Krisis COVID-19 India Memburuk, Lonjakan Kasus Harian Sentuh 400 Ribu

Hidupgaya – Krisis COVID-19 yang menghancurkan di India semakin memburuk. Pada Sabtu (1/5), terjadi lonjakan lebih dari 400.000 kasus baru dalam 24 jam. Dua bulan lalu menteri kesehatan dengan lantang mengatakan India telah berada dalam “permainan akhir” pandemi dan dengan gagah berani mengirim jutaan vaksin ke luar negeri, tetapi sekarang ekspor telah dihentikan dan orang-orang di negara yang tengah menghadapi ‘tsunami’ COVID-19 sangat ingin divaksinasi.

Kerumunan sekitar 100 orang terbentuk di luar satu rumah sakit Delhi pada Sabtu (1/5) — salah satu dari sedikit yang menawarkan suntikan vaksin COVID-19 kepada mereka yang berusia di bawah 45 tahun. “Ada begitu banyak orang yang jatuh sakit. Jadi kami hanya ingin berada di sini secepat mungkin,” kata salah satu dari mereka yang menunggu, bernama Aadya Mehta (25), kepada AFP.

Hingga saat ini, hanya pekerja “garis depan” seperti staf medis, orang berusia di atas 45 tahun dan mereka yang sudah menderita penyakit yang telah diberi suntikan vaksin COVID-19 AstraZeneca atau Covaxin.

Tetapi bahkan program yang lebih sederhana ini telah tersandung, dengan beberapa daerah kehabisan vaksin dan yang lain membuangnya karena sepinya peminat – sebagian karena beberapa orang takut untuk meninggalkan rumah selama lonjakan baru-baru ini. Sejauh ini, sekitar 150 juta vaksinasi telah dilakukan, setara dengan 11,5 persen dari populasi 1,3 miliar orang. Hanya 25 juta yang mendapatkan  dua dosis lengkap.

Percepatan Vaksinasi

Dengan perluasan peluncuran vaksinasi ke semua orang dewasa, sekitar 600 juta lebih orang sekarang memenuhi syarat untuk mendapatkan vaksinasi, sayangnya banyak negara bagian tidak memiliki vaksin yang memadai.

Jutaan orang muda ketakutan dengan situasi saat ini dan sangat ingin divaksinasi dan telah mendaftar di platform digital pemerintah. Tetapi sangat sedikit dari mereka yang telah diberikan janji temu dan hanya setengah lusin dari 28 negara bagian India yang mulai memvaksinasi orang di bawah usia 45 tahun, dan dalam banyak kasus hanya dalam skala token.

“Separuh keluarga saya positif, jadi semua orang ingin kami divaksinasi,” kata ilmuwan data Megha Srivastava (35), kepada AFP di luar klinik Max, salah satu dari tiga rumah sakit swasta di ibukota India yang memvaksinasi orang yang lebih muda. “Itu (vaksin) tidak akan sepenuhnya melindungi kita, tetapi itu akan memastikan bahwa meskipun kita terinfeksi, kita akan pulih.”

Kebingungan lebih lanjut telah dibuat oleh keputusan pemerintah untuk meminta rumah sakit negara bagian dan swasta untuk memesan pasokan vaksin sendiri. “Kami telah menghubungi Serum Institute of India yang mengatakan mereka akan dapat memberikan dosis hanya setelah enam bulan,” DS Rana, ketua Rumah Sakit Sir Ganga Ram di Delhi, mengatakan kepada harian Hindustan Times.

C.K. Bakshi, seorang dokter di salah satu rumah sakit pemerintah, mengatakan tidak ada masalah dengan pasokan dan memvaksinasi hampir 300 orang setiap hari. Tetapi tidak memiliki izin pemerintah untuk melakukan vaksinasi di bawah usia 45 tahun.

Di Kolkata, Rupak Barua, presiden Asosiasi Rumah Sakit India Timur (AHEI), mengatakan bahwa kekacauan terus berlanjut. Rumah sakit swasta harus mengembalikan semua stok vaksinnya kepada pemerintah, katanya.

Kebijakan Rancu

“Semuanya tampak  membingungkan sekarang,” kata T Jacob John, pensiunan profesor virologi klinis di Christian Medical College Vellore. “Apakah Anda ingin mengendalikan epidemi, menyelamatkan nyawa atau keduanya? Jika menginginkan keduanya, Anda akan memerlukan vaksin dalam jumlah besar. Dan kami tidak memilikinya,” kata John kepada AFP.

Dia dan para ahli lainnya mengatakan bahwa mengingat kekurangan vaksin COVID-19 dan populasi yang sangat besar, India seharusnya memiliki kebijakan yang lebih bertarget, memusatkan vaksinasi di titik api atau episentrum wabah.

Gujarat adalah salah satu dari sedikit negara bagian yang mengatakan mereka akan melakukan vaksinasi bertarget, Menteri Vijay Rupani mengatakan bahwa vaksinasi untuk usia di atas 18 tahun hanya akan terjadi di 10 distrik yang paling parah terkena dampak.

“(Kami) merasa bahwa setelah upaya vaksinasi (tambahan) ini dimulai dengan cara yang dirancang, vaksinasi akan stabil secara bertahap,” kata pejabat kementerian kesehatan Lav Agarwal kepada wartawan, Jumat (30/4). (HG)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s