Hidupgaya.co – Memberi maaf/memaafkan tampaknya lebih mudah diucapkan namun sulit dilakukan, terutama jika luka yang ditimbulkan teramat dalam dan sulit hilang. Namun menyimpan amarah apalagi dendam tidak hanya merugikan jiwa, namun juga raga/fisik yang berujung pada munculnya beragam penyakit.

Disampaikan Kastini S. Kaspan, Forgiveness Trainer & Well Being Coach, sejumlah orang kesulitan untuk memaafkan karena mereka sadar atas haknya untuk merasa marah dan merasa pihak yang bersalah tidak layak mendapatkan kebaikan. “Ketika mengambil keputusan untuk memaafkan, maka itu artinya kita melepaskan kebencian, sehingga muncul rasa damai,” beber Kastini pada sharing session ‘Pemaafan Untuk Kebahagiaan Diri dan Keluarga’ yang digelar Gerakan #akuberdaya bekerja sama dengan Tempa Trainers Guild (TTG), baru-baru ini.

Ilustrasi memaafkan (dok. istimewa)

Kastini mengakui, dalam kehidupan normal, perselisihan adalah hal yang tidak dapat dihindari. Yang perlu diketahui, tidak bersedia memaafkan, membawa dampak besar terhadap banyak hal.  “Dalam konteks rumah tangga, ketidakmampuan memaafkan ini dapat menimbulkan ketidakharmonisan dalam keluarga, dan tidak jarang berakhir pada perceraian,” terang Kastini.

Bahkan jika tidak terjadi perceraian, situasi tidak memaafkan ini dipastikan menyebabkan terjadinya disfungsi relasi, akibatnya hubungan pernikahan hanya sebatas status. “Apabila terus dibiarkan, orang yang menyimpan rasa sakit hati berlama-lama mencengkeram di dirinya justru  rentan mengalami gangguan kesehatan fisik dan emosi yang tergolong kronis,” beber Kastini.

Dia menambahkan, situasi semacam itu akan menganggu kesehatan jantung, karena terkait dengan hormon kortisol, yang bisa mempengaruhi sistem peredaran darah, hingga sakit telinga. “Jadi pemaafan sangat berhubungan  langsung dengan pencapaian tujuan positif. Sebaliknya  tidak memaafkan menimbulkan efek negatif pada kesehatan mental (afektif dan kognitif) serta menghambat pertumbuhan psikologis dan sosial,” urai Kastini.

Kastini menguraikan, saat orang belum memaafkan, maka aktivitas otaknya seperti orang yang sedang marah, agresif, dan stres. Demikian juga dengan neurotransmitter dan sistem hormonal. Tekanan darah dan peregangan otot lebih tinggi. “Akibat memendam amarah, persentase peningkatan angka kematian mencapai 35 persen, kemungkinan menderita kanker mencapai 70 persen dan sakit jantung hingga 40 persen,” ujarnya.

Membuat keputusan untuk memaafkan berarti kita melepaskan kebencian, yang mana kita memiliki semua hak untuk memilikinya. “Ketika mengambil keputusan untuk memaafkan, maka itu artinya kita melepaskan kebencian, sehingga muncul rasa damai,” imbuhnya.

Kastini menyoroti tentang fenomena angka perceraian meningkat tajam di masa pandemi COVID-19. Menurutnya hal itu bukan disebabkan oleh pandemi. “Dampaknya hanya sekitar 2 persen. Selebihnya penyebab perceraian, tidak lain akibat perselisihan dan pertengkaran yang terus menerus,” ujarnya. 

Mengutip penelitian dari Worthington (2007), orang yang banyak memaafkan akan meningkat kehidupannya secara bermakna, hal itu antara lain disebabkan dengan memaafkan akan membantu  melepaskan diri dari rasa marah, mengurangi depresi, meningkatkan harapan, menurunkan level kemarahan, meningkatkan hubungan spiritual, memperbaiki kepercayaan diri. “Pemaafan  membuat orang yang menyakiti kita melihat lebih jelas sikap tidak adil yang pernah mereka lakukan, sehingga mereka dapat berupaya berhenti atau tidak mengulanginya lagi,” tandas Kastini.

Untuk diketahui, gerakan #akuberdaya merupakan sebuah gerakan yang diinisiasi oleh desainer Nina Nugroho dengan target melejitkan keberdayaan  1 juta  perempuan dalam setahun ke depan. Sejumlah  program telah dilakukan, salah satunya menggelar berbagai edukasi  melalui pemanfaatkan zoom online sharing session  yang dijadwalkan setiap Minggu, jam 10.00- 11.30 WIB. (HG)