Hidupgaya – Varian Omicron dapat menyebabkan banyak kebingungan seiring meningkatnya kasus pilek dan flu di musim hujan. Varian baru virus corona itu menyebabkan gejala yang mirip dengan dua kondisi lainnya.

Sebelum Omicron datang, orang bisa bernapas lega ketika mengalami gejala khas alergi ringan atau pilek ringan. Tetapi dengan adanya varian baru, ada kekhawatiran yang berkembang bahwa gejalanya bisa menjadi indikasi infeksi COVID-19.

Ilustrasi demam (dok. istimewa)

Kepala ahli epidemiologi penyakit menular Universitas Chicago, Emily Landon, mengatakan kepada New York Post bahwa membuat penilaian risiko berdasarkan gejala akan jauh lebih sulit dilakukan karena gejala Omicron dapat disalahartikan sebagai pilek atau flu.

Landon lebih lanjut mengatakan bahwa banyak orang dapat melompat ke kesimpulan yang salah karena mereka akan berpikir bahwa gejala yang mereka alami hanya sesuai dengan kategori pilek biasa, bukan virus corona.

Musim liburan akan didominasi oleh varian Omicron setelah para ahli kesehatan mengkonfirmasi bahwa varian ini telah mengambil alih dominasi Delta di AS hanya dalam hitungan minggu sejak pertama kali terdeteksi di Afrika Selatan. 

“Gejalanya sekarang seperti diagram Venn di mana semua lingkaran tumpang tindih,” kata Landon merujuk tentang tumpang tindih gejala Omicron dengan pilek dan flu kecuali hilangnya rasa dan penciuman, yang masih spesifik untuk COVID-19.

Para ahli khawatir bahwa masyarakat, terutama yang divaksinasi, mungkin mengira bahwa mereka hanya menderita pilek karena rasa percaya diri yang salah dalam menghadapi Omicron, yang diketahui menyebabkan penyakit COVID ringan.

Meskipun dianggap paling menular, varian baru yang masuk kategori variant of concern ini menyebabkan penyakit yang lebih ringan daripada jenis lainnya, berdasarkan studi pendahuluan dari Afrika Selatan dan Inggris, menurut BBC.

Pakar medis mengatakan varian yang baru muncul memiliki afinitas lebih tinggi untuk menargetkan epitel pernapasan bagian atas atau saluran udara daripada paru.” Ini bisa menjelaskan mengapa orang yang terinfeksi dengan jenis ini lebih banyak banyak bersin, atau sesak,” kata Landon.

“Mereka yang divaksinasi dan memiliki gejala ringan seperti pilek cenderung tidak tinggal di rumah sekarang (bisa bepergian), dan mereka dapat menyebarkannya ke orang-orang yang bisa sangat sakit karenanya. Diferensiasi risiko tampaknya cukup besar saat ini,” imbuh ahli epidemiologi.

Bagi Philip J. Landrigan, seorang ahli epidemiologi dan dokter kesehatan masyarakat Boston College, solusi terbaik adalah melakukan tes terlepas dari gejala yang mereka alami. 

Dengan cara ini, orang-orang dapat yakin bahwa mereka tidak membawa virus ke rumah atau menyebarkannya ke orang lain – termasuk yang rentan terhadap penyakit tersebut.

“Alasan untuk dites sekarang adalah untuk ketenangan pikiran. Tetapi alasan yang lebih penting adalah jika Anda pergi ke pertemuan dan ada orang yang rentan. Jika Anda akan pergi ke pertemuan semacam itu, pikirkan tentang melindungi orang-orang di sekitar Anda juga,” tandas Landrigan. (HG)