Alasan Vaksin Covid-19 Ditemukan Lebih Cepat, Ini Rahasianya

Hidupgaya – Vaksin menjadi harapan dalam mengendalikan wabah Covid-19 yang sudah berlangsung dalam kurun setahun dan menginfeksi setidaknya 100 juta warga global. Seluruh dunia berlomba mengembangkan vaksin Covid-19 dan merilisnya dalam tempo (kurang dari) setahun, jauh lebih cepat dari pengembangan vaksin konvensional yang butuh waktu bertahun-tahun.

Menurut pengamat vaksin Djoharsjah, vaksin Covid-19 bisa ditemukan lebih cepat karena sebagian ilmu awal sudah dikantungi para ilmuwan, sehingga saat mulai mencari vaksin Covid-19 ini sudah bukan dari titik nol lagi. Selain itu, dalam dua tiga tahun terakhir, telah terjadi begitu banyak kemajuan teknologi di bidang komputer yang dapat digunakan dalam proses pencarian vaksin sehingga  membantu mempercepat proses.

An employee holds a vial containing CoronaVac, Sinovac Biotech’s vaccine against the coronavirus disease (COVID-19), at Butantan biomedical production center in Sao Paulo, Brazil January 12, 2021. REUTERS/Amanda Perobelli

Lebih lanjut Djoharsjah menjelaskan, temuan vaksin Covid-19 yeng terhitung cepat, juga ditunjang oleh pendekatan manajerial. “Dalam proses normal, upaya pencarian sebuah vaksin baru, tahapan awalnya adalah memastikan bahwa vaksin tersebut aman. Keamanan adalah syarat mutlak. Setelah aman baru kemudian ditinjau efektifitasnya,” kata Djoharsjah dalam diskusi IG Live Nina Nugroho Solution, baru-baru ini.

Guna memastikan keamanan, calon vaksin dilakukan dengan uji praklinis kepada hewan percobaan. “Dari hasil uji praklinis  akan dapat dipastikan, keamanannya bila diujicobakan kepada manusia, yaitu melalui uji klinis Fase 1,  2 dan 3,” bebernya.

Sejak uji klinis Fase 1 – dimana pesertanya adalah manusia dalam jumlah terbatas. Di tahap ini, fokus penelitian pada faktor keamanan. Bila terbukti aman, kemudian dilanjutkan ke uji klinis Fase 2 dengan jumlah orang yang terlibat lebih banyak. “Arah yang dicari bukan hanya memperdalam soal keamanan, tetapi sudah mulai melebar kepada masalah efikasi (kemanjuran) vaksin,” urai Djoharsjah.

Pada uji klinis Fase 3 melibatkan manusia dengan jumlah yang lebih besar dengan tempat penelitian harus lebih dari satu (multicenter). Dalam hal vaksin Sinovac, yaitu vaksin Covid-19 yang mendapatkan izin penggunaan darurat dari BPOM di Indonesia, ujicoba dilakukan Turki, Brazil dan Indonesia dengan sasaran populasi yang berbeda-beda.

Dalam keadaan bukan pandemi, pengamat vaksin ini menjelaskan, hasil uji klinis Fase 1 harus dianalisis terlebih dulu, dan bisa membutuhkan waktu beberapa bulan, sebelum bisa melanjutkan ke uji klinis Fase 2. Demikian pula dengan Fase 2 ke 2. “Namun dalam kondisi pandemi ini dilakukan perubahan manajemen, dimana uji Fase 1 dan 2 dilakukan secara serentak di tempat yang berbeda. Di satu tempat uji dengan protokol Fase 1, lalu dilakukan secara paralel dan independen di tempat lain untuk uji Fase 2,” urai Djoharsjah.

Tentu saja metode ini mengandung risiko. “Risikonya,  kalau dalam uji fase klinis Fase 1 ternyata dinyatakan gagal, maka uji klinis Fase 2 ini dianggap tidak berlaku. Tidak bisa dipakai. Jadi perubahan manajemen itu sudah mempersingkat waktu, karena dia bisa jalan paralel tidak harus saling menunggu. Itulah mengapa vaksin Covid bisa ditemukan lebih cepat, dibanding vaksin lain,” tandas Djoharsjah. (Dokterdigital/HG)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s