Ucapkan Selamat Tinggal pada Saraf Terjepit Tanpa Operasi

Hidupgaya – Kita tentu kerap mendengar istilah saraf terjepit. Bukan hanya dialami usia tua, namun kondisi ini juga bisa terjadi pada anak muda.  Pada usia muda umumnya disebabkan oleh cedera dan beban berat pada tulang belakang sehingga menyebabkan penonjolan bantalan tulang atau diskus intervertebralis. Sedangkan pada usia tua disebabkan proses degenerasi, dan hilangnya elastisitas bantalan tulang.

Dikatakan Dr. dr. Wawan Mulyawan, SpBS, SpKP, faktor risiko saraf terjepit – dalam istilah medisnya disebut Hernia Nukleus Pulposus (HNP), cukup banyak, antara lain usia, cedera (baik jatuh akibat kecelakaan atau olahraga), aktivitas dan pekerjaan. “Duduk lama mengangkat ataupun menarik beban yang berat, sering memutar punggung ataupun membungkuk, latihan fisik terlalu berat dan berlebihan beberapa di antaranya dapat memicu HNP,” ujar Wawan dalam webinar yang dihelat Klinik Nyeri DR. Indrajana, Kamis (15/7).

Faktor risiko lain untuk HNP adalah terpapar getaran yang konstan, olahraga berat, merokok, berat badan berlebihan, dan batuk dalam waktu yang lama. 

Saraf terjepit ini dapat menimbulkan beragam gejala bergantung pada lokasi jepitan saraf itu terjadi. Namun pada umumnya dikatakan mengalami  saraf kejepit  apabila mengalami salah satu dari tiga gejala:

1. Komponen sensorik (rasa), misalnya kesemutan, kebas, baal yang terasa di tangan atau kaki.

2. Komponen motorik (gerakan), misalnya anggota gerak melemah.

3. Komponen otonom, misalnya gangguan buang air kecil, dan buang air besar.

Nyeri akibat saraf terjepit dapat mengganggu aktivitas harian penderitanya. Sakit yang konsisten membuat penderita HNP berusaha mencari solusinya. Kabar baiknya, dunia medis sudah berkembang semakin maju dengan adanya Interventional Pain Management (IPM) yang menerapkan teknik-teknik intervensi untuk menangani nyeri subakut, kronik, persisten, dan nyeri yang sulit diatasi, baik secara independen maupun bersama dengan modalitas terapi lainnya.

Menurut Wawan, teknologi IPM dapat berupa injeksi kortikosteroid, radiofrekuensi ablasi, laser, kateter RACZ, endoskopi tulang belakang, dan yang paling terbaru adalah DiscFX. “Semua teknologi ini akan membantu menangani nyeri tulang belakang yang menjadi salah satu keluhan utama penderitanya saat berkonsultasi dengan dokter,” beber Ketua Indonesian Neurosurgical Pain Society (INPS).

Di kesempatan yang sama, dokter spesialis bedah saraf dr. Mustaqim Prasetya, SpBS mengungkapkan, sebelumnya kondisi saraf terjepit perlu ditangani dengan operasi terbuka yang memiliki banyak risiko dan proses pemulihannya lama. “Namun kini saraf terjepit sudah dapat diatasi dengan teknologi invasif minimal tanpa bedah terbuka dengan risiko yang lebih minimal,” ujarnya.

Mustaqim menambahkan, saraf terjepit sudah dapat ditangani tanpa perlu rawat inap, dan proses pemulihannya cepat. “Selain itu, biaya jauh lebih terjangkau dibandingkan operasi terbuka dulu,” bebernya.

Salah satu teknik IPM untuk atasi nyeri tanpa operasi adalah kateter RACZ yang berukuran mikro dan akan dimasukkan ke dalam rongga epidural di tulang belakang. Kateter RACZ ini juga disebut dengan neuroplasty epidural ini akan menghantarkan obat-obatan tertentu untuk membantu mengurangi peradangan atau iritasi saraf sehingga nyeri menjadi berkurang atau mereda. “Prosedur kateter RACZ ini hanya membutuhkan waktu 30-45 menit, sehingga tidak perlu rawat inap sehingga pasien bisa langsung pulang,” ujar dr. Danu Rolian, SpBS.

Teknologi IPM terbaru lainnya adalah teknologi DiscFX yang dapat mengatasi jepitan saraf tulang belakang sehingga nyeri bisa tuntas. “Dengan DiscFX, hanya memerlukan sayatan kecil sehingga biusnya cukup lokal saja dan tanpa rawat inap. Proses tindakan juga cepat dan dapat dilakukan pada beberapa bantalan tulang yang menonjol sekaligus,” ujarnya.

Danu menambahkan, dibandingkan dengan teknologi sebelumnya, DiscFX ini dapat memberikan perbaikan kualitas hidup penderita saraf terjepit lebih baik karena dapat terbebas dari siksaan nyeri akibat saraf terjepit.

Terapi saraf terjepit bisa diperoleh di Klinik Nyeri DR. Indrajana, yang berfokus pada penanganan nyeri tulang belakang dengan teknologi terkini dengan biaya terjangkau. Dikatakan Direktur Utama Klinik Utama DR. Indrajana, dr. Mustapa Widjaja, unit usaha baru ini memberikan penanganan nyeri tulang belakang secara komprehensif dilengkapi dengan beragam teknologi IPM guna menjawab kebutuhan penderita nyeri yang sedang mencari kesembuhan tanpa operasi. (HG)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s