Acungan Jempol untuk Kiprah 4 Perempuan Peneliti Muda Indonesia di Bidang Sains

on

Hidupgaya – Sains berkontribusi dalam menyelamatkan kehidupan di bumi, baik kehidupan manusia, flora dan fauna – dari makhluk hidup terkecil hingga yang terbesar. Hal ini kembali terbukti saat para ilmuwan bekerja tanpa henti, siang dan malam selama berbulan-bulan dalam mengembangkan vaksin yang dapat membantu mengurangi laju mortalitas akibat virus Covid-19. Berkat sains, kehidupan kita terselamatkan dan kita sekarang bisa bergerak maju menuju tatanan kenormalan baru dengan harapan akan hari esok yang lebih baik.

L’Oréal Indonesia percaya akan pentingnya memajukan sains dan mendukung ilmuwan perempuan melalui berbagai program sains, termasuk program pendanaan riset L’Oréal-UNESCO For Women in Science (FWIS). 

Pemenang L’Oréal-UNESCO For Women in Science 2021 (dok. istimewa)

Diketuai oleh Prof. Dr. Endang Sukara, juri telah menetapkan empat pemenang L’Oréal-UNESCO For Women in Science 2021. Berikut sekilas topik penelitian yang telah membawa empat perempuan tangguh ini memenangkan dana riset bergengsi ini:

Febty Febriani, Ph.D dari Peneliti di Pusat Riset Fisika – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Melihat letak geografis Indonesia yang rentan terjadinya gempa dan tsunami, Febty ingin menganalisis karakteristik heterogenitas kerak di Indonesia untuk mengurangi risiko bencana gempa bumi dan tsunami. Perempuan peneliti ini tengah melakukan analisis pada data geomagnetik dalam rangka memetakan karakteristik heterogenitas kerak bumi Indonesia dan membangun sistem dengan metode yang divalidasi untuk menentukan prakiraan gempa jangka pendek dengan menggunakan data geomagnetik. 

Harapan Febty, metode ini nantinya dapat digunakan sebagai early warning system yang dapat memperkirakan akan terjadinya gempa pada masa yang akan datang. “Melalui sains, saya ingin berkontribusi menyelamatkan kehidupan manusia dengan mengembangkan early warning system prakiraan kejadian gempa dan memetakan heterogenitas kerak bumi Indonesia,” ujarnya.

Fransiska Krismastuti, Ph.D dari Peneliti di Pusat Riset Kimia – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), mengaku memiliki ketertarikan dalam dunia sains berawal di bangku kuliah. Ia melihat bahwa limbah galvanisasi ternyata memiliki khasiat baik bagi penderita luka kronis akibat diabetes dan tertarik untuk meneliti lebih jauh bagaimana limbah ini dapat menjadi solusi penyembuhan.

Ia berharap dapat menggunakan ZnO dari limbah industrial galvanisasi (pelapisan baja) dan pewarna alami ANT dari kol ungu sebagai alat prognostik luka kronis yang mampu mencegah pertumbuhan bakteri pada luka dan mendeteksi kemajuan pada proses penyembuhan luka yang bisa dilakukan secara mandiri oleh pasien. “Melalui sains, saya ingin berkontribusi menyelamatkan kehidupan manusia khususnya penderita luka kronis akibat diabetes dengan memanfaatkan limbah galvanisasi.” tutur Fransiska.

Fransiska Dr. Magdalena Lenny Situmorang dari Kelompok Keilmuan Bioteknologi Mikroba, Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati, Institut Teknologi Bandung, Indonesia. “Melalui sains, saya ingin berkontribusi menyelamatkan kehidupan udang dengan ekosistem perairan yang terjaga guna meningkatkan keberlanjutan industri udang dan menjamin kesehatan manusia,” ujarnya.

Dia meyakini bahwa era ekonomi biru harus mengutamakan pendekatan One-Health, dengan memprioritaskan kesehatan hewan, lingkungan dan manusia. Dalam penelitiannya, Lenny melihat potensi yang besar di bidang akuakultur. Ia  ingin melihat bagaimana mengembangkan budidaya udang yang baik, sehingga tidak hanya memberikan produktivitas yang tinggi, namun dengan tetap mempertahankan kelestarian lingkungan, serta secara sinergis menghasilkan produk udang dengan mutu dan keamanan yang tinggi untuk perlindungan kesehatan manusia. 

“Dengan riset ini saya berharap dapat mendukung industri budidaya udang di Indonesia untuk menjadi lebih tangguh dan berkelanjutan,” tutur Lenny.

Peni Ahmadi, Ph.D dari Peneliti di Pusat Riset Bioteknologi, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), menyadari bahwa Indonesia adalah negara kepulauan dengan garis pantai terbesar ketiga di dunia dan keanekaragaman biota laut yang luar biasa kaya, 

Ia melihat potensi ini dapat dijadikan sebagai sumber bahan obat untuk berbagai penyakit, salah satunya kanker payudara. Melalui penelitian yang ia lakukan, Peni berharap dapat menciptakan terapi yang dapat membantu menyembuhkan kanker payudara tanpa memberikan efek samping yang berbahaya bagi pasien.

“Melalui sains, saya ingin berkontribusi menyelamatkan perempuan dari kanker payudara dengan memanfaatkan biota laut Indonesia yang sangat beraneka ragam,” tandasnya.

 “Keempat proposal penelitian tahun ini dapat menjadi alarm bagi kita semua untuk mulai turut berkontribusi menjawab permasalahan dan tantangan dunia,” ujar Melanie Masriel, Direktur Komunikasi, Hubungan Publik dan Keberlanjutan, L’Oréal Indonesia.

L’Oréal-UNESCO For Women In Science telah diselenggarakan secara internasional selama lebih dari 20 tahun, di lebih dari 52 negara. Di Indonesia, sejak 2004, program ini telah memberikan fellowship dan dukungan dana kepada 63 ilmuwan perempuan. 

Tahun ini, L’Oréal-UNESCO FWIS National memberikan dana riset fellowship kepada 4 ilmuwan perempuan masing-masing Rp100 juta untuk memulai eksplorasinya sehingga dapat memberikan kontribusi penting pada dunia, karena dunia butuh sains, dan sains membutuhkan perempuan. (HG)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s