Hidden Hunger: Perut Kenyang Tapi Tubuh Kurang Gizi

Hidupgaya – Pernah dengar tentang hidden hunger alias kelaparan tidak kentara? Data Global Hunger Index pada 2020 menunjukkan Indonesia berada pada posisi 70 dari 107 negara, dan kondisi ini dialami oleh sekitar 20-40 persen masyarakat.

Guru Besar Departemen Gizi Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia Institut Pertanian Bogor, Prof. Dodik Briawan, mengatakan bahwa hidden hunger  berbeda dengan kelaparan biasa yang biasanya dikenali dengan tubuh kurus dan perut buncit. Ciri kelaparan tersembunyi pada anak bisa berupa anak cepat sakit, tumbuh tidak bisa optimal, dan prestasi akademik tertinggal.

Penyebab hidden hunger adalah kekurangan zat gizi mikro, yaitu vitamin dan mineral, antara lain karena kurangnya konsumsi makanan bergizi seimbang, terutama buah dan sayur. Buah dan sayur ini merupakan pangan yang banyakmengandung vitamin, mineral, dan serat pangan yang berperan membantu proses metabolisme tubuh, misalnya berperan dalam  memproduksi energi, memelihara dan perawatan jaringan tubuh, dan membantu tumbuh kembang anak.

“Negara kita memang masih memiliki beban hidden hunger yang besar. Kondisi yang timbul akibat kekurangan zat gizi mikro seperti iodium, zat besi, vitamin A dan zink ini telah menimbulkan beberapa masalah kesehatan yang berkepanjangan,” kata  Prof Dodik di diskusi daring yang dihelat Royco, bumbu masak produksi PT Unilever Indonesia Tbk, Senin (25/1).

Riset Kesehatan Dasar 2018 memperlihatkan 48,9 % ibu hamil menderita anemia, dan Riset Kesehatan Dasar 2013 melaporkan bahwa 14,9% anak usia sekolah berisiko kekurangan iodium. Masyarakat  masih abai akan masalah ini, karena meskipun makanan yang dikonsumsi tidak memenuhi kebutuhan nutrisi tubuh, penderitanya tidak merasa kelaparan karena asupan gizi makronya sudah terpenuhi. “Jadi asal kenyang. Jika tidak segera mendapatkan perhatian, akan berdampak pada kualitas sumber daya manusia dalam jangka panjang – baik secara fisik maupun psikis,” ujar Prof. Dodik.

Masalah kelaparan tersembunyi bisa terjadi di beragam tahapan usia – anak-anak hingga dewasa –  jika dibiarkan dan tidak ditangani akan berdampak jangka panjang, misalnya menurunkan kecerdasan anak atau memicu lingkaran setan anemia.

Asupan zat gizi mikro dapat dipenuhi dengan memastikan sajian makanan beragam di rumah sejak dini. Sayangnya, langkah krusial ini masih belum dilakukan banyak orangtua. Menurut dokter spesialis gizi klinik Diana F. Suganda, untuk mencegah dan mengatasi kelaparan tersembunyi, orangtua perlu memperkaya pengetahuan dan kreativitas dalam memenuhi nutrisi seluruh keluarga dengan menyertakan bahan bergizi di tiap masakan, termasuk garam beriodium.

“Kekurangan mineral iodium selama ini dikaitkan dengan penyakit gondok. Padahal, dampak dari kekurangan iodium jauh lebih luas dan dapat terjadi pada semua usia. Kekurangan iodium dapat mengakibatkan perkembangan otak terganggu sehingga menurunkan kecerdasan anak,” ujar Diana.

Diperkirakan, 20 juta orang Indonesia menderita GAKI (Gangguan Akibat Kekurangan Iodium), yang mengakibatkan hilangnya IQ setara 140 juta poin. “Maka, pemenuhan kebutuhan iodium harus diperhatikan dari hulu ke hilir, sejak 1.000 hari pertama kehidupan atau di dalam kandungan, hingga ke tahapan usia selanjutnya,” saran Diana. Salah satu cara memenuhi asupan mineral penting ini adalah mengonsumsi garam yang mengandung iodium dalam makanan harian, demikian dikutip dari Dokterdigital.com. (HG)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s