswi dari 11 kampus di Jakarta. Mereka adalah para duta kampus yang diharapkan akan menjadi corong HerStori agar keberadaannya menjadi inspirasi bagi gaya berbusana anak muda.

Nina menekankan, sosok yang diangkat dalam koleksi kolaborasi ini adalah mereka yang meninggalkan bukti-bukti budaya, kehebatan, pemikiran, upaya dan perjuangannya sebagai sosok yang berperan penting bagi segala aspek kehidupan. “HerStori bertekad menjadi jembatan bagi terhubungnya sejarah keberdayaan perempuan di masa lalu dengan upaya melejitkan keberdayaan perempuan di era millennial saat ini, melalui fashion,” terangnya.

Dengan kata lain, imbuh Nina, HerStori adalah kolaborasi antara fashion dengan sejarah. “Sebuah terobosan baru yang belum pernah ada selama ini,” tuturnya.

Nina menyebut, kekuatan utama dari HerStori adalah riset yang dilakukan secara mendalam. Tidak hanya dilakukan berdasarkan catatan sejarah yang telah terbukukan dalam sejumlah literatur, melainkan juga melalui manuskrip kuno dan terjun langsung mengunjungi situs peninggalan para perempuan berdaya tersebut.

Kesempatan sama, Sinta Ridwan menambahkan sebagai periset masa lalu, ia selalu memikirkan wahana untuk membawa kisah-kisah masa lalu dengan cara yang berbeda. “Selama ini saya mengalihwahanakan apa yang saya temukan, gali dan telusuri ke dalam media baru yang dikemas dengan cara kekinian. Bagaimana menyajikan masa lalu dengan menarik perhatian sekaligus menambah referensi baru dengan mengangkat hal-ikhwal yang jarang dikemukakan,’’ ujarnya.

Tahun ini, HerStori akan mengangkat sejarah keberdayaan dari 12 perempuan yang hidup antara abad 7 – 15 M. Pada chapter 1 diperkenalkan sosok Mahendradatta, perempuan yang lahir dengan nama Gunapriya Dharmapatni pada 961 M ini adalah putri raja Sri Makutawangsawardhana dari Wangsa Isyana (Kerajaan Medang) di Jawa Timur. Ia menikah dengan Udayana, raja Bali dari Wangsa Warmadewa. Ia melahirkan Airlangga yang kemudian menjadi raja di Kahuripan, sementara putra-putranya yang lebih muda adalah Marakata Pangkaja yang menjadi raja Bali menggantikan Udayana dan Anak Wungsu yang naik tahta setelah mangkatnya Marakata.

Untuk diketahui, HerStori merupakan bagian dari kampanye Gerakan #akuberdaya yang dinisiasi oleh Nina Septiana dan diluncurkan pada 24 September 2021. Peresmian dilakukan oleh Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) RI Bintang Puspayoga di acara Professional Women’s Week 2021.

Nina Septiana berharap melalui HerStori, perempuan millenial akan tergugah kesadaran dan kecintaan mereka pada sejarah. Pada akhirnya akan menjadikan figur hebat tersebut sebagai inspirasi bagi masa kini dan masa depannya, saat berkarya dan berupaya melejitkan keberdayaannya sendiri. (HG)