Menantang Milenial Garap Lahan Tidur Jadi Cuan, Berani?

Berbuat baik bisa dilakukan kapan saja, di mana saja dan dalam bidang apapun, selama niatnya kuat dan dijalankan dengan sepenuh hati. Hal inilah yang dilakukan Riyadno, seorang socialpreneur asal Tangerang, Banten, yang telah mencetak ratusan petani milenial di sejumlah daerah.

Melalui Smart Farm Academy yang difasilitasinya, Riyadno membantu menyulap lahan tidur menjadi cuan (bisnis yang menguntungkan). “Lewat program  Smart Farm Academy di bawah Yayasan Bina Karakter Bangsa, saya mencari patriot-patriot anak muda milenial dari kalangan mustahik (miskin) untuk dibina menjadi pionir petani di desanya,” beber ayah tiga anak dalam acara IG Live di @Asah Kebaikan, baru-baru ini.

Riyadno (kanan) bersama salam satu petani binaan (ist)

Dalam diskusi itu, Riyadno menjabarkan banyak pembinaan yang dilakukan di Smart Farm Academy, di antaranya selain dilatih keterampilan teknik bertani, berkebun, atau beternak, dan mengolah hasil pertanian, para pejuang milenial dilatih cara mendapatkan lahan tidur, leadership, marketing, hingga spiritual. “Dalam tiga bulan mereka dilatih terkait agribisnis dan setelahnya bisa praktik menjadi petani,” ujar sarjana ekonomi manajemen dari Universitas Muhammadiah Yogyakarta (UMY).

Setelah dinyatakan lulus pembinaan, para pejuang milenial – yang dsebut patriot – diberikan modal stimulus, hibah, untuk menanam sayur atau buah. Namun tidak semua modal bisa digunakan. “Misal modal Rp4 juta,  yang Rp1 juta harus dimasukkan sebagai dana simpanan di koperasi yang dibentuk di desa patriot tersebut bersama petani lainnya,” jelas lelaki kelahiran Purworejo, Jawa Tengah tahun 1979.

Riyadno berharap, program ini dapat membangkitkan pemuda milenial yang ‘terlelap’ sekaligus menyulap lahan tidur menjadi cuan.  “Ada banyak sekali lahan tidur, baik punya individu, instansi pemerintah atau swasta. Misalnya saat ini saja, ada patriot yang berhasil menggarap lahan tidur milik Bapeda Kabupatan Tangerang seluas 9 hektar,” beber pria yang juga mendirikan SMP dan SMA Sirojul Athfal untuk anak-anak dhuafa di Desa Cibugel, Kecamatan Cisoka, Kabupaten Tangerang.

Riyadno menambahkan, tak semua patriot yang lulus ini harus menjadi petani. “Agribisnis ini kan tidak semua harus jadi petani. Bisa juga jadi marketing produk tani, mengolah produk tani. Selain itu juga bisa mengembangkan agrowisata, seperti yang dilakukan patriot di Brojonegoro – kini tengah mengembangkan agrowisata dari kebun pisang kiranamas dan olahan kopi,” ujar pria yang berhasil mengantarkan Binaan Kelompok Tani Ranca Labuh menjadi Pemenang Danamon Sosial Entrepreneur Award 2014.

Tak Semudah Membalik Telapak Tangan

Harus diakui, menjadi petani tak semudah membalikkan telapak tangan. Riyadno pun memberikan tips agar sukses, terlebih di kala rasa jenuh dan putus asa karena gagal, mendera. “Kuncinya supaya tidak putus di tengah jalan, menjadi
petani selain memiliki keterampilan dan pengetahuan, juga harus bergabung dalam komunitas tani untuk bisa saling
sharing, tingkatkan juga spiritual, ini berarti bukan semata rajin solat saja tetapi juga harus berbagi dengan makhluk
Allah lainnya termasuk hama tanaman,” ujarnya.

Soal hama tanaman ini menjadi hal menarik. Biasanya hama dimusnahkan dengan pestisida atau herbisida, namun tidak di tangan Riyadno. “Jadi kalau tanaman pokoknya kacang panjang, tanam juga tanaman lain untuk hama belalang sehingga keseimbangan ekosistem berjalan dan belalang tidak terlalu mengganggu tanaman utama. Selain itu, jangan lupa untuk selalu sedekah dan zakat,” bebernya.

Sarjana ekonomi ini mengawali kiprahnya sebagai social entrepreneur (socialpreneuer) dengan bekerja di bagian
keuangan di sebuah pabrik galvanis. Tak puas sampai di situ, pada 2007 Riyadno kemudian keluar dari perusahaan dan menjadi pedagang singkong. Dari sini dia melihat betapa petani di sekitar Kabupaten Tangerang banyak hidup miskin.
Sehingga wajar  anak-anak mudanya pun tak tertarik menjadi petani karena dianggap bukan profesi menjanjikan.

Tahun 2008, Riyadno mulai membina petani dengan menjadi fasilitator. Saya juga membina UKM konveksi, membina
ternak lele, ya pemberdayaan masyarakat di Kabupaten Tangerang. Di awal dana didapat dari para relawan sejak 2011-2018 lewat Yayasan Bina Karakter Bangsa. Namun sejak 2019, ada donasi dari Inisiatif Zakat Indonesia (IZI).

Hingga saat ini sudah Riyadno sudah membina sekitar 200 petani atau patriot dari 200 desa. “Target saya selama 10 tahun, saya bisa membina 74 ribu pemuda patriot sesuai banyaknya jumlah desa di Indonesia,” tandas Riyadno. (HG)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s